My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
79. Mengawali 4


__ADS_3

“Ini adalah bulan madu yang berbeda dari normalnya. Karena itu kita tetap harus mematuhi jalan ceritanya. Meski akhirnya kita akan menghabiskan malam bersama, kita tetap belum menikah. Jadi kita tidak perlu bertingkah layaknya suami istri,” kata Amelia menjelaskan maksud keputusannya.


“Sekarang kembalilah ke kamarmu. Kita akan bertemu lagi jam tujuh malam nanti,” kata Amelia sebelum berpisah.


Amelia pun segera pergi ke kamarnya. Saat dia hendak membuka pintu, tiba-tiba David menariknya, lalu menguncinya di antara David dan dinding.


“Kenapa harus menunggu jam tujuh malam nanti? Cepat atau lambat kita akan melakukannya nanti,” sahut David.


David pun mendekatkan bibirnya dengan bibir Amelia. Namun, Amelia malah menghadang bibirnya dengan telapak tangan.


“Ini bukan rumahmu. Meski kita sepasang kekasih, tidak baik jika orang lain melihat yang kita lakukan,” sela Amelia.


David tersenyum senang. Dia mengira itu adalah lampu hijau untuknya. Dia pun menarik Amelia memasuki kamar Amelia. Kemudian dia menutup pintu itu dan berdiri di depan pintu itu.

__ADS_1


“Apa yang kaulakukan? Bukankah sudah kukatakan kalau kita akan bertemu lagi jam tujuh malam nanti?” kata Amelia mengingatkan.


“Bukankah aku juga mengatakan kalau cepat atau lambat kita akan melakukannya nanti? Jika bisa lebih cepat, kenapa kita merumitkannya dengan memperlambat?”


David langsung memegang punggung Amelia untuk menariknya sehingga perempuan itu menempel kepadanya.


“Tapi kita masih berkeringat,” tahan Amelia.


David sudah memasukkan tangannya ke dalam kaus Amelia. Dia mulai meraba bagian punggung Amelia. Amelia benar. Tubuh perempuan itu memang basah karena keringat.


“Benarkah?”


Amelia langsung mendorong David sehingga menabrak dinding. Kemudian Amelia melayangkan ciumannya kepada David. Tiba-tiba David sudah berada di tengah pintu dan Amelia langsung mendorong David keluar dari kamar setelah melepaskan ciumannya. Sebenarnya Amelia mencium David untuk mengalihkan perhatian laki-laki itu, sehingga Amelia berhasil membuka pintu dan menggeser langkah kaki itu pelan-pelan.

__ADS_1


“Tapi aku tidak menyukaimu apa adanya. Dan keringatmu itu … uh … itu adalah yang paling kubenci dari dirimu,” kata Amelia dengan angkuhnya karena berhasil menipu David.


“Bukankah kita baru saja akan melakukannya?” protes David. Dia masih tidak bisa menerima kekalahannya.


“Melakukan apa? Sesuatu yang kita rencanakan untuk jam tujuh malam nanti? Maka kita akan melakukannya jam tujuh malam nanti!” tegas Amelia. Kemudian dia langsung menutup pintu kamarnya.


“Hei, Lia! Buka pintunya Lia! Biarkan aku masuk!” teriak David sambil mengetuk pintu Amelia. Namun, Amelia malah melangkahkan kakinya dengan tersenyum geli.


Amelia duduk di atas ranjangnya sambil menunggu ketukan dan teriakan itu reda. Tidak baik jika David sampai berhasil memasuki kamar, sedangkan dirinya tengah berada di kamar mandi.


Tak lama, teriakan dan ketukan itu reda. Amelia tidak perlu memastikan, laki-laki itu sudah kembali ke kamarnya karena laki-laki itu bukan anak-anak yang akan terus merengek karena tidak mendapatkan sesuatu. Amelia pun mengganti pakaiannya dengan mantel mandi.


Sebelum Amelia memasuki kamar mandi, tiba-tiba ponsel lamanya berdering. Amelia pun berbalik untuk menerima panggilan itu. Itu adalah panggilan internasional dari Indonesia. Sebelum menerima panggilan itu, Amelia keheranan. Dia tidak ingat memiliki rencana untuk mendapatkan panggilan internasional dan tidak memiliki kenalan yang tinggal di Indonesia. Namun, setelah mengangkat panggilan itu, wajahnya langsung berseri-seri. Dia sangat senang setelah mendengarkan sebuah kabar baik dari sana.

__ADS_1


***


__ADS_2