
Kepergian David dengan keadaan seperti itu membuat Sofia menjadi lemas. Dia merasa bersalah pada setiap hal. Meski hati kecilnya terus menguatkannya dan mengatakan kalau dirinya tidak bersalah.
Setelah David pergi, Lia pun berjalan cepat kembali ke rumah. Dia langsung pergi ke kamar untuk memastikan putranya yang masih tertidur. Setelah itu dia pergi ke ruang bawah tanah. Seperti yang diduganya, Rico memang berada di sana.
Rico benar-benar tidak punya pekerjaan. Dia memasang foto wajah David yang besar dengan foto Mula di tengah-tengah, lalu menjadikannya sasaran panah-panah kecil. Melihatnya, Sofia menjadi kesal. Dia bergegas mendekati Rico, lalu mendaratkan tamparannya, Plak!
Bukannya marah, Rico malah tertawa. Seakan-akan tamparan dan wajah marah Sofia adalah lelucon.
“Apa maksud gelang itu? Jelas-jelas gelang itu hanya ada satu di dunia!” sentak Sofia berapi-api.
“Gelang itu memang ada satu di dunia, tapi aku meminta pembuatnya untuk membuat dua surat yang berbeda. Bukankah menarik karena pembuat itu berpihak kepada kita?” Rico tetap tidak mengusir senyum dari wajahnya.
“Kenapa kamu melakukan itu?!”
“Tenanglah. Aku sedang berusaha mengenai sasaran.” Rico kembali melemparkan anak panah kecilnya, tetapi tidak ada satu pun yang mengenai foto Mula, hanya foto David.
“Aku hanya ingin membuat David terus berpikir kalau Lia masih hidup. Sehingga dia akan kebingungan dan mulai berpihak kepadamu. Jadi terus dekatilah,” tambah Rico menjelaskan.
“Atas hak apa kamu mempermainkan perasaan manusia?! Bukankah kita sudah sepakat untuk hanya membalas dendam kematian kakakku?!”
Akhirnya Rico membuang anak-anak panahnya. Dia pun menoleh ke Sofia. Wajahnya menjadi serius. “Atas hak apa, kamu tanya?” Rico mengulangi perkataan Sofia. “Kenapa pertanyaanmu malah terdengar seperti mendukung David? Atau perasaanmu sudah tercampur aduk sebelum permainan dimulai?”
“Aku hanya khawatir kalau perasaanku benar-benar akan tercampur aduk.”
“Maka silakan bermain-main dengan perasaanmu itu.”
__ADS_1
Sofia kebingungan pada balasan Rico. Tiba-tiba Rico memegang pundaknya. Sofia langsung terkejut karena itu.
“Tapi jangan pernah melupakan rencana kita karena perasaanmu itu atau aku akan mengingatkanmu pada kematian kakakmu,” tambah Rico dengan nada mengancam. Kemudian dia pergi meninggalkan Sofia yang tengah ketakutan.
Benar. Sofia merasa ketakutan. Semakin jauh langkahnya dia semakin tidak mengerti apakah langkahnya ini benar.
***
Keresahan David tidak ada habis-habisnya. Dia masih menunggu jawaban pembuat gelang itu. David tidak menyerah. Dia juga tidak takut apa pun jawabannya. Lagipula dia yakin benar kalau gelang kayu itu milik Amelia.
Seorang perempuan memasuki ruangan David. Itu Sofia. Dia datang dengan sendirinya. Meski memiliki keyakinan itu, David tetap menunjukkan kalau dia mengakui Sofia bukan sebagai Amelia. Entah ada permainan apa sebenarnya. Sebelum mendapatkan bukti, David harus turut mengikuti permainan itu.
David mempersilakan Sofia untuk duduk di atas sofa, tetapi Sofia tidak menjawabnya. Dia malah berdiri di depan meja kerja David.
“Bisakah aku mengajukan diriku menjadi model utama perusahaan ini?” tanya Sofia.
“Kenapa tiba-tiba kamu ingin melakukannya?”
“Kupikir sudah saatnya bagiku untuk kembali berkarir. Lagipula putraku sudah besar sekarang.”
“Kenapa harus perusahaan ini?”
“Ayolah, David. Siapa yang akan menolak perusahaan sebesar ini?”
“Tapi aku tidak pernah menawarkannya kepadamu?”
__ADS_1
“Makanya aku memberikan dua penawaran kepadamu.”
“Apa yang satunya?”
Sofia berjalan mendekati David. Dengan tidak sopannya dia duduk di atas meja kerja David dan memamerkan kakinya.
“Penawaran yang sempat kutolak. Bagaimana kalau kita mencobanya?”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Santuy😅cepet gak cepet, december tamat. Authornya juga gak suka ama cerita yang mbulet2😁