
Tiga tahun lalu ….
Sama seperti mulutnya, kedua mata Alex melingkar sempurna. Ini mengejutkan, bahkan dalam pikiran tak pernah terbayangkan: pertemuan dengan manusia yang dibangkitkan dari kematian.
“A-amelia?” katanya menyebutkan nama manusia itu.
Di ruang tamu rumahnya sudah duduk Amelia di atas sofa. Perempuan itu tersenyum dengan mengenakan gaun putih dan rambutnya yang menghitam. Jika Amelia tidak cantik, Alex akan lari dari tempat itu. Mana ada hantu berwajah cantik. Bukannya ketakutan, orang-orang akan berlomba-lomba menikahi mereka.
“Hai, Alex,” sapa Amelia. Dia mengangkat tangan kanannya.
“Kau Lia, kan? Tidak mungkin kau adalah orang lain.” Alex mendekati Amelia dengan wajah kekaguman.
“Kalau aku mengatakan aku adalah orang ini, apa kau akan percaya?” Amelia menyodorkan dokumen berisi biodata Sofia.
Alex duduk setelah mengambil dokumen itu. Dia semakin kagum setelah melihatnya.
“Aku akan percaya kalau kau bilang kau adalah Sofia. Tapi aku masih yakin kalau kau adalah Lia,” jawab Alex.
“Aku adalah Amelia. Aku kemari untuk menagih janjimu. Bukankah kau mengatakan untuk mengatakan kepadamu saat aku membutuhkan bantuan?”
Ini sudah tiga tahun. Rupanya Amelia membawa janji itu sampai kematiannya.
“Jadi apa yang kaubutuhkan?”
“Tiga puluh persen saham Maha Dewi Group.”
“Apa kau gila?! Jangankan aku, David bahkan tidak memiliki saham setinggi itu!”
Ah, akhirnya nama itu terdengar setelah bertahun-tahun. Amelia menundukkan kepalanya.
“Ngomong-ngomong … bagaimana dengan David? Apa dia juga tahu tentangmu?” tanya Alex.
“Hanya kau yang tahu tentangku karena aku membutuhkan bantuanmu,” jawab Amelia.
“Sudah kubilang tidak mudah mendapat saham setinggi itu!” tegas Alex.
“Tapi aku harus menghancurkan Mula karena kakakku telah dibunuhnya!” Amelia lebih menegaskan.
Alex terkejut mendengarnya. Ternyata bukan Amelia, malah kakaknya yang meninggal. Hati Alex tersentuh melihat wajah Amelia mulai berselimut mendung.
“Baiklah.” Alex tidak yakin, tetapi dia akan berusaha. “Tapi aku seorang pebisnis. Kami bekerja bukan untuk membalas budi, tapi mendapat keuntungan. Jadi apa yang bisa kauberikan padaku?”
__ADS_1
Kepala Amelia menaik lagi. Senyum di wajahnya begitu cerah. “Dua ratus milyar.”
Nilai uang itu sangat besar, tetapi Alex malah tertawa. “Apa kau melawak? Jika orang bisa mendapatkan saham setinggi itu dengan uang segitu, siapapun bisa menguasai grup itu. Bayaran artis India bahkan bisa lebih dari itu.”
Sejak awal, melawan Mula memang tidak mudah. Untuk melawan orang sekuat itu, Amelia harus menjadi kuat. Namun, kekuatan tidak didapat dengan mudah. Hanya mereka yang berani masuk ke dalam risiko besar.
“Aku akan memberikanmu Maha Dewi Group,” tegas Amelia.
Seketika tawa Alex berhenti. Itu adalah taruhan yang besar. Pebisnis mana pun akan tergoncang hatinya saat mendengarnya.
***
Amelia baru kembali dari menjemput Dodik. Dia terkejut karena Mula sudah duduk di kursi tamunya. Amelia menyuruh pengasuh putranya untuk membawa Dodik ke kamar dan melarangnya keluar sampai Amelia sendiri yang datang.
“Nyonya ada di sini? Kenapa tidak memberitahukanku sebelumnya? Setidaknya aku tidak akan membuat Nyonya menunggu begitu lama,” kata Amelia dengan sikap manisnya.
Mula malah memutar pandangannya ke sekitar. Dia melihat-lihat setiap sudut kediaman Rico Bintara.
“Aku tidak menyangka akhirnya kamu benar-benar membangun istana dengan uang dua ratus milyarku.” Mula menyombongkan dirinya.
Amelia mengernyitkan dahinya. “Apa maksud Nyonya? Aku sama sekali tidak mengerti.”
