
“Apa papamu juga suka kalau kamu sedih? Tentu saja tidak. Kamu tidak akan menjadi anak durhaka selama kamu tidak melupakan papamu,” jelas Amelia.
“Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus bersedih atau aku harus bahagia?” tanya Dodik bingung.
“Om Gila memberikanmu kedua kabar ini bersamaan untuk membuatmu tidak sempat bersedih karena rasa bahagiamu,” jawab Amelia.
“Kenapa aku bahagia? Aku bahkan tidak menyukainya.” Dodik begitu jujur.
“Tapi Mama menyukainya,” kata Amelia.
“Ma ….” Dodik terperangah.
“Dia akan menjadi papa yang baik untukmu,” imbuh Amelia meyakinkan.
“Tapi aku tidak membutuhkan papa lagi!” tegas Dodik.
__ADS_1
“Tapi Mama yang tidak bisa melihatmu tumbuh tanpa seorang papa. Tidak mudah tumbuh tanpa orang tua, Nak. Mungkin Mama tidak mengingatnya, tapi Mama masih merasakannya,” balas Amelia.
“Tidak mengingat? Apa maksud Mama?” tanya Dodik heran.
“Oh, bukan apa-apa.” Amelia tidak bisa membiakan Dodik tahu tentang keadaannya. “Jadi izinkan pernikahan ini, ya, Nak?” pinta Amelia.
Dodik menjauhkan duduknya dari Amelia. “Tinggalkan aku sendiri, Ma ….”
“Nak ….”
Amelia tersenyum. Dodik memang anak yang cerdas di usianya sekarang. Dia mampu bertindak dewasa tanpa menghilangkan sifat kekanak-kanakannya. Amelia pun pergi setelah meninggalkan usapan pada rambut Dodik.
Entah apa yang menjadi faktor Dodik bisa menjadi seperti itu: entah karena darah Mula, maksudnya darah David yang mengalir di tubuhnya atau didikan Rico yang mengalir di pikirannya. Meski tidak menyukai David dan pernikahan ini, setelah seminggu akhirnya Dodik keluar dari kamarnya. Dia menyetujui pernikahan itu demi kebahagiaan ibunya.
Tidak ada yang lebih membahagiakan David dari kabar ini. Pernikahan ini adalah kebahagiaan tertinggi sepanjang hidupnya. Bagaimana tidak, dia sudah berpisah dengan Amelia berkali-kali.
__ADS_1
Pernikahan itu tidak tergelar mewah. Karena merasa sama-sama tua dan adanya Dodik, David dan Amelia memutuskan tidak berlibur untuk berbulan madu. David hanya menyiapkan kamar dengan kelambu putih menutupi dinding. Beberapa bunga dan keharuman turut menghiasinya. Di kamar itulah David mendudukkan Amelia di atas ranjang setelah menggendongnya sepanjang jalan.
David menatap Amelia lekat-lekat. Masih tidak menyangka kalau perempuan ini akhirnya tergapainya. Semakin lama David melihatnya semakin dekat. Tangannya ikut merayap di atas pipi halus itu.
Benar-. Dia benar-benar Amelia. Ini bukanlah mimpi semata David. David pun menyentuhkan bibirnya kepada bibir Amelia. Mereka berciuman halus, lalu menaiki tahap sedikit demi sedikit. Setelah resleting gaun Amelia tebuka, bibir David pun berpindah posisi. Bibir itu merayap sedikit demi sedikit menjelajahi bagian telinga dan leher Amelia. Tiba-tiba David melepaskan bibirnya. Dia langsung mundur sampai terjatuh. Wajahnya begitu terkejut.
“Ada apa, David?” Amelia keheranan.
David diam sebentar. Memikirkan sesuatu. Kemudian dia bangun. “Ti-dak. Aku baru teringat ada sesuatu yang harus kukerjakan. Sebaiknya kamu tidur dulu. Aku akan menyusulmu,” kata David sebelum pergi.
Amelia keheranan. Pekerjaan sepenting apa yang mengisi hari pernikahan sampai mengganggu malam pertama mereka?
Semakin hari David membuat Amelia semakin keheranan. Laki-laki itu bahkan tidak pernah menyentuh Amelia semenjak malam itu. Dia tidak pernah memasak sarapan lagi dan berangkat kerja sangat pagi. Lalu pulang setelah malam sangat larut sehingga David langsung tertidur.
Suatu hari, Amelia menemukan tas kerja David yang tertinggal. Dia pun memutuskan pergi ke tempat bekerja David untuk mengantarkan tas itu. Tidak ada sopir lagi di rumah. Karena terburu-buru, Amelia tidak sempat memesan taksi. Dia langsung menaiki mobil apa pun yang ada di sana—tentunya pakai kunci😁.
__ADS_1