
David melebarkan senyumnya. Tiba-tiba dia memeluk Wati. “Sudah kuduga, Liaku tidak akan meninggalkanku lagi. Kamu sudah berjanji,” kata David.
Perempuan itu berusaha melepaskan pelukan David. Dia merasa tidak nyaman dengan itu. “A-apa maksudmu?!”
David pun melepaskan pelukannya dengan keheranan. Dia mengernyitkan dahinya.
“A-apa kamu mengenaliku?” tanya perempuan itu lagi.
“Apa yang terjadi padamu? Tentu saja aku mengenalimu. Ini aku, kekasihmu, David,” tegas David.
“Sebenarnya aku baru sadarkan diri dua bulan lalu dan aku kehilangan ingatanku. Aku tidak tahu siapa diriku dan dari mana aku berasal. Tapi penduduk di desa itu biasa memanggilku Wati. Lalu aku pergi ke kota beberapa hari lalu untuk menjalani hidup baruku.”
“Tidak salah lagi. Kamu memang Amelia, Liaku. Rupanya kamu satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan itu.” David begitu yakin.
“Kecelakaan? Apa maksudmu?” Wati keheranan.
“Sebenarnya mobilmu jatuh ke dalam jurang di hutan yang berada di dekat desa itu. Baru dua korban nyawa ditemukan. Melihatmu baik-baik saja di depanku, kuduga satu korban nyawa itu adalah seorang sopir,” jelas David.
“Desa itu? Selama ini aku juga tinggal di sana.”
__ADS_1
David langsung memeluk Wati lagi. “Syukurlah. Sepertinya orang-orang di sanalah yang menyelamatkanmu.”
Wati kembali melepaskan pelukan David. Dia benar-benar tidak nyaman dengan itu.
“Jadi aku Amelia?” Wati menunjukkan dirinya sendiri.
“Iya. Kamu Amelia Alva, kekasihku.”
“Lalu siapa laki-laki ini?” Wati menunjuk foto yang terpajang di dinding. Kemudian beralih ke foto kecil di atas meja. “Dan apa hubunganku dengan anak laki-laki ini?”
“Dia adalah suamimu dan anak itu adalah anak kita,” jawab David.
“Aku tahu kamu bingung. Aku akan menjelaskannya kepadamu. Sebenarnya Kakak kembaranmu sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan. Karena kamu merasa bertanggung jawab, kamu pun menikahi kekasih kakakmu, Rico namanya. Rico sudah meninggal dalam kecelakaan yang lain. Dan aku belum mengatakannya kepada Dodik. Dia mengira Rico ayahnya. Aku tidak tega mengatakan kejujuran di usianya sekarang.” David juga tidak tega mengatakan kejujuran kepada Wati dalam keadaannya sekarang.
“Jadi dia adalah Rico?” Wati menunjuk foto besar itu.
“Iya. Kalau begitu aku keluar dulu, ya. Aku akan memanggil Dodik. Oh, ya, aku sudah mengirim surat pengunduran dirimu kepada majikanmu.” Kata David sebelum pergi.
Setelah itu Wati menatap foto besar itu lekat-lekat. Terasa sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Dia merasa nyaman dan tak asing. Perasaan yang berbeda saat berada di dekat David.
__ADS_1
Tak lama, Dodik datang dari luar. Dia langsung menaiki ranjang untuk memeluk ibunya.
“Mama ke mana saja? Aku sangat merindukan Mama,” kata Dodik.
Wati bingung harus bereaksi seperti apa. Dia sudah merawat anak majikannya selama beberapa minggu, tetapi dengan hubungan ibu-anak ini, Wati merasa canggung. Sejujurnya dia merasa asing dengan pelukan ini. Wati pun mengusap kepala Dodik dengan gerakan kaku.
“Ma-Mama ju-ga me-rin-du-kan-mu.” Wati tidak yakin dengan itu.
***
Sudah beberapa hari sejak Amelia kembali. Meski tidak asing, dia masih tidak nyaman dengan perlakuan khusus yang David berikan. David bahkan tidak membiarkannya menyentuh alat-alat memasak. Setiap pagi Davidlah yang memasak tanpa bantuan para pelayan di sana.
“Aku ingin membuatmu mengingat masa-masa kita bersama,” kata David menjelaskan.
Berbeda dari biasanya, kali ini David memasak lebih banyak. Masakan-masakan itu juga terlihat lebih istimewa dari biasanya. “Apa yang terjadi, David?” tanya Amelia, seandainya dia sudah nyaman dengan David. Namun, dia masih tidak merasakan apa pun sehingga dia tidak menanyakannya.
“Sebenarnya Papa ada kabar gembira hari ini,” kata David berseri-seri.
Dodik tidak tertarik dengan itu. Dia memlih fokus pada makanannya.
__ADS_1
“Papa Gila dan Mama akan menikah,” imbuh David.