“Lia? Tapi aku Sofia.”
“Apa kamu pikir aku akan mempercayai itu?”
Kerutan pada dahi Sofia melonggar sedikit demi sedikit. Wajah seriusnya pun mencair. Akhirnya dia tertawa. “Seperti yang kuduga, Nyonya memang orang yang cerdas. Pantas saja aku kesulitan untuk membodohi putramu itu.”
“Rupanya kamu masih melibatkan dirimu pada kehidupan putraku. Bukankah kamu akan menyingkir setelah mendapatkan dua ratus milyarmu itu?”
“Amelia sudah menyingkir, Nyonya. Dia sudah mati. Orang yang berada di depanmu dan tengah melibatkan dirinya pada kehidupan putramu ini adalah Sofia. Sofia Caramella.”
“Kamu membuat permainan dan membuatku ikut bermain rupanya.”
“Apa menarik?”
“Tentu saja menarik, karena aku tidak akan membiarkanmu memenangi permainan ini.”
“Benarkah? Kenapa kamu begitu yakin, Nyonya? Orang yang kamu hadapi ini adalah Sofia, bukan Amelia yang lemah dan menyedihkan itu. Sebaiknya kita lihat besok, siapa yang akan memenangkan langkah pertama.”
“Rupanya permainan ini sudah berjalan jauh.”
__ADS_1
“Tidak, Nyonya. Permainan ini bahkan baru saja dimulai.”
Baru saja dimulai? Dimulai apanya? Mula bahkan belum melemparkan dadunya, tetapi dia sudah dikalahkan.
Akhirnya David menemuinya di ruangannya. Itu sangat jarang. Mula senang melihat kehadiran David, tetapi senyumnya itu langsung pecah saat David mengatakan maksudnya.
“Aku akan menjadikan Sofia Caramella sebagai model utama perusahaan kita.”
“Apa yang kamu lakukan, David?” tanya Dagel kepada David. Kemudian Dagel menoleh ke arah Mula. “Katakan sesuatu, Kak. Ini tidak benar.”
“Maaf, Om. Aku ke sini hanya untuk mengatakan keputusanku, bukan untuk meminta pendapat kalian,” sahut David kukuh pada keputusannya.
Mula lansung bangun. Dia hendak mengatakan keberatannya, tetapi David malah melangkah pergi. Pandangan Mula mengikuti langkah David dengan mata membelalak. Kemudian dia menjatuhkan pantatnya ke atas kursi. Kedua tangannya mengepal di atas meja.
“Kita harus merencanakan sesuatu,” kata Mula.
“Bagaimana kalau kita mengatakan kebenaran Sofia?”
“Apa kamu tidak ingat kalau David bahkan mengejar Lia, meski tahu kalau perempuan itu telah menerima dua ratus juta dariku?!” sentak Mula. Dia melampiaskan amarahnya kepada Dagel.
Kisah ini memang belum berakhir. Amelia kembali dengan kekuatannya, sedangkan Mula menjadi semakin lemah. Mula bahkan tidak memiliki posisi apa pun di perusahaan. Dia hanya memiliki putranya saja.
***
Kemarin Amelia mendapat panggilan dari David. Katanya mereka harus bertemu untuk membicarakan kontrak kerja sama. Amelia pun pergi ke perusahaan David. Namun, bukan David yang Amelia temui di ruangannya, melainkan Mula yang tengah duduk di atas kursi kerja David.
“Rupanya kamu masih bisa duduk di sana. Tapi Nyonya, kamu tidak lagi terlihat cocok duduk di sana. Kamu sudah tua,” ejek Amelia.
“Apa kamu begitu sombong karena telah memenangkan permainan kecil ini?” tanya Mula sinis. Dia benar-benar membenci senyum pada wajah Amelia.
“Tentu saja. Kau kan tidak pernah menang sekali pun.” Amelia menertawakan Mula.
“Jangan terlalu angkuh karena kamu berhasil merebut hati putraku lagi. Meski aku sudah menyakitinya, darahku yang mengalir pada tubuhnya tidak akan berhenti begitu saja. Bagaimanapun aku adalah ibunya. Sampai kapanpun dia tidak akan bisa menyakitiku.”
“Aku tahu itu. Tentu aku tahu benar itu. Tapi kamu tahu apa yang lebih menarik dari itu?”
Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan itu.
“Aku tidak memiliki maksud apa pun, Nyonya. Aku hanya ingin membantu suamiku. Uang suamiku sudah berpengaruh besar di perusahaan ini.” Amelia mulai bertindak seakan-akan dirinyalah yang ditindas.
***
__ADS_1