
Itu tidak benar!
Tidak ada seorang perempuan, satu malam, dan sebuah pikiran yang tenang. Sebuket mawar pun baru saja David buang di tong sampah di depan gedung apartemennya. Kedua matanya bahkan tak bisa terpejam. Keduanya masih terbuka lebar.
Di atas sofa, David duduk berselonjor. Pikirannya sibuk menanyakan apa yang telah dia lakukan beberapa jam lalu. Dengan angkuh dia telah mengatakan tidak akan menemui Amelia lagi. Dalam hatinya dia berjanji akan melupakan cinta untuk perempuan itu. Namun, hanya sekali dia melihat Amelia, dia malah hampir memeluk perempuan itu dan melupakan janji-janjinya. Jika Amelia tidak berbalik tadi, David akan benar-benar memeluknya.
Karena Amelia berbalik, David pun bersikap tidak mengenalnya, sehingga masuk ke sembarang toko. Awalnya dia membeli bungan sembarang, tetapi penjualnya malah memberikan bunga mawar dengan mengukir senyum jail. Senyum jail itu membuat David menemukan sebuah gagasan. Keluar dari toko, dia menciumi bunga itu, bersikap seolah-olah akan memberikannya pada seorang perempuan. Bukankah semua itu sungguh kekanak-kanakan?
Ah, David benar-benar menyesali semua itu. Apa yang akan Amelia pikirkan tentangnya?
Sungguh payah si David. Dia juga tahu kalau perempuan itu tidak mungkin memikirkannya. Masih saja dia memikirkan apa yang akan perempuan itu pikirkan tentangnya.
***
Amelia bekerja dengan mata hitamnya. Sepanjang malam penuh, tidak ada satu pun mimpi yang dia kunjungi. David telah menjebak pikirannya sehingga jalan menuju mimpi telah buntu.
Selama di rumah, tak sekalipun Amelia mengantuk. Setelah berada di restoran dan mengusir pikirannya dengan kesibukan, barulah kantuk sudi menemui Amelia. Itu benar-benar menyusahkan Amelia. Saking mengantuknya, berkali-kali dia mendapatkan teguran dari para rekan kerjanya karena kerap tertidur.
__ADS_1
“Lia! Bangunlah Lia!” kata Chris yang berusaha membangunkan Amelia dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Amelia tidak terkejut. Dia sudah terbiasa karena dalam sehari ini, dia sudah terbangun berkali-kali.
“Ada apa?” tanya Amelia.
“Buang sampah yang ada di dapur. Kau terus saja tertidur. Aku sedang sibuk dengan pekerjaan lain,” kata Chris kesal.
Tanpa protes sedikit pun, Amelia keluar melalui pintu belakang untuk membuangnya, tetapi dia kembali melalui pintu depan.
Saat berada di depan restoran, Amelia bertemu dengan perempuan yang sempat gaunnya dicuri oleh Amelia. Seketika Amelia menjadi tegang. Dia pun menundukkan kepalanya dan hendak melewati seakan-akan tidak ada yang terjadi sebelumnya.
Tidak ada siapapun di sana selain Amelia dan perempuan itu. Amelia tahu kalau dirinyalah yang tengah perempuan itu panggil. Akan tetapi, Amelia tetap menunduk seolah-olah tidak menyadari.
Tiba-tiba, perempuan itu menghadang jalan Amelia.
“Hei, apa kau tidak dengar kupanggil?” tanya perempuan.
__ADS_1
Terpaksa Amelia pun mendongak. “Apa ada yang bisa kubantu?” tanya Amelia dengan suara pelan.
Perempuan itu menyapu pandang pada Amelia dari atas ke bawa. Kemudian dia tersenyum merendahkan. “Kau pencuri gaunku itu, kan?” Perempuan itu mengenali Amelia. Dia pun tertawa.
Amelia diam. Meski perempuan itu membuang waktunya dengan percuma, dia tidak bisa pergi begitu saja. Perempuan itu juga memegang nasibnya.
“Aku tak menyangka kalau kau masih dipekerjakan di sini,” tambah perempuan itu.
“Jadi, apa yang bisa kubantu?” Akhirnya Amelia berani bertanya.
“Apa kau benar-benar bisa membantuku?”
“Jika itu memang kewajiban pelayan.”
“Kalau begitu panggilkan bosmu.”
Amelia membuka matanya lebar-lebar.
__ADS_1
***