
Mobil David terparkir sejak petang datang. Akan tetapi, laki-laki itu tidak keluar sama sekali. Sepanjang waktu itu, Amelia bekerja dengan cemas. Dia khawatir jika laki-laki itu akan berulah kembali. Namun, ternyata sampai waktu pulang bekerja, tidak ada gangguan apa pun yang terjadi, kecuali kecemasan Amelia sendiri. Kediaman David membuat Amelia lebih curiga. Amelia pun pulang dengan menundukkan kepalanya. Dia berpura-pura tidak menyadari adanya mobil David.
Baru saja Amelia keluar dari pintu restoran, tiba-tiba pintu mobil David terbuka. Masih dalam pakaian rapinya sepulang bekerja, David pun keluar.
“Lia!” panggil David.
Amelia berusaha mengabaikan itu. Dia pun mempercepat langkahnya. Saking cepatnya, dia sampai berhasil menjauh dari David.
David tidak menyerah dengan mudah. Dia langsung menaiki mobilnya dan mengikuti perempuan itu. Setelah berada di samping Amelia, David melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan langkah kaki Amelia. Kemudian dia membuka kaca mobilnya agar Amelia bisa melihatnya dengan jelas.
“Lia!” panggilnya, “Amelia!”
“Dengarkan aku, Lia!”
Amelia masih berusaha mengabaikan.
“Aku tidak akan pergi, Lia!”
__ADS_1
Amelia akhirnya melirik. Kemudian dia cepat-cepat mengembalikan arah tatapannya sebelum David menemukannya.
“Berhenti, Lia!”
Bukannya berhenti, Amelia malah mempercepat langkahnya.
“Berhentilah atau ke depannya kau akan terus merasa terganggu olehku!” Akhirnya David mengambil langkah ancaman. Jika tidak seperti ini, Amelia tidak akan memberinya kesempatan.
Amelia benar-benar berhenti. Dengan bola mata memantulkan api kemarahan, dia menghujamkan tatapannya kepada David. David benar-benar dewa. Rupanya dia tengah mengacungkan tongkat keadilannya.
Tiba-tiba pintu mobil David terbuka.
Bukannya masuk, Amelia kembali berjalan. David terlalu bertele-tele baginya.
David berdesah. Kesabarannya mulai menguap. Dia pun melajukan mobilnya lebih cepat dari sebelumnya sehingga dia melewati Amelia. Setelah berada jauh di depan, dia pun menghentikan mobilnya. Dia keluar dari mobil itu dan berjalan mendekati Amelia.
Awalnya Amelia merasa lega karena David meninggalkannya. Namun, laki-laki itu malah datang dari depan. Amelia menjadi kebingungan antara tetap berjalan atau kembali. Kebingungan itu membuatnya berhenti. Saat kakinya akan melangkah ke depan, dia malah berubah pikiran untuk mundur. Saat kakinya melangkah mundur, dia malah berubah pikiran untuk berjalan ke depan. Pikirannya yang lamban itu membuat David malah mendapatkannya.
__ADS_1
“Lia,” panggil David.
“Apa-apa-apa?!” Karena sempat merasa tertekan, Amelia pun memberontak tanpa David harus menyerang.
“Lia ….” David malah keheranan akan reaksi Amelia.
“Bukannya kau bilang kau menyesal dan aku sudah menyuruhmu untuk pergi?! Kenapa kau masih ada di sini?! Kenapa kau masih menemuiku?! Kenapa kau masih menggangguku?!” cecar Amelia dengan cepat. Kemudian dia berhenti dan mulai mengatur pernapasannya.
“Aku tidak akan pergi,” tegas David.
Karena belum merasa tenang, Amelia hanya diam. Dia masih sibuk mengatur pernapasannya.
“Aku memang menyesal dengan kesalahan yang kulakukan sebelumnya, tapi dengan aku pergi, aku tidak menunjukkan kalau aku benar-benar menyesal, itu berarti aku melarikan diri. Aku akan tetap di sisimu dan menjadi lebih baik,” jelas David.
“Hei! Atas izin siapa kau bisa berada di dekatku?” tanya Amelia tidak setuju.
“Aku tidak akan lagi mengajakmu tidur bersama. Jadi berikan aku kesempatan untuk menjadi temanmu,” bujuk David.
__ADS_1
Amelia bisa melihat kesungguhan pada diri David. Namun, dia tidak bisa kalah dengan mudah. Dia telah mengatakan banyak hal sebelumnya.