My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
86. Mengejar


__ADS_3

“Ke mana Lia pergi?!” sentak David sesampainya di kediamannya. Dia berteriak sembari menggebrak meja kerja Mula.


“Aku tidak tahu. Lagipula siapa Lia itu?” jawab Mula dengan tenang.


“Jangan bohong! Aku tahu Mama sudah menemuinya kemarin malam!”


“Baiklah.” Mula tersenyum miring. “Aku akan berkata jujur.”


Setelah Amelia, rupanya masih ada Mula yang selalu menguji kesabaran David. Perkataan Mula bertele-tele.


“Tapi, Nak, kamu jangan hancur karena perkataanku. Jadi kuat-kuatkan hatimu,” tambah Mula.”


“Apa maksud Mama?” David mulai merasa cemas.


“Memangnya apa yang kamu kira?” Mula malah memancing David.


“MA!” jerit David. Wajahnya mulai memerah. Hampir saja dia meneteskan air mata. “Jangan bilang kalau Mama sudah membunuh Lia seperti yang Mama lakukan kepada kekasih kakakku.”


“Apa kamu menilaiku seburuk itu? Aku sudah mengatakannya berkali-kali, aku tidak pernah membunuh kekasih kakakmu.”


“Itu lebih baik kalau itu memang benar. Berarti Mama juga tidak akan membunuh Lia. Kalau begitu katakan di mana Lia berada.”

__ADS_1


“Apa kamu benar-benar sudah meneguhkan hatimu?”


“MA!”


“Baiklah. Baiklah.” Mula tertawa seakan baru menggoda anak kecil.


“Aku memang menemuinya kemarin malam, tapi aku tidak tahu di mana dia sekarang,” kata Mula jujur.


“Itu tidak mungkin. Selama itu berhubungan denganku, Mama tidak mungkin tidak tahu.”


“Tapi sekarang dia tidak memiliki hubungan apa pun denganmu. Dia sudah meninggalkanmu setelah menerima dua ratus juta dariku. Jadi sekarang kamu tidak perlu mencarinya dan fokus saja pada pertunanganmu.”


“Aku tidak peduli jika dia meninggalkanku. Maka akulah yang akan mencarinya.”


“Apa kamu berpikir perempuan itu akan baik-baik saja kalau kamu melangkahkan kakimu pergi dari tempat ini untuk mencarinya?” ancam Mula.


“Mama mengancamku dengan sesuatu yang berharga bagiku. Maka aku juga mengancammu dengan sesuatu yang berharga bagimu: diriku,” balas David.


“Kenapa kamu bisa begitu yakin akan nilaimu di mataku?”


“Bagaimanapun aku ini masih anakmu.”

__ADS_1


Akhirnya David pun bergegas pergi untuk mencari Amelia. Meski sangat kesulitan karena seluruh orang di sekitarnya berada di bawah kekuasaan Mula, David tidak akan menyerah begitu saja.


Sesudah David pergi, Dagel pun memasuki ruangan mula. Sebenarnya dia sudah mendengarkan seluruh perdebatan antara ibu dan anak itu dari depan pintu.


“Lalu apa langkah kita selanjutnya? Kita tidak bisa membiarkan David mencari perempuan itu,” kata Dagel panik.


“Biarkan saja David mencari perempuan itu.”


“Tapi, Kak ….” Dagel merasa keberatan.


“Biarkan saja David terus mencari perempuan itu, tapi dia tidak akan menemukan perempuan itu.”


“Apa maksud Kakak?”


“Perempuan itu tidak akan pernah ditemukan karena dia bernasib sama seperti perempuan parasit yang mengganggu kehidupan putra sulungku.”


“Apa … apa maksud Kakak … aku harus membunuhnya?”


Mula tidak menjawab. Dia hanya tersenyum miring.


***

__ADS_1


Hari menjadi pagi saat Amelia bangun di tempat kosnya. Tidak ada apa pun dan siapapun di sekitarnya. Hanya ada kasur keras, lemari, dan tas yang biasa di bawahnya. Sebenarnya Amelia tidak hilang hanya bersama bayangannya. Dia masih belum melupakan kedua ponselnya.


Amelia tidak menyesal telah mengambil keputusan ini. Dia hanya kecewa karena tidak bisa menepati janjinya. Dia yakin kebahagiaan yang akan diraihnya tidak akan bisa dibandingkan dengan kekecewaan itu. Kebahagiaannya akan lebih banyak dibandingkan kekecewaan itu. Lagipula kebersamaannya dengan David tidak akan melahirkan kebahagiaan apa pun. Jika pun ada kebahagiaan, itu hanya kebahagiaan sementara. Karena kebahagiaannya yang sebenarnya berada di Indonesia. Bersama seseorang yang paling berharga baginya.


__ADS_2