My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
17. Sebuah Tawaran 3


__ADS_3

“Jadi apa urusanmu denganku?” tanya Amelia terus terang.


David sangat senang. Untuk kesekian kalinya dia menang.


“Pertama, maafkan aku karena sudah berburuk sangka kepadamu kapan hari,” kata David dengan nada memerintah.


Amelia merasa kesal. Bisa-bisanya laki-laki itu mengakui penyesalannya dengan nada angkuhnya?


Amelia menyesal telah datang ke pesta itu. Namun, penyesalan terbesarnya adalah karena telah bertemu laki-laki itu.


Amelia mengembuskan napasnya. Dia diam sejenak untuk menenangkan dirinya dan menahan kekesalannya. Pelanggan adalah raja, tetapi David adalah dewa. Untuk saat ini, laki-laki itulah yang akan menentukan nasibnya.


“Lalu?” tanya Amelia.


Tiba-tiba David menyerahkan kartu namanya kepada Amelia. Amelia mengangkat alis sebelahnya, mengisyaratkan bahwa dirinya sedang bertanya-tanya. Akan tetapi, David hanya diam dengan senyuman lebar.


“Apa?” Akhirnya Amelia mengeluarkan suaranya.


“Itu kartu namaku,” jelas David. Dia menunjukkan selembar kartu nama yang dipegang Amelia.

__ADS_1


“Maksudku, kenapa kau memberikannya padaku?”


“Sebelumnya kita telah saling salah memahami masing-masing karena kita tidak mengenal satu sama lain. Tapi sekarang aku sudah mengenalmu, meski tidak langsung darimu, dan aku mengenalkan diriku agar kau juga mengenalku.”


“Lalu?”


“Ayo kita tidur bersama.”


Kedua mata Amelia langsung terbuka lebar. “Apa maksudmu?” tanyanya berbisik karena malu. Kemudian dia melihat ke sekitarnya. Untungnya karena restoran ramai, tidak banyak orang yang mendengarnya. Hanya beberapa orang di sekitarnya, tetapi mereka langsung mengabaikan.


“Bukankah sudah jelas. Aku—“ Amelia langsung membekap mulut David dengan kedua tangannya.


Berbeda dengan Amelia, David malah tersenyum karena tangan Amelia menyentuh bibirnya. Amelia memang tidak melihat senyum itu karena mulut David tertutup tangannya.


Tak lama, Amelia melepaskan tangannya. “Ayo keluar,” katanya berbisik. Kemudian dia langsung menarik lengan David dan membawanya keluar dari restoran.


Di luar restoran, Amelia menoleh ke sana kemarin untuk mencari tempat yang cocok untuk berbincang. David ikut saja apa yang dilakukan Amelia. Dia masih melihat tangannya yang dipegang Amelia tanpa melepaskan senyumnya.


“Di mana mobilmu?”

__ADS_1


“Apa?” Akhirnya David melepaskan arah pandangannya dari tangan Amelia.


Amelia heran dengan kata ‘apa’ yang David katakan. Kemudian dia menyadari bahwa dia masih memegang tangan David. Dia pun langsung melepaskan tangannya.


“Kenapa kaulepaskan?” David memprotes.


“Aku malah bertanya-tanya kenapa aku memegangnya,” sahut Amelia keheranan.


“Padahal lebih bagus seperti ini.” David menarik tangan Amelia dan menempelkannya pada lengannya, seperti saat Amelia memegang tangannya.


“Itu yang terburuk menurutku.” Amelia langsung menarik tangannya.


Amelia diam sejenak. Dia bingung mau memulai percakapan dari apa. Setelah melihat dalam restoran dari kaca, dia langsung mengingat rasa malunya beberapa saat lalu.


“Kenapa kau mengatakan ‘ayo kita tidur bersama’ keras-keras di sana tadi?” tanya Amelia.


“Aku mengatakan ‘ayo kita tidur bersama’ karena aku memang mengajakmu tidur bersama,” jawab David terus terang. Dalam hati dia kegirangan karena berhasil menggoda Amelia. “Kalau tidak mengatakan seperti itu, lalu aku harus mengatakan seperti apa? ‘Ayo kita bangun bersama?’ Hm …. Tidak buruk juga.”


“Setidaknya kecilkan suaramu!” tegas Amelia.

__ADS_1


“Kenapa? Apa kau malu?” David tertawa geli. “Kaubilang sudah dari kecil tinggal di sini. Seharusnya kau tahu kalau di negara bebas ini, orang-orang sudah biasa mengatakan—“ Amelia langsung membekap mulut David lagi.


__ADS_2