
Amelia langsung melemparkan tangan David dari wajahnya. “Kamu benar-benar gila sekarang,” timpalnya. Kemudian membelok arah untuk pergi dari tempat ini.
“Karena itu aku akan menyebarkan foto itu ke pemberitaan. Dengan begitu nama David akan tercoreng dan dia akan jatuh dari singgasananya,” kata Rico akhirnya menahan langkah Amelia.
Amelia pun berbalik. “Apa kamu gila?!” pekiknya.
Wajah tampan Rico kembali. Dia tersenyum, tetapi seperti orang gila. “Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau aku gila?”
“Bukankah Mula sudah mati? Seharusnya itu cukup. Kenapa kamu masih ingin menghancurkan yang lain lagi?”
“Tidak. Kematian Mula tidak cukup bagiku. Itu tidak menyelesaikan penderitaan yang kurasakan sepanjang hidupku. Apalagi melihat ketenangan David membuat hatiku tertusuk-tusuk. Dia harus merasakan lebih dari apa yang kurasakan.”
“Bukankah karena itu aku datang padamu? Luka yang kutinggalkan pada David seharusnya cukup untuk itu. Jadi kumohon hentikan niatmu itu.”
“Tidak. Apa yang sudah kamu lakukan tidak cukup untukku. Karena kamu bukan Sofiaku. Wajah kalian memang sama, tapi malah membuatku jijik kepadamu. Jadi jangan pernah berani memohon kepadaku untuk David! Aku bahkan belum memberikan pengampunanku padamu. Jangan lupa, awal dari masalah ini adalah dirimu. Jika bukan karenamu, maka Sofiaku masih di sampingku bersama satu atau dua anak kami.”
“Jika kamu melakukan itu, kamu tidak akan mendapatkan apa pun. Kakakku tidak akan bangkit kembali. Aku benar-benar menyesal kepadamu, tapi ….”
“PERGI!”
“Ri-rico ….”
__ADS_1
“Aku akan menghancurkan David setelah satu minggu. Selama itu kamu bisa melakukan apa pun untuknya. Kamu bisa berusaha mencegahku kalau bisa, tapi kusarankan agar kamu menggunakan waktu itu untuk berada di sisi David. Karena setelah seminggu, jangankan di sisinya, dia bahkan takkan melihatmu lagi.”
“A-apa yang sebenarnya akan kamu lakukan?”
“PERGI!”
“Ri-rico ….”
“Pergilah sebelum Dodik mendengarkan kita ….”
Amelia kehilangan kata-kata. Jika sudah menyangkut Dodik, seisi dunia pun akan diberikannya. Dia pun berbalik, lalu berjalan-jalan. Akhirnya dia pergi dari rumahnya tanpa arah tujuan. Dia terus berjalan. Tanpa sadar dia malah berhenti di taman.
Di taman itu, Amelia melihat David termenung di tempat biasanya. Dia tidak menyangka laki-laki itu masih di sini meski tidak berhubungan lagi dengannya.
David tengah duduk. Tangannya menyatu di atas paha. Tatapannya terlihat sendu. Wajahnya sayu karena menahan air mata di dalamnya.
Awalnya Amelia ragu untuk menampakkan wajahnya setelah apa yang dilakukannya kepada Mula. Akhirnya dia memberanikan diri mendekati David. Lagipula David tidak akan tahu kejadian di hotel sebenarnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Amelia menyapa. Dia pun duduk di samping David.
“Tidak ada,” jawab David.
__ADS_1
“Lalu kenapa kamu kemari?” tanya Amelia lagi.
“Lagipula tidak ada yang bisa kulakukan.” David terlihat putus asa.
“A-apa yang terjadi padamu?” Amelia bersikap bodoh.
“Apa kamu belum mendengarnya? Kabar ini sudah tersebar di mana-mana.”
“Ka-kabar apa? Sebenarnya … aku sakit beberapa hari ini dan tidak keluar kamar sekalipun,” kata Amelia berbohong—tapi jujur juga, sih (.
“Mamaku meninggal,” kata David.
Amelia bingung harus bereaksi apa. Dia tidak bisa terkejut karena dia sudah tahu sebelum David mengetahuinya. Amelia pun menunduk untuk menyembunyikan wajah gelisahnya.
“Ma-maafkan aku ….”
David menoleh. Dia tidak mengerti untuk apa Amelia menyesal.
“Sudah membunuh ibumu.”
***
__ADS_1