My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
74. Mengakhiri 6


__ADS_3

Negoisasi telah selesai. Alex tidak memiliki alasan lagi untuk berlama-lama di sini. Dia tidak memiliki hubungan baik lagi dengan David sehingga dia tidak bisa beramah-tamah atau mengucapkan kalimat ‘sampai berjumpa lagi’. Dia hanya pamit pergi begitu saja.


David sangat senang mendapatkan apa yang telah diberikan Alex kepadanya. Akhirnya dia berhasil mendapatkan sesuatu yang paling diinginkan oleh Amelia. Kemudian David pun menghubungi sekretarisnya untuk mengirimkan sejumlah uang kepada Alex, meski David belum menandatangani surat-surat itu. Restoran itu milik Amelia. Jadi dia akan memberikan restoran itu sepenuhnya kepada Amelia.


Tiba-tiba David mendapatkan panggilan internasional dari Indonesia. Itu adalah pamannya, Dagel. Sudah lama David tidak berhubungan dengan laki-laki itu, bahkan ibunya. Semenjak kematian kakaknya, David sudah tidak pernah menemui mereka berdua.


“Halo, Om. Ada apa?” tanyanya menyapa.


Entah apa yang dikatakan oleh pamannya itu, tiba-tiba David menjadi tegang. Rupanya waktu gilirannya telah tiba. David tahu waktu itu akan datang suatu hari nanti, tetapi dia tidak berharap kalau suatu hari nanti itu adalah hari ini. Dia baru memulai kehidupan bahagianya. Dia sama sekali tidak menginginkan masalah apa pun menengahi kehidupannya itu. Namun, jika ibunya sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya kecuali ayahnya dan pamannya, tetapi ayahnya sudah terbaring semenjak lama, sedangkan pamannya tidak akan pernah berpihak kepadanya. Dagel bahkan berani membunuh orang jika itu yang diinginkan ibu David.


Sore hari David pulang bekerja dengan pikiran yang tidak tenang. Dia harus melakukan sesuatu, tetapi dia tidak yakin kalau Amelia akan mau melakukan sesuatu itu. David bahkan harus berusaha keras agar perempuan itu bisa berada di sisinya.


Sesampainya di apartemen, David melihat Amelia berada di dapur dengan menguncir rambutnya. Rupanya dia baru selesai memasak. Dia pun mendekati David dan menyambutnya dengan senyuman. Tersenyum seakan-akan kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya. Senyuman itu malah membuat David menjadi semakin tidak tenang. Dia takut harus kehilangan senyum itu.

__ADS_1


David duduk setelah meletakkan kedua tas kertas ke atas meja.


“Apa ini?” tanya Amelia.


David tidak menjawab. Amelia pun membuka sendiri tas itu. Di tas kecil itu ada sebuah ponsel yang telah menyala. Tanpa Amelia ketahui, David telah memasang pelacak lagi di sana.


“Lia. Aku harus mengatakan sesuatu. Kita harus—“


“Apa ini?!” Amelia menyodorkan dokumen-dokumen yang mengisi tas kertas satunya.


“Dan kau menerimanya begitu saja?”


“Tentu saja tidak. Aku membelinya dan aku sudah mengirimkan uang kepadanya.”

__ADS_1


“Bagaimana kau bisa melakukan itu?! Alex itu temanmu dan kau pasti tahu kalau restoran ini sangat berharga untuknya!”


“Dia sendiri memberikannya tanpa keberatan. Lagipula bukankah ini yang sebenarnya kauinginkan? Meski kau tidak pernah mengatakannya, aku bisa tahu itu.”


“Aku memang pernah menginginkannya, tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Aku tidak mau menghabiskan hidupku dengan sibuk bekerja.”


“Baiklah. Kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan, tapi dengarkan aku. Aku harus mengatakan sesuatu—“


“Halo.” Sebelum David mengatakan lebih lanjut, Amelia sudah menghubungi Alex. Kemudian Amelia bangun dan pergi ke dalam kamar. Dia tidak membiarkan David menyelesaikan ucapannya.


David pun mengejar Amelia, tetapi Amelia malah mengunci pintu.


“Hei, Lia! Dengarkan aku! Aku harus mengatakan sesuatu!”

__ADS_1


***


__ADS_2