My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
89. Terlarang


__ADS_3

Amelia tidak tahu itu benar atau tidak, tapi Amelia tidak yakin dengan yang David katakan. Amelia bahkan belum pernah membeli rumah.


“Lalu … ibumu …?” Itulah yang paling Amelia khawatirkan. Ibunya David terlihat menakutkan baginya.


“Kau tenang saja. Dia tidak akan bisa menyakitimu selama aku bersamamu. Saat dia akan menyakitimu, maka aku yang akan menjadi tamengmu.”


“Itu berarti kau yang akan terluka?”


“Tentu saja, tidak. Meski dia terlihat sangat tidak peduli, dia masih ibuku. Dia hanya bisa menyakiti orang-orang yang berharga bagi anak-anaknya, tapi tidak dengan orang-orang yang berharga bagi dirinya. Karena itu, jangan pergi dariku lagi.”


Tiba-tiba David memegang tangan Amelia dan menggilir sebuah gelang dari tangannya ke tangan Amelia. Amelia pun mengangkat tangannya. Dia menemukan sebuah gelang dari kayu berukiran melingkari tangannya itu.


“Aku menemukannya di bandara. Itu terlihat sangat bagus,” kata David.


Meski David mengatakan menemukan itu di bandara, Amelia tidak yakin kalau itu barang murah. Gelang itu sangat indah.


“David … lepaskan aku …,” pinta Amelia lagi.

__ADS_1


“Tidak mau,” tolak David.


“Kita tidak bisa terus berpelukan seperti ini. Kita ini manusia hidup. Kita masih harus melakukan sesuatu lainnya.”


“Kalau begitu ayo kita lakukan sesuatu lain yang bisa dilakukan dengan posisi ini.”


“Apa maksudmu?”


David hanya tersenyum. Kemudian Amelia mulai merasakan tangan David meraba punggungnya. Amelia pun langsung memegang tangan David untuk menghentikan gerakannya itu.


“Hentikan, David. Aku sudah lapar,” tahan Amelia.


Amelia tidak tertarik pada tawaran itu, tetapi David tidak peduli pada jawabannya. Laki-laki itu langsung mencium leher Amelia.


“David,” panggil Amelia. Namun, David masih bersikeras pada gerakannya.


“Apa kau tahu kalau kau memiliki tanda lahir di sini?” David meraba punggung Amelia.

__ADS_1


Amelia merasakan itu, tetapi dia baru mengetahuinya. Amelia bahkan tidak pernah berkaca dengan tubuh telanjang.


Tok tok tok. Suara itulah yang akhirnya menghentikan gerakan David.


“Lia! Ada panggilan untukmu!” Itu suara ibu pemilik rumah. Amelia langsung mendorong David.


Segera Amelia bangun untuk mengenakan pakaiannya. Saat Amelia hendak berdiri, David menghentikannya dengan meraih tangannya. “Tidak bisakah nanti saja?” tawar David.


“Tidak bisa,” jawab Amelia sembari melemparkan tangan David darinya. Dia pun segera berdiri.


“Ini tidak akan memakan waktu lama,” tambah David.


Amelia melirik sinis ke arah David sembari menggeleng-gelengkan kepala. Laki-laki itu tidak akan tahu apa pun selain kesenangannya.


Awalnya Amelia menyambut panggilan itu dengan senyum selebar mungkin. Seakan-akan dewa langit telah turun kepadanya dengan membawakannya surga di tangan dewa itu. Tidak membutuhkan waktu lama, senyum itu luntur. Tangan Amelia menjadi bergetar. Tubuhnya menjadi lemas, tetapi tidak sampai terjatuh. Dia masih kuat karena dinding di sampingnya.


Melihat perubahan wajah Amelia itu, ibu pemilik rumah menjadi cemas. Namun, Amelia berbohong dengan mengatakan tidak apa-apa. “Sesuatu yang buruk bisa terjadi kapan saja, tetapi itu tidak bisa menjadi alasan bagi kita untuk tidak baik-baik saja,” kata Amelia. Meski begitu, ibu pemilik rumah itu tahu benar kalau Amelia tidak baik-baik saja. Lagipula ibu pemilik rumah itu juga tidak mengerti kalau Amelia mengatakan dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


Amelia berjalan pelan ke kamarnya. Sebelum membuka pintu, dia menenangkan dirinya. Setelah merasa dirinya lebih baik, Amelia pun memasuki kamarnya. Rupanya David baru saja mengenakan pakaiannya.


__ADS_2