My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
9. Lenyap


__ADS_3

David membuka mata dalam kegelapan kamarnya. Dia tidak ingat kapan mematikan lampu itu, tetapi dia ingat apa yang telah terjadi kemarin malam. Dia meraba ranjang bagian sampingnya. Akan tetapi, dia tidak menemukan sesuatu yang dicarinya. Bagian ranjang itu kosong. Langsung saja dia terbangun dan meraba seluruh ranjangnya. Akan tetapi, dia tetap tidak mendapatkan apa pun. Dia yakin bahwa yang terjadi kemarin malam bukanlah mimpi. David pun bangun.


Dia berjalan ke arah lemari untuk mendapatkan pakaian apa saja. Dia mengenakan pakaian itu, lalu menghidupkan lampu kamarnya. Keadaan kamarnya cukup berantakan. Itu membuktikan apa yang terjadi kemarin bukan mimpi. Dia memang tidak menemukan pakaiannya.


Sebagai gantinya, dia menemukan mantel mandi putih di depan pintu. David segera keluar kamar dengan membawa mantel itu. Dia mencari perempuan yang kemarin mengenakan mantel itu ke setiap ruangan. Namun, dia hanya menemukan kaus dan celana yang dikenakannya kemarin di kamar tamu.


Perempuan itu sudah pergi tanpa membawa apa pun dari rumah itu. Dia pergi tanpa sepatah kata atau pun salam berpisah. Jika pun perempuan itu mengatakannya, David tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah. Segera David kembali ke kamarnya. Dia menyalakan ponselnya untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


“Halo, Om Pras. Aku butuh bantuanmu,” katanya memulai obrolan. “Bisakah kau membantuku mencari seseorang? Dia adalah salah satu tamu di pesta yang kudatangi kemarin. Perempuan itu yang menarik perhatian seluruh tamu karena mencuri gaun tamu lainnya. Aku tunggu kabar selanjutnya.”


David tidak mudah berteman. Karena itulah dia tidak bisa mengandalkan banyak orang. Orang yang kerap membantu hanya paman jauhnya yang tinggal di Indonesia. Meskipun mereka berada dalam jarak yang jauh, pamannya itu memiliki banyak koneksi yang bisa membantunya di mana pun David berada.


David menghabiskan hari liburnya dengan menunggu kabar dari pamannya. Perempuan itu berhasil menarik perhatiannya dengan kepergian yang membuat David merasa kesal. Kepergian tanpa pamit. Meski itu adalah sopan santun yang buruk dan kesalahan dari perempuan itu, David lebih merasa terhina dan memiliki kesalahan yang tidak disadarinya. Perempuan itu memang menghinanya!


David tidak menemukan petunjuk apa pun untuk menemukan perempuan itu. Dia bahkan baru sadar kalau dia belum mengetahui nama perempuan itu. Perempuan itu sungguh hebat. Dia telah banyak mengganggu David hanya dalam sekali perjumpaan.

__ADS_1


David teringat pada kejadian memalukan yang terjadi di pesta kemarin. Mungkin saja pemilik gaun yang dicuri perempuan itu bisa memberikan beberapa petunjuk. Dia pun menghubungi pamannya lagi dan memberikannya petunjuk itu. Meskipun petunjuk itu hanya keraguan, petunjuk itu berhasil menunjukkan siapa perempuan itu. David telah menerima data lengkap tentang perempuan itu dari pamannya.


“Amelia Alva,” kata David mengucapkan nama panjang perempuan itu.


Seorang perempuan yatim piatu yang tinggal di sebuah apartemen murah. Kesehariannya hanya bekerja di sebuah restoran. David tidak lagi terkejut jika perempuan itu mencuri gaun untuk datang ke pesta. Dengan uang yang dihasilkannya, tidak mudah bagi perempuan itu untuk membeli gaun semahal itu, bahkan mustahil sepanjang hidupnya.


***

__ADS_1


__ADS_2