
“Apa yang telah kamu lakukan, Lia?!” sentak David. Dia berjalan mendekati Amelia.
“Ka-ka-kamu … bagaimana kamu tahu kalau aku Lia?” Amelia tergagap-gagap.
“Apa itu penting sekarang?”
“Te-tenanglah. Aku-ku a-akan jelaskan semua.” Amelia mencoba menahan David.
“Tenang? Bagaimana aku bisa tenang setelah ibuku terbunuh oleh tanganmu?”
“A-aku tidak benar-benar melakukannya, David. Dengarkan aku. Aku tidak sengaja membunuhnya,” bela Amelia.
“Sengaja atau tidak, akhirnya kamu juga yang membunuhnya.”
“Da-david—“
“Apa kamu pernah mendengar mata dibalas mata, gigi dibalas gigi?”
“Da-david, apa maksudmu?”
“Jika kamu tidak mengerti, aku akan menunjukkannya sekarang juga.” David mengeluarkan pisau berdarah dari belakang tubuhnya. Pisau itu persis dengan pisau yang menancap pada dada Mula. Dia pun mengangkat pisau itu bersiap menusukkannya pada Amelia.
Amelia berusaha lari, tetapi tubuhnya terpaku. Kakinya tidak bisa bergerak. Amelia yang ketakutan pun menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Setidaknya dia tidak akan mati dengan ketakutan.
__ADS_1
Beberapa saat, tidak terjadi apa pun. Amelia tidak merasakan tusukan di mana pun. Pelan-pelan tangannya menurun. Rupanya David tidak ada di tempatnya tadi. Amelia menyapukan pandangannya ke seluruh sudut kamar, tetapi David tidak ada, bahkan bayangannya. Tiba-tiba Amelia merasakan tangannya kedinginan. Dia pun mengangkat tangan itu dan melihatnya. Bola mata Amelia membelalak. Pernapasannya menjadi berat. Kedua telapak tangannya tak lagi terlihat, seluruhnya berselimut darah. Itu adalah darah Mula.
“Ba-ba-ba-bagaimana mungkin?”
“AAAAA!” jerit Amelia. Dia langsung terbangun dari tidurnya.
Setelah menyadari sekeliling ruangannya begitu tenang, Amelia pun bernapas lega. Rupanya semua hanya mimpi.
***
Akhirnya masa horor Amelia berakhir. Setelah beberapa hari Amelia melanjutkan kehidupannya seperti biasa. Dia bahkan mengantarkan Dodik ke sekolah. Lagipula Mula sudah mati, tidak akan ada yang terjadi.
Setelah mengantarkan Dodik pulang sekolah, Rico memanggil Amelia ke ruangan bawah tanah. Rico yang duduk di kursi melemparkan selembar foto di atas meja. Amelia pun memungut foto itu. Seketika bola mata Amelia membelalak. Itu adalah foto telanjangnya bersama David yang beradu dalam satu selimut.
“Karena Mula sudah terbunuh, terpaksa aku akan mengirimkannya ke pemberitaan.”
“Kutanya bagaimana kamu mendapatkan foto itu?!” Amelia menyentak.
“Tentu saja aku bisa mendapatkannya selama ada kamu.”
“Apa kamu memasang kamera di kamar? Itu tidak mungkin! Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya!”
“Aku memang tidak memasangnya sebelumnya: sebelum aku melihat kalian berdua pulang bersama.”
__ADS_1
“Jadi kamu tidak ke luar kota?”
“Aku sibuk memanah sasaran.” Tiba-tiba Rico melemparkan anak panah terakhir tepat mengenai foto Mula.
Amelia melihat itu. Dia terperangah melihat fotonya juga berada di sana. Padahal terakhir kali hanya foto David dan Mula yang ada.
“Apa kamu yang menculikku?” Amelia mulai terpikirkan sesuatu. Serpihan-serpihan kejadian mulai tergabung menjadi satu.
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
“Mula bilang dia tidak menculikku. Jika bukan Mula, maka hanya kamu yang bisa menculikku.”
“Jadi kamu lebih percaya Mula dari pada aku.”
“Aku mempercayaimu penuh selama enam tahun sebelumnya. Kupikir kita satu pikiran karena kehilangan orang yang sama. Tapi beberapa waktu ini, kamu membuat keputusan yang jauh dari pikiranku.”
“Iya. Memang aku yang menculikmu.”
Amelia sudah menduga, tetapi dia sangat kesal setelah mendengar langsung.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan itu?! Semakin lama kamu malah berulah! Gara-gara ulahmu itu Mula sampai terbunuh saat hendak membunuhku!”
Rico bangun. Dia berjalan melewati meja sehingga berdiri di depan Amelia. Dia menajamkan kedua tatapannya. Kemudian langsung menekan keras kedua pipi Amelia sehingga kepalanya terpaksa mendongak.
__ADS_1
“Orang yang berulah bukan aku, tapi kamu,” geramnya. Wajahnya tidak terlihat tenang. Dia menjadi menakutkan. “Seharusnya kamu tidak membunuh Mula! Jika pun kamu mati itu lebih baik. Aku lebih memilih kehidupan Mula dari pada kehidupanmu. Kehidupan penuh penyiksaan yang membuat Mula ingin mati di saat kematian terlalu jauh untuknya. Tapi kamu mengacaukan segalanya!”