
Maaf, aku tidak bisa menemanimu sarapan lagi.
Maaf lagi. Aku tidak akan pulang hari ini dan besok karena ada perjalanan bisnis.
Dan maaf sekali lagi. Aku tidak ingin kau keluar dari rumah tanpa bersamaku.
Milikmu.
Saat keluar dari kamar, surat berisi itulah yang Amelia temukan di tengah-tengah makanan di meja makan. David lenyap lagi, seperti dua hari yang lalu.
Semalam Amelia tidak tahu jam berapa David pulang. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tetapi Amelia tahu kalau laki-laki itu tidak pernah pulang sebelum Amelia tertidur. Sekarang seperti dua hari lalu, David sudah pergi sebelum Amelia bangun.
Mengingat di kamarnya tidak ada alat apa pun untuk bekerja, Amelia yakin kalau David bukanlah laki-laki penggila kerja. Saat masih bekerja di restoran pun, laki-laki itu selalu datang setelah petang berakhir. Jadi kenapa sekarang laki-laki itu selalu bekerja lembur?
Amelia memakan makanan yang ditinggalkan David untuknya dengan lemas. Sebelumnya Amelia mengeluh karena bekerja membuatnya terlalu sibuk, tetapi sekarang dia kembali mengeluh karena tidak ada yang bisa dia kerjakan. Di tempat ini tidak ada apa pun yang bisa dia gunakan untuk mengusir bosannya selain televisi.
Ah, David itu! Jika tidak membolehkan Amelia keluar dari tempat ini, setidaknya sering-seringlah pulang untuk menemani Amelia!
__ADS_1
Tiba-tiba Amelia teringat pada pesan yang ditinggalkan Gerald. Amelia pun mempercepat makannya agar bisa segera memastikan pesan itu.
***
***Nomor Tak Di Kenal**:
Aku Gerald Mario. Laki-laki yang berurusan denganmu di restoran.
Aku tidak akan mengungkit lagi masalah di restoran itu dengan satu syarat, temui aku untuk terakhir kalinya. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting*.
Amelia membaca pesan itu lagi. Sebenarnya dia tidak tertarik untuk melihat wajah laki-laki itu lagi. Akan tetapi, mengaitkan sesuatu yang penting membuat Amelia menjadi penasaran. Amelia pun menghubungi nomor itu. Meski ragu-ragu, Amelia akhirnya setuju untuk bertemu di sebuah kafe.
***
Tiga puluh menit. Selama itulah Amelia berdiam di dalam kafe sendirian. Rupanya Gerald hanya mengusiknya. Bagaimana bisa Amelia tertipu dengan mudah?
Sekarang Amelia tidak peduli pada hal penting yang akan Gerald katakan. Semua itu hanya omong kosong. Dia pun bangun untuk pergi dari kafe ini.
__ADS_1
Baru saja Amelia bangun, pemilik wajah laki-laki tak asing baru saja membuka pintu. Melihat wajah itu, seketika Amelia menjadi tegang. Amelia kira dia akan baik-baik saja setelah kehilangan banyak hal. Namun, semua itu tidak benar. Kejadian-kejadian buruk selalu terjadi tiap kali melihat wajah itu.
“Halo, Pelayan!” panggil Gerald sembari melambaikan tangannya.
Belum apa-apa Gerald sudah merendahkan Amelia. Tiba-tiba tangan Amelia menggenggam. Dia mulai kesal. Ingin sekali mengatakan, “Hei, aku sudah bukan pelayan lagi. Panggil aku Calon Nyonya Arya.” Akan tetapi, itu tidak akan terjadi. Amelia tidak memiliki keberanian yang tinggi.
Gerald langsung duduk berhadapan Amelia tanpa menunggu dipersilakan. “Duduklah.” Malah dia yang mempersilakan.
Amelia membuang muka dengan tetap menggenggam tangannya. Dia pun duduk dan berusaha keras agar terlihat tenang.
***
.
.
.
__ADS_1
Please like and comment🤗terima kasih untuk saran dan kritikannya😁apalagi pujiannya😅
jangan lupakan votenya🤤