
Meski semalam Amelia tidur sendiri, saat terbangun Amelia terkejut karena tidak menemukan David di sampingnya. Dia meraba tubuhnya. Ternyata dia masih mengenakan mantel mandinya. Itu berarti tidak terjadi apa pun semalam. Lalu ke mana David pergi?
Amelia langsung bangun. Tanpa mencuci mukanya lebih dahulu, dia keluar dari kamar. Dia mengira David benar-benar tidak kembali semalam, tetapi ternyata tidak, David sempat kembali entah semalam atau tadi pagi.
Banyak makanan telah tersaji dan memenuhi meja makan. David sempat kembali dan menyiapkan semua itu untuk Amelia. Amelia pun mendekati makanan itu dan duduk di atas kursi bersiap untuk menikmatinya.
Sebuah surat ditinggalkan di sana. Amelia pun membacanya.
Maaf, aku tidak bisa menemanimu sarapan.
Kau bisa melakukan apa pun di sini, tapi jangan pernah keluar dari sini tanpa bersamaku. Aku takut kehilanganmu.
Aku tidak pernah menemui perempuan mana pun dengan membawa sebuket mawar dan aku tidak pernah membawa perempuan lain ke sini. Makanya kau tidak akan menemukan pakaian perempuan di sini.
Mengecewakan, bukan? Karena aku tidak pernah tidur dengan perempuan lain, kau terpaksa harus mengenakan pakaian laki-laki milikku.
__ADS_1
Oh, ya. Tunggulah aku. Kita akan makan malam bersama sepulang aku bekerja.
Milikmu.
Amelia tersenyum membacanya. Rupanya David memang melihatnya malam itu, saat David membeli sebuket mawar di toko bunga, dan David tahu kalau Amelia melihatnya. Karena khawatir Amelia salah paham, David menjelaskannya dalam surat.
Setelah selesai makan, Amelia bergegas ke dalam kamar. Dia menggeledah seluruh lemari pakaian yang David miliki dan mengambil sepasang pakaian.
Alex mengatakan kalau keluarga David adalah salah satu keluarga terkaya di Indonesia. Setelah melihat tempat yang ditinggali David, siapapun tidak akan berpikir demikian. Laki-laki itu hanya tinggal di apartemen berkamar dua. Dia tidak memiliki ruang kerja atau ruang khusus pakaiannya.
Untuk kesekian kalinya David merasakan waktu berjalan sangat lambat. Dia sampai tidak fokus pada pekerjaannya karena berulang-ulang melihat angka pada jam tangannya. Saat waktu bekerjanya selesai, David cepat-cepat menuju parkiran mobil dan segera membawa mobilnya melesat.
Baru saja keluar dari area parkiran, sekilas David melihat wajah laki-laki yang tak asing. Itu adalah Gerald Mario. Rupanya laki-laki itu belum menyerah.
David mempercepat laju mobilnya. Setelah melaju cukup jauh, dia menghentikan mobilnya untuk menghubungi sekretarisnya yang masih belum pulang bekerja.
__ADS_1
"Aku melihat pengacau itu lagi."
"Laki-laki yang memaksa menemuiku kemarin."
"Cepat urus dia karena aku akan makan malam di sana nanti."
Selesai mengatakan apa yang ingin dikatakannya, David pun memutuskan panggilannya. Kemudian dia melajukan kembali mobilnya.
"Apa lagi yang pengacau itu inginkan? Padahal aku sudah memberikan yang pantas dia dapatkan. Semoga dia tidak berusaha mengacaukan urusanku atau dia benar-benar tidak akan bisa mengacaukan urusan orang lain lagi," gumam David.
Sesampainya di apartemen, Amelia menyambut David dalam balutan pakaian David. David baru menyadari kalau perempuan itu benar-benar kurus sampai membuat David tertawa karena tidak cocok dengan pakaiannya.
Berbeda dengan David yang tertawa dan tetap santai, Amelia malah merasa cemas.
"Apa kita benar-benar akan makan malam di luar dengan aku mengenakan ini?" Amelia menunjukkan pakaiannya.
__ADS_1
Amelia tahu kalau pakaian yang dikenakannya tidak sepantasnya dikenakan untuk makan malam di luar. Akan tetapi, dia tidak bisa membeli pakaian lain atau mengambil pakaiannya karena David melarangnya keluar dari apartemen.