
21+
Pelan-pelan mata Amelia terbuka. Samar-samar dia melihat seorang laki-laki di hadapannya. Perlahan terjenihkan, laki-laki itu adalah Rico. Dilihat dari koper di tangannya, rupanya laki-laki itu baru pulang. Amelia pun bangun, tetapi dada telanjangnya yang malah terlihat. Dia pun langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Apa yang terjadi?” Amelia keheranan. “Ke-kenapa bajuku—“
“Apa kamu pikir aku yang akan melepaskannya?” sahut Rico sinis.
Amelia menunduk. Itu tidak mungkin. Rico bahkan merasa jijik dengannya karena memiliki wajah yang sama dengan Sofia. Amelia berusaha mengingat kejadian semalam. Tak lama, dia pun membelalakkan matanya. Kamu sudah gila, Lia! batin Lia.
“Aku-aku bisa jelaskan ….”
Tiba-tiba ponsel Amelia berdering.
“Angkatlah dulu,” titah Rico. Kemudian dia melepaskan sepatunya untuk berbaring di ranjang bagian samping Amelia. Ranjang itu sangat besar sampai mereka tidak akan bisa berdekatan.
Amelia yang masih memegang selimutnya itu bergeser pelan-pelan untuk mengambil ponselnya yang berada di atas lemari kecil di samping ranjangnya. Baterai ponsel itu penuh. Entah kapan baterai ponsel itu diisi.
“Dengan siapa?” tanya Amelia karena panggilan itu dari nomor baru.
__ADS_1
“Ini aku Mula.”
“Ada apa?”
“Mari kita bertemu di hotel. Aku akan mengirimkan alamatnya.”
Mula mematikan panggilannya sebelum Amelia mengatakan iya. Rupanya Mula tidak menerima penolakan Amelia.
“Mula mengajakku bertemu di hotel. Apa yang harus kulakukan?” tanya Amelia kepada Rico.
“Bukankah kamu selalu melakukan apa pun yang kamu mau? Terserahmu lah,” sindir Rico sinis.
Setelah sekian lama, akhirnya Amelia menatap Mula dengan wajah ketakutan. Mula tidak melukis ketenangan pada wajahnya seperti biasa. Tatapannya setajam pedang.
“Sudah cukup sandiwaramu itu, aku akan mengakhirinya hari ini!” tegas Mula.
“Sandiwara apa yang kamu maksud?” tanya Amelia. Dia berusaha mengatakannya setenang mungkin.
“Apa kamu terlalu banyak bersandiwara sampai melupakannya? Kamu tahu jelas kalau aku tidak pernah menculikmu. Apa sekarang kamu puas sudah menghancurkan kehidupan putraku?”
__ADS_1
“Apa maksudmu sebenarnya?”
“Kenapa kamu sedikit bicara sekarang, sedangkan kamu bisa mengatakan banyak hal kepada putraku? Kamu bahkan mengatakan sesuatu yang tidak ada, seperti akulah pelaku penculikan itu.”
“Tapi aku tidak mengatakan apa pun kepada David. Dia hanya menolongku dan segera pulang. Aku bahkan tidak tahu siapa pelaku penculikanku.” Amelia menjadi panik. Rupanya bukan hanya dirinya yang dirugikan dalam penculikan ini.
“Apa kamu pikir aku akan percaya?
Tiba-tiba Mula mengeluarkan sebilah pisau dari belakang tubuhnya. Dia tersenyum menyeringai. Baik pisau itu atau wajah itu, keduanya sama-sama menyeramkan. Tubuh Amelia mulai bergetar. Dia pun bangun dan berjalan mundur, tetapi Mula mengikutinya.
“A-apa yang akan kamu lakukan?” tanya Amelia tergagap-gagap. Dia berjalan pelan-pelan ke arah pintu.
“Tentu saja tidak seperti yang kamu pikirkan.” Mula terlihat seperti orang gila.
Itu tidak mungkin. Dengan keadaan Mula saat ini, perempuan itu bahkan bisa membunuh siapapun. Sialnya pintu kamar itu terkunci. Amelia tidak bisa keluar dari sana dan Mula sudah memojokkannya.
“Tu-tunggu.” Amelia mencoba menahan Mula dengan telapak tangannya. “Hidupmu tidak akan membaik dengan melakukan ini. Aku akan membantumu untuk berbicara dengan David setelah ini.” Amelia berusaha membuat negoisasi.
“Lagipula hidupku sudah hancur. Sedikit lagi kematian akan menghampiriku. Jadi apa yang yang aku takutkan?”
__ADS_1
Mula langsung mengayunkan tangannya yang memegang pisau. Amelia tidak bisa diam saja. Dia berhasil memegang pergelangan Mula sehingga pisau itu berhenti di atas. Pisau itu terus bergoyang karena kedua tangan itu saling tarik-menarik. Semakin lama, pisau itu semakin menurun sampai akhirnya pisau itu menancap pada dada Mula.