My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
75. Mengakhiri 7


__ADS_3

Amelia mengabaikan apa pun yang David katakan. Saat akhirnya Amelia keluar dari kamar, perempuan itu sudah berdandan rapi.


“Kau mau ke mana?” tanya David keheranan.


“Levina ingin menemuiku.”


“Tapi sekarang sudah petang.”


“Lagipula aku juga ingin segera mengatakan sesuatu kepadanya.”


“Biar kuantar.”


“Tidak perlu. Aku sudah memanggil taksi.”


“Tapi—“


Ah, akhirnya David kehilangan kesempatannya untuk menyelesaikan kalimatnya. Amelia sudah pergi untuk menemui Levina. Namun, David tidak menyerah begitu saja. Dia pun duduk di atas sofa tanpa mengalihkan arah pandangnya dari pintu. Semalam apa pun Amelia kembali, David harus menyelesaikan kalimatnya secepatnya.

__ADS_1


***


Setelah sekian lama, akhirnya Amelia kembali memasuki restoran Alex, lebih tepatnya restoran miliknya sekarang. Sepertinya Alex benar-benar menentukan keputusannya. Restoran itu sepi. Tidak ada satu pun orang, kecuali Levina yang sudah menunggu lebih dahulu. Restoran itu resmi ditutup.


“Bagaimana rasanya memiliki tempat yang kau pernah diusir dari sana?” tanya Levina saat Amelia sibuk menyapu pandangannya ke sekitar.


Setelah puas dengan kegiatannya, Amelia pun duduk di depan Levina. Meski tidak ada satu pun pekerja di sini, Levina masih sempat menyiapkan hidangan kepada Amelia.


“Sepertinya menyenangkan, tapi aku kurang tahu tentang itu. Aku belum mencobanya,” jawab Amelia.


“Apa maksudmu?” Levina menjadi keheranan. “Bukankah Alex sudah menyerahkan restoran ini kepadamu?”


“Kau ….” Levina terkejut dibuat Amelia. “Bukankah kau menginginkan restoran ini?”


“Tapi aku lebih menginginkan waktuku bersama David. Kalau aku menerima restoran ini, aku akan mulai sibuk dengan pekerjaan dan semakin jauh dari David.”


“Apa kau tidak tahu kalau Alex sedang sibuk dengan perusahaan barunya?”

__ADS_1


“Tapi kau kan tidak sibuk. Lagipula aku memberikannya kepadamu, bukan Alex. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku kepada Alex yang telah menolongku malam itu. Kau mungkin sudah mendengarnya dari Alex. Dan maafkan aku karena membuat kaki Alex menjadi seperti itu.”


Levina menunduk. Dia merasa menyesal. Dia merasa sangat rendah. Tanpa tahu apa pun, si korban malah meminta maaf kepada pelaku.


“Maafkan aku,” kata Levina yang mulai terbawa suasana.


“Alex sudah meminta maaf kepadaku dan David berkali-kali. Jadi kau juga jangan menirunya. Lagipula David juga bersalah dan aku meminta maaf atas namanya.”


Tiba-tiba Levina mendorong tas kertas itu ke arah Amelia. “Kau sangat baik. Aku tidak bisa menerimanya,” kata Levina. Kemudian dia bangun dan hendak pergi.


Amelia turut bangun dan langsung menahan tangan Levina. “Kalau kau tidak menerimanya, maka hubunganku dan David tidak akan baik-baik saja,” sahut Amelia.


“Tapi ini satu-satunya harta yang kaumiliki.”


“Ini bukan satu-satunya karena aku tidak pernah memilikinya. Satu-satunya harta yang kumiliki hanya David.”


“Kau jangan menggantungkan hidupmu hanya pada David. Jangan terlalu mempercayai laki-laki itu. Dia tidak sungguh-sungguh mencintaimu. Dibandingkan dirimu, dia lebih mencintai dirinya sendiri. Dia itu egois. Malam itu, saat aku menyobek bajumu di sini, dia tahu itu. Aku melihatnya dari CCTV. Tapi dia malah mengabaikanmu dan pergi begitu saja.”

__ADS_1


Amelia mengaitkan tali tasnya ke tangan Levina. Dia tidak mengatakan apa pun. Hanya tersenyum selebar mungkin seakan-akan itu bukan masalah besar. Kemudian dia keluar dari restoran meninggalkan Levina.


***


__ADS_2