
Untungnya sopir yang mengantar David berhasil menahannya. Meski David memberontak, sopir itu berhasil menyekap David di dalam mobil.
“Beraninya kamu! Aku bosmu! Jadi biarkan aku keluar dari sini atau kamu akan kupecat?!” ancam David. Meski begitu, si sopir itu tidak menurut. Dia tahu persis kalau posisinya akan lebih buruk saat membiarkan bosnya keluar dari mobil. Sopir itu pun memanggil bantuan dan mengantar David ke rumahnya untuk menenangkan diri.
Ketenangan?
David tidak akan mendapatkannya. Apalagi setelah diketahui terdapat dua mayat yang hangus terbakar di dalam mobil itu. Sepertinya mobil itu tidak hanya terjatuh sehingga kedua mayat itu sampai tidak bisa dikenali.
Kini Rico adalah satu-satunya orang yang menang dalam permainan balas dendam ini. Ah, David benar-benar menyesal telah mengusir Amelia hari itu. Jika David tidak melakukannya, Amelia masih di sampingnya bersama luka yang perempuan itu goreskan. Setidaknya David tidak akan sendirian bersama kenangan-kenangan menyedihkan.
Untuk kedua kalinya David ingin jatuh dari tebing. Melepaskan luka dan menenggelamkan penyesalan dalam kematian. Untuk kedua kalinya juga David membatalkan niatnya untuk meluncur dari sana. David tidak benar-benar sendirian. Masih ada Dodik yang menunggu dirinya membawa kabar dari Amelia dan Rico. Di titik keputus-asaannya itu, David menemukan satu tujuan terakhir hidupnya. David pun bangun dan bergegas menemui Dodik di kediaman Rico Bintara.
Sesampainya di sana, David tidak menemukan Dodik. Para pelayan mengatakan kalau Dodik masih di sekolah. Anak kecil itu begitu tegas di usianya. Tanpa tahu kematian ibunya, dia masih menjalani hidup seperti biasa. David pun melajukan mobilnya lagi. Kini dia pergi ke sekolah Dodik.
__ADS_1
Di sana, David masih harus menunggu lama sampai akhirnya Dodik keluar dengan wajah keheranan.
“Kenapa Om Gila ada di sini?” tanya Dodik.
David memaksakan senyumnya. Dia tidak bisa menunjukkan wajah tidak baik-baik sajanya di depan anak seusia ini.
“Aku menjemputmu,” jawab David.
“Biasanya sopir yang menjemputku.” Dodik mengernyitkan dahinya. Kemudian dia tersenyum lebar. “Apa mama dan papa sudah pulang?”
Dodik berbunga-bunga. Sayangnya harapan tetaplah harapan. David memberikannya plot yang berlawanan.
“Panggil Om ‘papa’ mulai sekarang,” kata David.
__ADS_1
“Kenapa? Om kan bukan papaku?” Dodik merasa keberatan.
“Sebenarnya papa dan mamamu sedang ada pekerjaan di luar negeri. Jadi mereka meminta Om, maksudnya Papa Gila ini untuk menjagamu.”
“Kenapa harus Om? Aku bahkan bisa menjaga diriku sendiri!”
“Karena Om adalah orang yang paling mereka percaya. Jadi panggil aku papa ya, mulai sekarang. Kumohon.” David memelas.
Sebenarnya Dodik enggan dengan David. Namun, David terlihat menyedihkan baginya. Dengan berat hati akhirnya Dodik mengabulkan harapan David. “Iya, Pa, Papa Gila.”
Kali ini David tersenyum tulus, bukan dipaksakan. Akhirnya dia menjadi seorang ayah meski sang anak tidak mengetahui itu. Baru kali ini David mendapatkan kebahagiaan sesederhana ini.
Meski waktu yang David jalani terasa sangat lambat, akhirnya tiga bulan telah sampai. Sudah seratus hari sejak kedua mayat hangus itu ditemukan. Sudah sepanjang hari itu juga Dodik tidak tahu di mana pun keberadaan kedua orang tuanya. Dodik kerap menanyakan tentang mereka. David yang tidak kalah cerdas selalu berhasil menjawabnya.
__ADS_1
Suatu hari, David menjemput Dodik di sekolah seperti biasa. Namun, Dodik tidak ditemukan di manapun, bahkan area sekitarnya. David pun pulang untuk mencari Dodik di sana. Barangkali anak itu sudah pergi lebih dulu. Sayangnya anak itu tidak ada di sana. Baru saja David hendak membuka pintu mobilnya, dia melihat Dodik berada dalam gendongan seorang perempuan yang tengah menuntun anak lainnya. Seketika David terperangah. “A-Amelia ….”
“Papa Gila, Mama sudah pulang,” kata Dodik penuh semangat.