My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
68. Berkembang 3


__ADS_3

“Baiklah. Sekarang tetap kauawasi David dan cari tahu lebih lanjut tentang perempuan itu. Informasi yang kauberikan sebelumnya masih kurang cukup,” titah Dagel sebelum menutup ponselnya.


Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku jas, Dagel berbalik. Mula sudah duduk di depan meja kerja yang berada di belakang Dagel.


“Akhirnya David membuat ulah karena perempuan jalang itu,” kata Dagel melaporkan. “Dia sudah tidak bekerja selama beberapa hari hanya karena perempuan jalang itu meninggalkannya. Lalu sekarang dia masih menerima perempuan jalang itu lagi.”


Berbeda dengan Dagel yang panik, Mula malah bersikap baik-baik saja. Seakan-akan dunia masih berada di dalam telapak tangannya.


“Lalu?” tanya Mula.


“Kita harus bertindak, Kak!” seru Dagel.


“Kenapa? Bukankah lebih baik kita biarkan saja, dengan begitu anak-anakmulah yang akan mewarisi kekayaan keluarga ini? Bukankah sudah kukatakan kalau David menolak, kedua anakmu bisa memiliki semua ini.” Mula melebarkan tangannya untuk memamerkan kursi yang didudukinya.


“Ayolah, Kak. Berhenti memancingku! Kamu hanya menawarkan kekayaanmu kepada anak-anakku, bukan aku. Lagipula aku tidak bisa serakah atau aku tidak akan mendapatkan apa-apa.”

__ADS_1


“Jadi kamu lebih memilih untuk mendukung putraku?”


“Tentu saja. Lagipula dia keponakanku. Dia masih keluargaku. Bagaimana mungkin aku akan berperang dengannya.”


“Baiklah. Kalau begitu hubungi Meng Si Yuan dari Ni Hao Group. Dia punya seorang putri tunggal. Secepatnya dia harus bertunangan dengan David.”


“Tapi mereka dari negara besar yang tentunya memiliki kekuasaan yang sangat besar. Kita tidak akan sebanding dengan mereka.”


“Dengarkan aku Dagel. Kita ini pebisnis, bukan pejabat, sehingga maju atau tidaknya negara tidak akan menjadi ukuran bagi kekuasaan yang kita miliki.”


“Baiklah, Kak. Aku akan segera menghubungi mereka.


***


Amelia menghabiskan makan malamnya sembari melihat aksi memasak David. Menyadari kalau dia sendirian membuat Amelia tidak bisa menikmati makanan. Akhirnya dia menyudahi makannya sebelum makanan-makanan itu habis. Dia pergi sehingga berdiri di samping David. Rupanya David tengah membuat adonan roti. Tiba-tiba Amelia memeluk David dari belakang.

__ADS_1


David terkejut. Dia langsung menghentikan kegiatannya. Kemudian dia tersenyum senang. “Hei, apa yang kaulakukan?” tanyanya.


“Tetaplah fokus pada adonanmu atau rotimu akan berasa tidak enak. Oh, ya, aku lebih suka rasa stoberi dari pada cokelat.”


Amelia mulai membayangkan kencan tengah malam romantis bersama David. Kue, lilin, tanpa langit malam karena cukup di samping ranjang dan mereka berdua. Namun, David malah mulai tertawa. Amelia pun langsung melepaskan pelukan itu karena kesal.


“Apa salah kalau aku menyukai stroberi? Meskipun aku sudah dewasa, aku ini masih perempuan,” belanya. Namun, tawa David malah semakin mengeras.


“Hentikan, David!” teriak Amelia.


Akhirnya David mulai menghentikan tawanya secara perlahan. “Baiklah, baiklah. Aku akan menghentikan tawaku ini. Tapi kau juga harus menghentikan angan-anganmu itu.” David melanjutkan kegiatan memasaknya lagi.


“Apa maksudmu?” tanya Amelia.


“Aku tidak membuat roti ini untukmu,” jawab David terus terang.

__ADS_1


Antara kesal tanpa alasan yang tepat dan malu dengan alasan yang tepat, Amelia telah terjebak oleh keduanya. Dia malu, tapi dia tidak mau mengaku salah. Akhirnya dia tetap mengukuhkan wajah kesalnya.


***


__ADS_2