
Setelah kepergian Levina dan Alex, David menyungging senyum kemenangan.
“Semua sudah berakhir. Aku akan pulang ke rumah lagi,” kata David dengan tenangnya.
Berbeda dengan David, Amelia tidak menikmati perdebatan yang telah terjadi itu. Dia merengut kesal. Kemudian dia bangun menuju kamar meninggalkan David tanpa sepatah kata.
David menyadari masalah ini tidak benar-benar selesai. Dia pun bergegas mengejar Amelia. Saat Amelia hendak menutup pintu karena ingin menyendiri dari David, David langsung mendorong pintu itu, lalu menutupnya setelah dirinya berada di dalam kamar.
“Kenapa kau melakukan semua itu?! Kenapa kau memulai sesuatu yang sudah selesai?!” teriak Amelia. Untuk pertama kalinya setelah bersama David, dia mengeluarkan amarahnya. Sebelumnya dia tidak berani, tetap sekarang dia sudah tidak tahan lagi.
“Aku hanya mengakhiri amarah dalam hatimu kepada Levina dan Alex!” tegas David.
“Apa yang berakhir? Aku sudah mengakhiri semua itu sebelumnya!”
“Karena itukah kau bisa bebas menemuinya tanpa sepengetahuanku?”
Amelia tertegun. Rupanya David telah mengetahui gerak-geriknya. Namun, dalam suasana sekarang, Amelia tidak bisa luluh dengan mudah. Bagaimanapun David telah melakukan kesalahan. Amelia akan menjelaskan tentang dirinya dan menyadarkan David atas kesalahannya.
__ADS_1
“Bukankah kau sudah tahu itu?!” tanya Amelia tanpa menurunkan nada suaranya.
“Tapi aku tahu dari orang lain, bukan darimu!” sentak David.
Amelia kembali tertegun. David memang pernah menghina dan meneriakinya, tetapi dia tidak pernah melihat David berteriak dalam kemarahan sebesar ini. Tiba-tiba Amelia mulai merasa takut. Dia pun menurunkan intonasi suaranya. “Aku menemuinya hanya karena dia ingin meminta maaf kepadaku.”
“Karena itu aku membuatnya meminta maaf dengan tepat, bukan dengan bersembunyi dari orang lain.”
“Tapi meminta restorannya itu terlalu berlebihan.”
“Kenapa aku harus memintanya? Aku menawarnya karena aku akan membelinya. Aku akan membayar uang yang sepadan dengan restoran itu.”
“Lalu kenapa kau malah bersikeras membelanya? Bukannya aku sudah mengatakan kalau semuanya telah selesai? Aku akan kembali pulang dan kau bisa memilikiku sepenuhnya. Restoran itu akan menjadi bonus untukmu. Seharusnya itu sudah cukup untukmu.”
Amelia kembali kesal. Sebaik apa pun David kepadanya, sikap laki-laki itu tidak pernah berubah. David masih mudah merendahkan orang lain. Levina benar: David hanya bisa menghina atau menginjak orang lain. Setelah sekian lama, David akhirnya merendahkan Amelia lagi.
Amelia langsung berlari pergi meninggalkan kamar. Dia berusaha keras berlari agar David tidak bisa mengejarnya. Dia benar-benar ingin lepas dari David. Amelia tahu kalau dirinya tidak akan lepas dari jangkauan David. Seperti saat dia diam-diam menemui Alex, David akan selalu mengetahui gerak-geriknya. Meski mengetahui itu, Amelia tetap berlari. Dia ingin lepas meski hanya sebentar.
__ADS_1
“Kau bisa pulang sekarang, tetapi aku yang akan pergi,” batin Amelia bertekad.
Karena tidak memiliki tujuan, Amelia terus berlari tanpa henti. Dia sibuk berlari sampai tidak bisa merasakan kekesalannya. Dia terus berlari sampai akhirnya dia berada di kursi pinggir jalan, tempat dia pernah menghabiskan malam sebelumnya. Melihat kursi itu, Amelia jadi berpikir untuk menghabiskan malamnya ini di sana.
Beberapa kali ponsel lamanya yang berada dalam tasnya berbunyi, bahkan berdenting. Namun, Amelia tidak berani melihatnya. Dengan mudah dia bisa menduga kalau orang yang membunyikan ponselnya berkali-kali itu adalah David.
Setelah lama, saat malam benar-benar larut, akhirnya Amelia memberanikan diri untuk membuka ponselnya itu. Rupanya tidak ada satu pun nama David yang tertera pada pemberitahuan, hanya ada nama Alex, hanya Bos Alex.
Amelia keheranan. Di tengah-tengah malam seperti ini, untuk apa Alex terus menghubunginya?
Amelia pun membuka dua pesan yang ditinggalkan oleh Alex.
*Bos Alex:
Aku ingin menemuimu malam ini di depan restoran.
Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin kubicarakan*.
__ADS_1
Entah sesuatu sepenting apa itu. Amelia khawatir jika itu adalah sesuatu yang lebih penting dari apa pun, sehingga Alex sampai menghubunginya berkali-kali. Akhirnya Amelia pun segera beranjak dari tempatnya.
***