My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
93. Pergi Tanpa Penyesalan


__ADS_3

Amelia pun bangkit. Dengan cepat dia mengambil tas yang biasa di bawanya. Kemudian dia pergi tanpa membawa benda lainnya. Kemudian dia pergi dari kamar itu, bahkan dari rumah juga.


Amelia menyempatkan diri untuk mengambil mobil David yang sebelumnya menginap di tempat parkir. Setelah mengeluarkan mobil itu, Amelia pun mengeluarkan ponsel yang diberikan Alex. Kemudian dia menghubungi Mula.


“Kau tidak mungkin menyesal dengan jaminan yang kutawarkan kepadamu. Terima kasih untuk dua ratus miliyarnya. Aku akan pergi setelah mengirimkan lokasi keberadaan David kepadamu,” kata Amelia lekas. Lalu langsung menutup panggilan itu.


Amelia mengotak-atik ponselnya sejenak. Sesekali dia memijat kepalanya karena merasa pusing. Meski tidak benar-benar meminum air putih itu, Amelia sempat meneguknya sedikit. Itu tidak akan baik untuk Amelia. Kemudian dia mematikan ponsel itu dan melemparnya ke arah jalan di depan mobilnya. Lekas dia melajukan mobil itu meski keadaannya memburuk. Entah ponsel itu terlindas atau tidak, Amelia tidak memedulikan itu lagi. Dia malah mempercepat laju mobilnya.


“Semua ini kau yang mengawali. Saat aku pergi, seharusnya kau melepaskanku. Dengan begitu aku tidak perlu terlibat lagi denganmu. Seharusnya hidup itu adil. Itulah kenapa kita harus melepaskan apa yang berharga bagi kita untuk mendapatkan apa yang berharga bagi orang lain. Tapi kau malah mengambil keadilan itu dariku, bukan ibumu.”

__ADS_1


***


David menggerakkan tangannya ke samping. Dia terbiasa melakukan itu untuk memeluk Amelia. Namun, hanya angin yang bisa direngkuhnya. Bahkan setelah meraba sekitarnya, tidak ada apa pun yang bisa disentuhnya selain selimut. Akhirnya David membuka matanya. Kedua matanya langsung membelalak. Tidak ada Amelia di seluruh ruang kamar. David pun bangun. Namun, kepalanya terasa sakit. Meski begitu, David tetap memaksakan bangkit.


David mencari Amelia di mana-mana. Dia bahkan sampai mengetuk pintu kamar penghuni lain. Kegiatannya itu tidak berhenti sampai ibu pemilik rumah datang setelah berbelanja dari pasar.


“Itu tidak mungkin!” David tidak bisa mempercayai itu. Tidak mungkin Amelia berpamitan kemarin, padahal tadi pagi perempuan itu masih mencium David.


“Jangankan kamu, aku juga tidak percaya itu. Apa semudah itu mendapatkan uang dua ratus miliyar? Bahkan jika aku bekerja seumur hidupku, aku tetap tidak akan bisa mengumpulkannya.” Ibu pemilik rumah itu pergi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Tubuh David menjadi lemas. Dia terduduk di atas lantai. Dua ratus miliyar memang bukan uang yang sedikit. Ibunya bisa memberikan uang itu dengan mudah, sedangkan siapapun tidak akan bisa menolaknya, bahkan Amelia. Kenyataan itu bisa saja terjadi, tetapi David tidak mau mempercayai itu.


Tiba-tiba beberapa orang berpakaian hitam masuk ke dalam rumah. Laki-laki itu langsung memegang David dari segala sisi.


“Apa yang kalian lakukan?! Siapa kalian?!” teriak David bersikeras melepaskan diri.


“Nyonya Mula memerintahkan kami untuk membawa Anda pulang. Jadi bekerja-samalah untuk mempermudah pekerjaan kami,” kata salah satu dari mereka yang berdiri di depan David.


Tentu saja David menolak itu. Mempermudah mereka berarti mempersulit dirinya. David pun terus berusaha untuk melepaskan dirinya. Namun, sekuat apa pun dirinya, kekuatan satu orang tentunya akan kalah dengan kekuatan persatuan. Terpaksa David akhirnya masuk ke dalam mobil mereka yang akan membawanya ke kediaman keluarga Arya.

__ADS_1


__ADS_2