My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
67. Berkembang 2


__ADS_3

Amelia tidak mudah mempercayai itu. Jelas-jelas David sangat mengagumi kakaknya itu.


“Bukannya kau sangat menyayanginya?” tanya Amelia.


“Itu benar. Aku sangat menyayanginya sampai kukira kasih sayang yang kuberikan sepanjang hidupku akan cukup untuk membuatku menjadi prioritas dalam hidupnya. Tapi, tidak. Kasih sayangku dikalahkah oleh orang lain yang masih baru dalam kehidupannya. Akhirnya dia bunuh diri.”


Amelia masih penasaran dengan kelanjutan kisah kakak David. Akhir yang dimilikinya membuat Amelia tertarik pada kisah di baliknya. Akhirnya Amelia malah melupakan itu. Masa lalu itu bukan kisah yang membanggakan untuk diceritakan. Bahkan senyum tidak lagi mengisi wajah David.


“Baiklah. Tidak apa-apa kalau kau masih tidak mempercayaiku. Tapi kita harus bangun sekarang.” Amelia mengalihkan topik pembicaraannya.


“Kenapa? Apa kau sedang terburu-buru melakukan sesuatu?” David merasa kebereratan.


“Bukan aku, tapi kau. Kau harus segera pergi bekerja.”


David bernapas lega. “Tidak. Aku tidak akan bekerja hari ini. Aku masih ingin bersamamu.”


“Kau harus bekerja. Ini kan bukan hari libur.”


“Ayolah. Aku masih ingin memelukmu.” David kembali mengeratkan pelukannya. “Aku sudah tidak bekerja selama beberapa hari. Jadi apa bedanya kalau aku tidak bekerja selama beberapa hari lagi.”


“Tidak, David. Kau harus bekerja!” tolak Amelia. Dia berusaha mendorong David agar melepaskan pelukannya.


“Bagaimana kalau kita pindah ke kamar saja? Kemarin malam kita belum melakukan apa pun,” tawar David. Dia berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


“Tentu saja kita tidak melakukan apa pun karena kau tidak mau berhenti menciumku selama berjam-jam.”


“Jadi haruskah kita lakukan sekarang?”


David tersenyum semringah. Tanpa sadar kalau Amelia telah mengambil kesempatan dari kebahagiaannya itu. Tiba-tiba David tersingkir dari sofa. Dia terjatuh ke lantai. Brak!


“Awh!” David meringis kesakitan.


Amelia, si pelaku pendorongan itu, dia malah memasang wajah tidak bersalah dan angkuh.


“Tidak!” katanya setelah berhasil bangun. “Karena kau harus mencarikanku uang agar aku bisa tetap bersamamu.”


“Apa maksudmu kau akan meninggalkanku lagi?” Wajah David menjadi serius. Padahal Amelia hanya bergurau.


David kembali duduk di samping Amelia. Kemudian dia memeluk Amelia dari samping dan meletakkan kepalanya di atas pundah Amelia.


“Itu malah membuatku semakin tidak ingin membiarkanmu sendiri tanpaku,” kata David.


“Mempercayai seseorang memang menakutkan, tapi kita tetap membutuhkan alasan untuk tidak mempercayai orang itu,” kata Amelia menasehati.


David langsung melepaskan pelukannya. Kemudian dia menatap Amelia. “Tapi kau memiliki alasan itu,” balas David.


David benar. Amelia memang tidak layak mengatakan nasehat itu kepada David. Berkali-kali Amelia sudah mengkhianati kepercayaan David.

__ADS_1


Amelia meraih tangan David dan memeluknya di dalam kedua telapak tangannya. “Kalau begitu berikan aku satu kesempatan lagi,” pinta Amelia.


“Kesempatan apa?”


“Memberikanmu alasan untuk bisa mempercayaiku.”


“Bagaimana kalau akhirnya kau melepaskan kesempatan itu?”


“Maka berikan aku satu kesempatan lagi.”


“Kenapa aku harus melakukannya?”


“Karena kau mencintaiku dan akan melakukan apa pun yang menyenangkan diriku.


Sebenarnya yang David tidak percayai dari Amelia bukan seperti yang Amelia pikirkan. Bukan tidak mempercayai, tetapi David takut pada kenyataan yang harus dipercayainya. Kenyataan bagaimana Amelia malah menemui Alex setelah lari darinya. Meski Amelia dan Alex tidak benar-benar bermain di belakangnya, tetap saja David bukan orang yang berguna sampai Amelia tidak cukup dengannya.


Setelah mendapatkan tawaran itu, akhirnya David bersedia bangun dan segera bersiap untuk pergi bekerja. Tanpa David sadari, saat David menerima tawaran itu, itu berarti dia telah mempercayai seseorang.


Sesampainya di depan ruang kerjanya, David melihat sekretarisnya yang terlihat gembira atas kedatangan kembalinya dirinya dan menyapanya. David tidak berbincang lama. Dia segera pergi ke ruangannya sendiri.


Setelah David lenyap oleh pintu, si sekretaris itu menyalakan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


“Halo, Tuan,” katanya menyapa seseorang di balik sambungan telepon itu. “Tuan David akhirnya kembali. Dia tersenyum sangat ceria. Sepertinya perempuan itu telah kembali.”

__ADS_1


***


__ADS_2