My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
53. Berkhianat Lagi


__ADS_3

David hanya mengirimkan pesan kepada Amelia kalau dia tidak akan pulang malam nantinya hari yang lalu. Akan tetapi, dia malah tidak pulang sampai berhari-hari. Dia menetap di hotel selama itu tanpa mengirimkan pesan lagi kepada Amelia. Dia benar-benar mengabaikan Amelia.


David masih tidak tenang saat mengingat Amelia. Dia sangat mencintai Amelia, karena itu dia sangat menginginkan Amelia. Meski Amelia sudah menjadi miliknya, dia tidak akan menyentuh perempuan itu, karena perempuan itu mendatanginya dengan terpaksa: hanya karena harga dirinya yang sudah dihancurkan. David tidak akan memaksa Amelia untuk kedua kalinya: menjadi miliknya hanya sebagai balas budi.


Selama beberapa hari itu, David kerap menatap layar ponselnya yang menampilkan titik merah. Itu adalah titik keberadaan Amelia. David sengaja memasang pelacak di ponsel Amelia. Itulah kenapa dia memberikan syarat pada Amelia untuk selalu membawa ponselnya.


Selama beberapa hari itu, titik itu selalu diam di tempat. Amelia memang tahu batasan-batasan dirinya. Tiba-tiba titik merah itu berjalan. Membedakan diri dari beberapa hari yang lalu. David terus mengawasi titik merah itu. Mungkin saja Amelia hanya pergi ke tempat terdekat untuk menghilangkan rasa bosannya. Akan tetapi, titik itu malah berjalan semakin jauh. David menjadi semakin tidak tenang. Dia pun langsung menghubungi sekretarisnya untuk mencari tahu apa yang Amelia lakukan. Tak berapa lama, sekretarisnya menghubunginya lagi.


“Apa?!” David sangat terkejut saat medengar jawaban dari sekretarisnya.


“Lalu apa yang sebenarnya mereka lakukan?”


Setelah mendapat jawaban terakhir dari sekretarisnya, David langsung membanting ponselnya. Antara cemas dan kesal.

__ADS_1


Menurut sekretarisnya, Amelia tengah bertemu dengan seseorang di sebuah restoran. Namun, rupanya restoran itu sudah dipesan sepenuhnya oleh Alex sehingga tidak ada siapapun yang bisa memasukinya selain Amelia dan Alex.


David kebingungan di tempat. Tak lama, dia pun langsung bangun. Dia tidak bisa terus berdiam saja. Dia harus berbuat sesuatu.


***


Semenjak awal, Amelia tidak memiliki niat untuk mengecewakan David dengan keluar dari apartemen dan bersikeras menemui Alex. Alex juga tidak membuatnya tertekan dengan mengirimkan banyak pesan permintaan. Laki-laki itu tidak pernah mengirimkan pesan lagi kepada Amelia. Amelia sengaja keluar rumah karena merasa kesal atas perlakuan David. Laki-laki itu tidak pernah pulang sekalipun. Amelia bertanya-tanya apa kesalahan yang sudah dilakukannya. Akan tetapi, bagaimana Amelia bisa melakukan kesalahan sedangkan dia jarang bertemu David.


Berbeda dari Gerald sialan itu, Alex seperti biasa: tidak mengecewakan Amelia. Saat Amelia datang, Alex sudah duduk manis di kursinya, tidak membuat Amelia harus menunggu lama. Laki-laki itu melambaikan tangannya dengan tersenyum tipis.


“Lama tak berjumpa,” sapa Alex setelah Amelia duduk.


Amelia hanya membalasnya dengan tersenyum tipis. Meski sebelumnya sempat saling melambaikan tangan, sejujurnya Amelia merasa canggung saat ini. Lagipula dia dan Alex tidak pernah memiliki hubungan akrab layaknya kawan. Dulu hanya sebatas pelayan dan bos, sekarang dua orang yang tidak memiliki hubungan baik.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Amelia terus terang. Tiba-tiba saja dia ingin segera pergi dari tempat ini.


“Bagaimana kalau kita pesan makanan dulu?” tawar Alex sembari mengulur waktu.


“Oh, tidak perlu. Sebelum ke sini aku sudah makan di rumah. Perutku sudah tidak memiliki ruang rasanya,” tolak Amelia berbohong. Jelas-jelas dia tidak nafsu makan beberapa hari ini. Dia sudah terbiasa dengan masakan David.


“Oh, begitu?” Alex menjadi sedih. Dia menunduk.


“Jadi?”


“Oh.” Alex langsung mendongak. Kemudian diam sejenak. Bersiap-siap mengatakan sesuatu pentingnya.


“Aku minta maaf,” kata Alex akhirnya.

__ADS_1


***


__ADS_2