
Sebenarnya David sudah menyiapkan dirinya kembali ke New York. Dia sudah siap untuk kalah. Lagipula tujuan baru dalam hidupnya telah hancur. Sepanjang duduk di depan para dewan, dia hanya menunduk. Dia tidak bisa berpikir saat ini. Dia masih terganggu oleh Amelia dan Sofia.
Selain itu, siapapun juga tahu kalau David akan kalah dengan mudah. Dagel mengatakan kalau saham Rico cukup besar, ditambah dengan saham para rekan kerja samanya. Sehingga David hanya akan menang jika pemegang saham lain mendukungnya seluruhnya. Akan tetapi, David salah. Orang yang membuatnya menang bukanlah para pemegang saham lain itu. Nilai saham yang memilih Rico bahkan lebih kecil dari total saham yang dimiliki Rico. Itu berarti orang yang memberikan kemenangan kepada David adalah Rico sendiri.
Saat semua orang bertepuk tangan, David tidak memasang senyum sedikit pun. Dia melemparkan wajah keheranannya kepada Rico. Tidak seperti pertemuannya di depan ruangan tadi, Rico terlihat lebih ramah saat ini. Dia terlihat sangat bahagia. Bagaimana itu mungkin? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa itu adalah ekspresi normal untuk orang yang tengah membenci orang lain?
Tidak mungkin Rico tidak membenci David setelah apa yang terjadi kemarin malam. David bahkan membenci dirinya sangat dalam.
Saat beberapa orang menawarkan tangan mereka untuk bersalaman kepada David, David langsung mengabaikan mereka. Dia bergegas mengejar Rico karena Rico telah pergi dari ruangan lebih dulu. David berhasil mengejar Rico saat Rico hendak memasuki mobilnya.
“Tunggu!” kata David sembari memegang pintu mobil yang akan ditutup.
Rico memandang David dengan wajah herannya.
“Apa ada masalah?” tanya Rico bersikap bodoh.
“Kenapa kamu melakukan itu?”
__ADS_1
Rico langsung tersenyum. Dia langsung tahu apa yang David maksudkan.
“Kalau kamu menyalonkan diri, kenapa kamu malah memilihku?” tambah David memperjelas.
“Sebagai ucapan selamat, bagaimana kalau aku menraktirmu beberapa makanan?”
David semakin terperangah. Rico bahkan memberikannya ucapan selamat dan tersenyum seakan-akan tidak pernah ada masalah yang terjadi di antara mereka.
“Tapi ….” David tidak yakin untuk menerima tawaran itu. Dia masih memiliki rasa malu.
“Ayolah. Aku juga ingin mengatakan beberapa hal kepadamu,” kata Rico meyakinkan.
Berbeda dari orang-orang lainnya yang akan membawa David ke tempat-tempat mewah dengan suasana formal, Rico malah membawa David ke sebuah kamar di dalam hotel. Berbagai makanan sudah tersaji di atas meja di dalam sana.
“Istriku menegurku jika aku bekerja terlalu keras, jadi diam-diam aku akan bekerja di sini. Meski begitu, istriku tetap tahu dan akan menyusulku ke sini. Karena itulah aku juga membelikannya beberapa gaun,” kata Rico sembari membuka pintu sebuah lemari. Di dalam lemari itu berisi beberapa gaun panjang berwarna putih.
Cerita Rico itu membuat David menjadi teringat pada masa lalunya. Lagi-lagi Lia tidak pernah pergi dari setiap langkahnya.
__ADS_1
Setelah menutup pintu itu, Rico pun duduk di atas kursi di hadapan makanan-makanan itu. “Silakan,” kata Rico sembari menunjukkan makanan-makanan itu kepada David.
“Maafkan aku soal beberapa malam yang lalu,” kata Rico memulai percakapan di tengah-tengah kegiatan makanannya.
“Kenapa ….” David keheranan. Itu adalah kesalahannya. Lalu untuk apa Rico malah meminta maaf darinya?
“Aku sudah mendengar kisahmu dari istriku. Seharusnya aku tidak memukulmu sekeras itu. Aku begitu marah saat melihat laki-laki lain menyentuh istriku. Kamu mungkin tahulah bagaimana rasanya cemburu.”
David menurunkan tatapannya. Rico membuatnya merasa semakin malu.
“Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan. Tapi dengan itu, bukan berarti kita juga harus kehilangan hidup kita. Kita harus menjalankan waktu seperti sebelum orang itu pergi. Lagipula orang yang meninggalkanmu belum tentu peduli pada kerinduanmu,” tambah Rico.
David mendongak. Perkataan Rico sedikit membuatnya tersinggung.
“Maksudku … jika orang yang sudah dipanggil Tuhan, bukankah mereka sudah tidak bisa mengetahui apa yang dilakukan keluarganya di dunia? Ini … ini tentangku. Sebenarnya aku sudah menikah sebelum bertemu istriku yang sekarang. Dan istri pertamaku sudah dipanggil Tuhan lebih dulu,” tambah Rico memberikan penjelasan.
David berpikir dirinya berbeda jauh dengan Rico. Jangankan untuk jatuh cinta lagi, menyisihkan bayang-bayang Lia dari sisinya saja tidak bisa. David percaya kalau yang Rico katakan adalah benar. Meski begitu, dia tidak akan bisa menjadi Rico. Rico bisa tetap hidup tenang karena tidak ada penyesalan dalam hidupnya. Sedangkan David … kini David sadar kalau penyebab kematian Amelia adalah dirinya. David sadar kalau yang melibatkan Amelia dengan semua malapetaka ini adalah dirinya. David akan benar-benar merasa jahat jika dia mengusir Amelia dari pikirannya setelah apa yang perempuan itu korbankan.
__ADS_1
***