
21+
Sofia bertingkah tidak seperti Amelia. Perempuan itu sangat berani. David bahkan terperangah melihatnya.
“Kamu bilang kamu bukan Ameliaku. Jadi kenapa aku harus melakukannya?”
“Maka kamu bisa menganggapku sebagai Ameliamu. Lagipula wajah kami sama saja.”
David diam menimbang pilihannya. Sebelum keputusan dipilihnya, tangan Sofia sudah memegang lengannya. Perempuan itu menundukkan kepalanya dan bersiap untuk mencium David. David tidak bisa berpikir lagi. Dia pun bangun.
Sofia mendongak. Dia melihat David keheranan. Tiba-tiba David menunduk dan mencium bibir Sofia. Itu bukan sekadar ciuman. David bahkan mulai mengarahkan dirinya ke kegiatan yang lebih dari itu. Tangannya mulai membuka kancing kemeja Sofia satu per satu. Setelah kemeja itu turun, ciuman David mulai menurun. Bibirnya mulai merayap ke leher bagian belakang Sofia dan menuju punggung. Tiba-tiba David menghentikan kegiatannya. Wajahnya menjadi pucat.
“Ada apa? Kenapa kamu berhenti?” tanya Sofia keheranan.
David tidak menjawab. Dia langsung mundur sehingga menabrak kursi di belakangnya dan terjatuh ke atas lantai. Brak!
Sofia terkejut. Dia pun turun dari meja untuk membantu David.
“Kamu kenapa?” tanya Sofia lagi.
Kediaman David terpecahkan oleh suara telepon di atas meja. David pun bangun untuk mengangkat telepon itu.
“Pak, ada Tuan Rico Bintara yang ingin menemuimu.”
Bola mata David dan Sofia membelalak bersamaan. Entah perempuan ini adalah Sofia dan Amelia, tidak akan baik-baik saja jika Rico memergoki apa yang mereka lakukan baru saja.
__ADS_1
“Kalau begitu suruh dia masuk,” jawab David sebelum menutup teleponnya.
“Apa yang kamu lakukan?” protes Sofia.
“Mau bagaimana lagi? Kalau aku menolaknya, dia mungkin akan curiga.”
“Tidak bisa begini. Berikan jasmu sekarang,” Sofia menadahkan tangannya.
“Untuk apa?”
“Apa kamu tidak bisa melihat warna merah di tubuhku?”
Ah, benar. Bagian leher Sofia penuh dengan warna merah karena bibir David tertular lipstik dari bibir Sofia. David pun segera melepaskan jasnya dan memberikannya kepada Sofia.
“Lalu bagaimana dengan bibirku?”
“Gunakan ini sebagai tisu.” Sofia memberikan kertas itu kepada David. “Jika suamiku datang, aku akan mengalihkan perhatiannya dan membawanya segera pergi dari tempat ini. Kamu cukup menunjukkan punggungmu saja.”
David pun melakukan seperti yang Sofia berikan. Karena meski telah menggosok bibirnya, lipstiknya tidak sempurna hilang.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Rico keheranan setelah memasuki ruangan David.
“Oh … aku sedang menawarkan diriku untuk menjadi model,” jawab Sofia berkata jujur.
“Kenapa tiba-tiba? Kamu bahkan belum merencanakannya denganku.”
__ADS_1
“Setelah apa yang terjadi beberapa hari ini, bagaimana aku bisa mengatakannya. Aku khawatir kamu akan melarangku.”
“Kenapa aku harus melarangmu?” Rico memeluk Sofia. Dia mengusap kepala Sofia dengan lembut. Dia benar-benar memamerkan kemesraannya. “Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau.”
Seperti yang Sofia rencanakan, Sofia pun mulai membujuk Rico untuk segera pulang. Tentu saja Rico menyetujuinya dengan mudah. Permainan ini dialah yang menulis aturan.
Sesampainya di rumah, mereka langsung pergi ke ruang bawah tanah. Di sana, Rico mendorong Sofia ke dinding lalu menguncinya dengan dirinya. Tiba-tiba Rico mencium Sofia dengan ciuman yang kasar.
Sofia terkejut, tetapi dia berhasil mengunci mulutnya. Kemudian Sofia berusaha keras mendorong Rico untuk melepaskan dirinya.
“Apa yang kamu lakukan?!” sentak Sofia.
“Apa yang kamu lakukan?!” Rico membalikkan pertanyaannya. “Apa kamu tidak tahu kalau kakakkmu adalah pencium yang hebat?”
Sofia melirik sinis. Sudah diduga, Rico selalu mengerti jalan permainannya. Tiba-tiba Sofia yang bergantian mendorong Rico ke dinding. Kemudian Sofia mencium Rico dengan ciuman yang lebih kasar.
***
Setelah kepergian Rico dan Sofia, David jatuh lemas di atas kursi. Kepalanya menunduk, seakan-akan tidak ada tenaga yang mengisi lehernya.
“Dia bukan Amelia,” gumamnya.
Saat mencium leher Sofia, sebenarnya David tengah melihat punggung Sofia. Di punggung Amelia, David menemukan sebuah tanda lahir. Namun, di punggung Sofia David tidak menemukan apa pun. Punggung itu begitu bersih.
“Apa yang sudah kupikirkan?” gumam David lagi. Dia menyesal telah berpikir kalau Sofia adalah Amelia. Bukti jelas sudah ada, tetapi David malah mengabaikan semua itu dan tetap mengukuhkan keyakinannya.
__ADS_1
Bahkan setelah mendapatkan jawaban dari pembuat gelang itu, tidak ada yang berubah. Gelang itu memang diciptakan tidak hanya satu di dunia, melainkan dua.
***