
Dagel keheranan. Itu bukan keputusan yang dikiranya akan didengarnya. Padahal Mula tidak tersenyum sedikit pun. Perempuan itu tidak senang atas keputusannya.
Wajah Mula menjadi dingin. Dia terlihat kesal. Itu membuat Dagel semakin tidak percaya kalau yang Mula katakan adalah keputusan akhir. Padahal Mula tidak mungkin bercanda dengan wajah kesal itu.
“Tapi, Kak,” sela Dagel keberatan.
“Biarkan dia bersenang-senang lebih dulu. Beberapa waktu lagi mungkin saja mereka akan merasa bosan.”
“Itu malah membuat mereka menjadi tidak terpisahkan!”
“Bukankah kita sudah melakukannya dulu?”
Mula mulai mengungkit masa lalu. Itu membuat Dagel teringat pada Bara, putra sulung keluarga Arya yang mencintai seorang putri pemilik rumah makan di pinggir jalan.
__ADS_1
“Tapi, Kak ….” Meski suara Dagel melemah, dia tetap keberatan.
“Aku sudah berusaha untuk memisahkan Bara dengan perempuan miskin itu, bahkan sebelum mereka berpacaran. Tapi anakku yang bodoh itu langsung melawanku dan takdirnya sebagai putra sulung keluarga Arya.”
Dagel akhirnya diam. Kematian seseorang bukanlah kenangan yang menyenangkan, bahkan bagi pembunuhnya.
“Selama hidupku aku sudah membesarkan Bara dengan sangat baik sehingga dia menjadi orang yang paling diirikan oleh siapapun. Aku benar-benar menyayanginya sebagai putraku, tapi akhirnya, dia malah memilih gadis rendahan itu. Aku tidak akan melakukan kesalahan dua kali. Aku tidak akan membuang waktuku dengan berusaha keras untuk menarik tanganku. Jika David tetap memilih menjadi anakku, maka dia akan menjadi satu-satunya pewaris kekayaan keluarga ini. Jika akhirnya dia memilih meninggalkanku, aku juga tidak akan keberatan, karena aku bisa menikmati seluruh kekayaan keluarga ini sendirian.” Akhirnya Mula tersenyum. Dia tersenyum menyeringai.
“Kau benar. Tapi aku sudah tua, Dagel. Kekayaan tanpa penahannya ini mungkin akan runtuh dan hancur. Tapi itu tidak akan terjadi hari ini atau esok. Itu akan terjadi beberapa tahun lagi. Beberapa tahun lagi saat aku mungkin sudah tidak hidup lagi.”
“Lalu bagaimana denganku, Kak?!” Dagel langsung bangun dari duduknya. Dia menjadi kesal. “Hidupku masih lebih panjang jika dibandingkan denganmu! Apa aku harus hancur bersama kekayaanmu setelah kematianmu?!”
Mula tertawa pelan. “Tenanglah, Adikku,” katanya setelah tawanya reda. “Aku masih bisa menjamin kemewahan hidupmu. Tapi aku tidak bisa menjamin kemewahan untuk anak-anakmu. Jadi didiklah anakmu dengan sebaik mungkin agar mereka bisa hidup terjamin kelak. Anak pertamamu masih berusia lima tahun dan anak keduamu masih berusia dua tahun. Siapa tahu kalau singgasana ini masih kukuh setelah dua puluh tahun lagi, salah satu dari anakmu bisa mendudukinya.”
__ADS_1
***
Pagi kembali hadir. Untuk kesekian kalinya Amelia membuka kelopak matanya; untuk kesekian kalinya dia meraba bagian sampingnya dan hanya berhasil menggenggam empuknya bantal; untuk kesekian kalinya dia menurunkan tangannya dan tidak merasakan ada apa pun di sisinya; dan untuk kesekian kalinya dia sadar kalau David tidak tidur di sampingnya. Ah, Amelia sudah terbiasa dengan itu. Laki-laki itu mungkin sudah pergi bekerja dengan hanya meninggalkan surat dan makanan di atas meja.
Menyadari kalau David tidak mungkin berada di apartemen, Amelia pun bangun dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia tidak langsung keluar kamar seperti biasa. Sama sekali tidak tertarik untuk makan sebelum menyegarkan dirinya.
Usai mandi, Amelia iseng keluar dari kamar. Dia tidak berniat keluar kamar untuk makan, tetapi pandangannya malah mengarah ke dapur lebih dahulu. Dia sudah terbiasa menoleh ke arah sana lebih dahulu, tetapi tidak terbiasa saat tidak menemukan makanan apa pun di sana—seperti saat ini.
Amelia pun bergegas mendekati tempat itu. Berulang-ulang dia mengucek kedua matanya, barangkali sebuah kotoran mata seukuran koin menyangkut di sana. Saat tidak menemukan sebuah kotoran mata seukuran koin, bahkan seukuran semut pun tidak, Amelia pun mencubit pipinya berulang-ulang. Mungkin saja karena sepanjang hidupnya telah berkecimpung dalam dunia kemiskinan, itu membuat Amelia tidak biasa, sehingga dunia mimpinya belum bisa melupakannya. Akan tetapi, dunia di atas awannya itu malah membuatnya kesakitan. Kenyataannya, David pergi tanpa meninggalkan apa pun: makanan atau pun surat. Ah, itu malah membuat Amelia yang tadinya tidak tertarik untuk makan, jadi mengharapkan makanan. Amelia mulai merasa lapar.
Amelia membuka kulkas. Dia menemukan daging ayam di sana. Dia pun membawa ayam itu untuk digorengnya. Setelah memasukkan beberapa potong ayam ke dalam penggorengannya, tiba-tiba Amelia mendengar suara orang menguap … samar-samar ….
***
__ADS_1