My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
4. SEASON 2: Salah Kisah


__ADS_3

Meski David menyerah dalam mengejar mobil itu, bukan berarti David benar-benar menyerah tanpa berusaha. Dia kembali esok harinya. Bukan ke taman bermain, melainkan ke sekolah anak laki-laki itu.


David menunggu di tempatnya berdiri kemarin. Setelah lama menunggu, akhirnya mobil hitam mewah itu datang. Seorang perempuan keluar dari sana. Diperhatikan baik-baik, perempuan itu benar-benar Amelia. David pun bergegas mendekati perempuan itu dan memeluknya tiba-tiba.


“Lia, kau tidak benar-benar pergi rupanya,” kata David.


Perempuan itu terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu dari David. Dia langsung melepaskan diri dan menampar wajah David. Plak!


David lebih terkejut mendapatkan sambutan seperti itu.


“Mama ….” Satu orang lagi yang terkejut, anak laki-laki itu. Dia baru datang dari dalam sekolah. “Apa yang Mama lakukan kepada Om Penyelamat ini?” tanya anak laki-laki itu. Dia menunjuk David.


Perempuan itu langsung berjongkok dan memeluk anak laki-laki itu erat-erat.


“Bukan apa-apa. Ayo kita pulang,” jawab perempuan itu ketus. Dia pun menggendong anak laki-laki itu dan bangun.


“Tapi kita harus berterima kasih pada Om ini.”

__ADS_1


“Apa maksudmu? Apa kamu mengenalinya?”


“Dia yang menyelamatkanku kemarin.”


“Tidak perlu. Apa yang sudah dia lakukan padaku sudah impas,” tolak perempuan itu. Dia pun berbalik untuk memasuki mobilnya.


Tiba-tiba David memegang tangan perempuan itu.


“Lia, ini aku David, kekasihmu. Lalu anak ini, apa dia anak kita?” David hendak mengelus kepala anak laki-laki itu, tetapi perempuan itu menangkis tangannya.


Anak laki-laki itu langsung memeluk ibunya dengan erat. Meski kemarin dia menyukai David, kini David menakutkan baginya.


“Ma, Lia itu siapa?” tanya anak laki-laki itu di tengah perjalanan. Dia mendengar jelas perkataan David.


“Mama juga tidak tahu,” jawab perempuan itu.


“Lalu apa maksud Om Penyelamat itu dengan ‘anak kita’? Apa maksudnya aku? Bukannya aku anak Mama dan Papa?”

__ADS_1


“Benar. Kamu memang anak Mama dan Papa. Jadi jangan pikirkan perkataan Om-om itu. Mama juga tidak mengerti maksud perkataannya.


***


Seperti sebelumnya, David tidak menyerah begitu saja. Pertemuan tadi belum menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Dia pun mengikuti mobil perempuan itu diam-diam. Mobil itu memasuki gerbang besar yang menuju sebuah rumah mewah, bukan rumah, melainkan istana. Istana itu tidak jauh beda megahnya dengan istana yang menjadi rumah David.


Saat keluar dari mobil, perempuan itu terkejut menemukan David berada di halaman rumahnya dengan mengangkat tangan kanannya menyapa. Perempuan itu pun memanggil pengasuh di rumahnya dan menyuruh pengasuh itu untuk membawa anaknya masuk, bahkan menjauh dari jendela. Kedatangan David tidak akan baik untuk pendidikan anaknya.


Perempuan itu mendekati David dengan wajah kesal, tetapi David malah tersenyum semringah.


“Apa yang kamu lakukan di rumahku?! Kenapa kamu sampai mengikutiku?!” teriak perempuan itu.


“Lia.” Laki-laki itu malah terlihat bahagia. Kemudian dia memegang kedua pundak perempuan itu. “Aku tidak percaya kamu sudah banyak berubah. Kamu bahkan bisa berbahasa Indonesia sekarang.” David merasa kagum.


Perempuan itu langsung melempar tangan David dari dirinya. “Aku tidak tahu kenapa kamu terus-terusan menyebut Nama Lia, tapi aku tidak mengenal nama itu, jadi berhentilah menemuiku!”


“Ayolah, Lia. Kejutanmu ini sudah terbongkar. Jadi berhentilah bercanda.”

__ADS_1


***


__ADS_2