
Amelia segera bangun setelah membuat David terjatuh. David melihat senyum jahil pada wajah Amelia. Dia pun melukiskan wajah kesal. Segera dia berdiri untuk menyamakan posisinya dengan Amelia.
“Kau sudah keterlaluan pada kekasihmu,” protes David. “Memangnya apa yang sudah kuambil darimu?”
“Kau sudah mengambilku. Aku ini milikku sendiri,” jelas Amelia.
“Benarkah?” David mengambil satu langkah lebih dekat dengan Amelia sehingga sepatu mereka bersentuhan. “Tapi, bukankah aku sudah menukarmu dengan diriku?”
Amelia tersenyum malu. Dia tidak bisa menjawabnya. Dia pun berlari ke tempat pertamanya.
“DAVID!” teriaknya karena David tidak mengejarnya.
Setelah mendapatkan teriakan dari Amelia, David pun berlari kecil mendekati Amelia.
“Lihatlah, apa yang telah kubuat.” Amelia menunjukkan istana pasirnya yang berukuran kecil dengan tersenyum bangga. Dia bahkan berkacak pinggang. Sayangnya benda itu tidak benar-benar cocok untuk disebut sebagai istana pasir. Benda itu lebih cocok untuk disebut sebagai tempat kucing membuang kotorannya.
__ADS_1
David menepuk dahinya. “Kau memang tidak berguna, Sayang. Jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengumpulkan pasir yang sama-sama tidak bergunanya dengan dirimu. Kau bahkan tidak memiliki kucing yang akan kau bersihkan kotorannya. Dan jangan berpikir kalau kau akan merawatnya. Aku membenci bulu apa pun mengisi tempat tinggalku,” ejek David.
Amelia merengut kesal. “Lihatlah dirimu sendiri.” Amelia mengarahkan telapak tangannya kepada David. “Kau lebih tidak berguna.” Amelia berjalan melewati David menuju tempat David pertama—di bibir tebing.
David mengikuti Amelia dan berdiri di samping perempuan itu.
“Kau sibuk melihat air yang kelam itu sampai tidak menghiraukan aku,” tegas Amelia.
Tiba-tiba David memeluk Amelia dari belakang. Dia memeluk dengan sangat kuat sampai Amelia hampir kesulitan bernapas. Namun, Amelia tetap diam. David terlihat tidak lagi bersemangat. Laki-laki itu telah terbawa suasana.
“Kegelapan yang menakutkan. Tidak akan ada siapapun di bawah sana, hanya keheningan,” tambah Amelia.
“Aku mungkin akan berada di bawah sana jika aku kehilanganmu.”
Seketika Amelia menolehkan kepalanya. “Apa maksudmu?” tanyanya. Dia menjadi khawatir.
__ADS_1
“Tidak ada bedanya dengan air itu. Jika aku kehilanganmu, hanya ada kegelapan dalam diriku. Maka berjanjilah untuk tidak meninggalkanku apa pun alasanmu atau aku akan jatuh ke sana,” ancam David.
Amelia tertawa pelan. Kemudian dia mengusap wajah David dengan lembut. “Kau memang bodoh. Jangan lakukan itu! Lagipula aku tidak akan meninggalkanmu!” tegas Amelia.
“Aku percaya kepadamu, karena itu aku merelakan jiwaku untukmu.”
Wajah Amelia menjadi kecewa. “Jangan pernah lakukan itu, bahkan jika aku benar-benar meninggalkanmu. Di dunia ini aku hanya memilikimu. Jika kau juga pergi, lantas siapa yang akan mengingatku?”
“Karena itu jangan tinggalkan aku agar kita bisa sama-sama saling mengingat.”
Amelia pun menggoreskan senyum lebar dengan mengangguk. Dia mengiyakan saja permintaan David, tanpa tahu kalau permintaan itu bukanlah sesuatu yang sepele.
Sepanjang hari, Amelia dan David telah menghabiskan waktu mereka dengan bermain-main di pantai. Saat hari mulai sore, mereka pun kembali ke penginapan. Mereka tidak tertarik untuk menikmati kebersamaan menatap tenggelamnya matahari. Mereka lebih tertarik untuk menghabiskan waktu dengan berkencan romantis bersama lilin, ranjang, tanpa langit malam, dan hanya mereka berdua.
Sesampainya di penginapan, David terus mengomel karena ide Amelia untuk memesan dua kamar terpisah. Bulan madu adalah masa untuk menghabiskan waktu bersama-sama, tapi perempuan itu malah menggambar garis batas. Padahal akhirnya mereka juga akan menghabiskan malam bersama.
__ADS_1