
“Ma-maafkan aku ….”
David menoleh. Dia tidak mengerti untuk apa Amelia menyesal.
“Sudah membunuh ibumu.” Itu adalah kalimat yang hati Amelia katakan. Sedangkan mulutnya tidak mampu mengatakan kebenaran. Dia pun mengatakan, “Seharusnya aku tidak menanyakan itu.”
“Diam pun tidak merubah apa pun,” balas David.
Hati Amelia terenyuh. Dia melupakan rasa bersalahnya. Hatinya telah dipenuhi kesedihan David.
“Kamu bisa menggunakan bahuku,” kata Amelia menunjukkan bahunya.
“Bagaimana dengan Rico?” David menatap bahu itu ragu-ragu.
“Gunakan saja.”
Pelan-pelan David pun meletakkan kepalanya di atas bahu Amelia. Karena tidak mampu menangis, dia pun merengek, “Akhirnya semua orang meninggalkanku.”
Tangan Amelia bergerak mengelus lembut kepala David.
“Kakakku meninggalkanku yang menyayanginya lebih dari siapapun; Lia meninggalkanku karena aku sangat menyayanginya; papaku meninggalkanku, padahal kukira itu tidak mungkin mengingat perjuangannya dalam kesakitan selama bertahun-tahun; kini ibuku juga meninggalkanku, padahal dia tidak pernah melepaskanku sebelumnya.
Aku sangat membenci mamaku sebelumnya. Dialah orang yang membuat semua orang meninggalkanku. Tapi dia mamaku. Sekeras apa pun aku membencinya, akhirnya aku menangisi kepergiannya. Kukira dia akan terus menjadi orang yang kuat. Kini aku menyesali tindakanku yang membuatnya memilih kematian dibandingkan kehidupan menyedihkannya.”
David melepaskan kepalanya dari bahu Amelia. Dia pun menatap Amelia. “Seandainya Lia masih ada, kuharap dia akan mengatakan, ‘tidak apa. Aku masih di sini’. Maka aku benar-benar akan lebih baik.”
“Tidak apa. Aku masih di sini,” kata Amelia mengabulkan harapan David.
“Tapi kamu bukan Amelia ….”
__ADS_1
“Aku Amelia …..”
“Bukankah kamu bilang kamu Sofia …?”
“Aku berbohong ….”
“Kenapa …?”
“Karena aku memiliki urusan yang belum terselesaikan ….”
“Lalu kenapa kamu mengatakannya sekarang …?”
“Karena urusan itu telah selesai ….”
“Benarkah …?”
Wajah David berseri-seri seketika. “Kamu benar Liaku. Kamu masih hidup. Aku begitu bodoh tidak mendengarkan hatiku yang terus memanggilmu.” Kini David tahu kenapa jantungnya berdegup kencang karena perempuan ini.
Amelia ikut tersenyum. “Tak apa. Sekarang kamu bisa memanggilku dan kamu bisa mendengarkannya.”
“Lia … Amelia ….” David langsung memeluk Amelia seerat mungkin. Takut-takut Amelia akan lenyap setelah mengejapkan mata.
Amelia membalas pelukan itu. Setelah enam tahun, inilah kali pertamanya merasa lega tanpa memikirkan penyesalan pada kakaknya atau pada Mula.
***
Amelia terkejut karena senyum David adalah yang pertama dilihatnya. Kemudian dia tersenyum juga. Ini bukan mimpi.
“Kamu sudah bangun?” tanya Amelia.
__ADS_1
“Tidak,” jawab David sembari menyisihkan rambut Amelia yang menutupi wajah. “Aku bahkan tidak tidur.”
Amelia mendesah dan melirik sinis. Laki-laki ini mulai bersikap tidak dewasa.
“Aku takut saat terbangun kamu malah menghilang,” tambah David.
Amelia merasa geli. Laki-laki itu menggodanya.
Tiba-tiba David menyentuh pipi Amelia, bukan mengelus, tetapi mencubit. “Aaah! Daviiid!” jerit Amelia.
David tertawa. Setelah enam tahun akhirnya bertemu lagi, inilah kali pertama Amelia melihat wajah David secerah ini.
“Tapi kamu benar ternyata. Kamu benar-benar ada … Ameliaku ….” David pun melepaskan cubitannya. “Bagaimana ini bisa terjadi? Apa kamu mengujiku? Aku bahkan tidak bisa mengenalimu. Lalu bagaimana dengan tanda lahir di punggungmu?”
“Ah … ini?” Amelia meraba punggungnya. “Aku membuangnya. Kupikir itu tidak akan bagus di tubuhku,” jawab Amelia berbohong. Untuk menjadi Sofia sepenuhnya, Amelia harus membuang apa pun yang menjadi ciri khas Amelia.
.
.
.
.
.
.
'...' : dipakai untuk kalimat yang tidak selesai, atau penurunan suara. Sedangkan yang di atas, itu dipakek buat nurunin suaranya.
__ADS_1