
Setelah beberapa hari, Amelia baru menghidupkan ponselnya. Tidak ada yang bisa digunakan dari kedua ponsel itu. Dia belum sempat mengganti kartu simnya. Dia masih merasa lelah. Akhirnya Amelia meminjam ponsel milik tuan rumah untuk menghubungi orang yang ditunggu panggilannya. Sebenarnya Amelia sedikit kesulitan berada di Indonesia sendirian. Dia tidak bisa sedikit pun bahasa Indonesia dan tidak ada yang bisa berbahasa Inggris dari orang-orang di sekitarnya. Sehingga sulit baginya untuk berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
Berulang-ulang Amelia menghubungi nomor itu, tapi tidak sekalipun terhubung. Pemilik ponsel itu sampai kesal karena Amelia tidak juga menyerah. Akhirnya Amelia memutuskan untuk membeli kartu sim baru. Itu akan lebih baik untuknya. Dia akan lebih bebas untuk menghubungi siapapun.
Kendala kembali menghadang Amelia. Dia tidak mengerti sama sekali perkataan sang penjual. Dia tidak tahu harus membeli apa dan bagaimana membelinya.
“Belilah kartu yang ini. Sinyalnya lebih cepat dan harganya lebih murah,” sahut seseorang dari belakang Amelia dengan berbahasa Inggris tiba-tiba.
Untuk pertama kalinya setelah mendarat di Indonesia, Amelia menemukan seseorang yang lancar berbicara dalam bahasanya. Apalagi suara itu terdengar tak asing. Amelia membelalakkan matanya menyadari siapa pemilik suara itu. Amelia pun berbalik … benar … itu David.
“Biar aku yang membelikan,” tawar David seakan-akan tidak ada ketegangan yang pernah terjadi.
__ADS_1
Amelia menjadi kesal. Saat David membuka dompetnya untuk membeli kartu sim itu, Amelia langsung berbalik dan meninggalkan David. Dia berjalan cepat agar David tidak berhasil mengejarnya. Namun, harapan itu hanya kemustahilan. David bahkan meraih pundaknya setelah Amelia memasuki rumah. David menarik pundak Amelia sehingga menoleh ke arahnya, lalu menciumnya. Amelia langsung mendorong David dengan keras sehingga melepaskannya.
“Apa yang kau lakukan?!” seru Amelia dengan suara rendah. Khawatir jika suaranya akan mengganggu para penyewa lainnya. “Ini bukan rumahmu dan rumahku, jadi kau tidak bisa bertindak semaumu.”
Saat Amelia berbalik, rupanya ibu pemilik rumah ini berada di depannya. Amelia menjadi khawatir kalau ibu itu akan mengusirnya.
“Siapa dia?” tanya ibu itu dalam bahasa Indonesia.
“Aku tidak bisa membiarkan laki-laki dan perempuan yang belum menikah menginap dalam satu kamar di rumahku,” tambah ibu itu.
David langsung memeluk Amelia dan tersenyum ramah. “Tenang saja, Bu. Sebenarnya kami sudah menikah. Tapi istriku ini sedang marah kepadaku. Maafkan kami atas gangguan yang kami sebabkan,” jawab David.
__ADS_1
Amelia tidak tahu arti perkataan David, tetapi dia tahu kalau David tengah mengambil kesempatan darinya. Amelia ingin melepaskan diri dari pelukan David. Namun, dia menyerah karena tidak mengerti jalan cerita ini.
“Kalau begitu tunjukkan surat-surat kalian.” Ibu pemilik rumah itu menadahkan tangannya.
“Sebenarnya kami sempat bertengkar. Jadi kami tidak sempat membawa surat-surat itu. Istriku terburu-buru kabur dari rumah dan aku terburu-buru mengejarnya untuk meminta maaf darinya,” bohong David.
“Baiklah. Untuk saat ini aku akan mempercayai itu. Tapi bawakan surat-surat itu dalam seminggu atau kalian harus mengangkat kaki dari rumah ini.”
“Baiklah, Bu. Kami akan membawanya.”
Tentunya David tidak berencana membawa surat-surat itu. Lagipula dia masih tidak memilikinya. Dia hanya berencana untuk membuat Amelia mengangkat kaki bersamanya dari rumah ini dalam seminggu.
__ADS_1
Setelah ibu pemilik rumah itu pergi, David pun mendorong punggung Amelia sampai memasuki kamar berukuran kecil itu. Kemudian dia menutup pintu itu serapat mungkin.