
Dari jauh, Sofia melihat David tengah duduk termenung di atas kursi. Keadaan David membuat Sofia merasa prihatin. Dia pun pergi untuk membeli dua botol kopi dingin dan mendekati David.
“Maaf untuk soal kemarin. Aku sangat terkejut sehingga aku tidak bisa menenangkan diriku,” kata Sofia sembari duduk di samping David dan menyodorkan sebotol kopi dingin itu.
“Li … So ..Li ….” Ah, David bingung harus memanggil Sofia dengan nama apa. Jelas-jelas perempuan itu menyebut dirinya Sofia kemarin, tetapi David masih belum menerima itu. Entah karena wajah perempuan itu yang mirip dengan wajah Amelia, David masih merasa kalau di depannya adalah Amelia.
Sofia tertawa pelan. “Kamu bisa memanggil nama kekasihmu Lia, tapi jangan menyebut nama itu untuk istri orang lain. Paggil aku Sofia,” sahut Sofia dengan ramahnya. Dia menunjukkan sisi lain dari dirinya yang kemarin.
“Tapi kamu benar-benar seperti Liaku,” kata David dengan intonasi rendah.
“Aku seperti Liamu, tapi aku bukan Liamu. Ada yang mengatakan kalau setiap orang di dunia memiliki tujuh kembaran. Tentu saja kamu terkejut setelah melihatku. Ada ribuan juta orang yang hidup di dunia ini, di tambah orang-orang yang sudah mati.”
Meskipun itu benar, David tidak yakin jika ada orang yang mirip sempurna seperti itu di dunia ini. Mereka bukan orang kembar juga.
“Kalau boleh kutahu Lia itu bagaimana?”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Kupikir kamu membutuhkan seseorang untuk mendengarkan ceritamu. Kamu terlihat kesepian di sini.”
David melihat Sofia baik-baik. Dia tidak yakin bisa menceritakan tentang Amelia seperti menceritakan orang selain lawan bicaranya. Namun, dia juga tidak memiliki bukti kalau perempuan di hadapannya ini adalah Amelia. Mungkin David harus belajar membedakan Amelia dan Sofia dari sini.
“Amelia, dia adalah kekasihku yang tinggal di luar negeri. Aku tidak tahu kenapa akhirnya dia tinggal di sini. Padahal dia juga tidak bisa berbahasa asing apa pun. Dia benar-benar kesulitan tinggal di sini,” akhirnya David bercerita.
“Melihatmu kemarin begitu histeris, sepertinya kamu begitu mencintainya?”
“Maksudku … apa kalian saling mencintai?” Sofia menambahi pertanyaannya.
David mengakui kalau dia sangat mencintai Amelia. Sedangkan untuk pertanyaan ini, David menjawabnya dengan menundukkan kepalanya.
“Aku tidak tahu,” jawab David. David bahkan tidak mengingat kapan Amelia pernah mengatakan cinta kepadanya. Selama ini David hanya peduli pada rasa cintanya.
__ADS_1
“Bukankah kalian bersama?” Sofia terlihat penasaran.
“Bersama?” David tidak yakin apa keberadaan Amelia di sisinya bisa disebut kebersamaan. Karena saat kebersamaan itu hadir sejenak, Amelia kembali pergi dan selalu begitu.
“Dia selalu pergi,” tambah David. “Dia sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku, tapi dia melanggar janji itu. Padahal dia sendiri yang mengatakan kalau dia paling membenci seseorang yang melanggar janji, bahkan jika itu dirinya sendiri.”
Sofia menatap langit. Kisah David benar-benar menyedihkan. Dia hampir meneteskan air mata. Namun, Sofia menahan air mata itu dengan meminum kopinya sebanyak-banyaknya.
“Dia pasti sangat membenci dirinya saat ini,” kata Sofia menilai perasaan Amelia.
David menoleh ke Sofia. Dia bahkan tidak bisa mengatakan kalau Amelia telah meninggal.
“Lalu apa yang terjadi padamu?” tanya Sofia menoleh. Dia memergoki David menatap dirinya. Meski tertangkap basah, David tidak merubah posisinya. Dia tetap menatap Sofia.
“Akhirnya aku melanggar janjiku juga,” jawab David.
__ADS_1