
Levina duduk ke kursinya lagi dengan lemas. Meski mendapatkan kembali apa yang diinginkannya, dia sama sekali tidak senang. Amelia sangat baik, tapi malah dia yang dimanfaatkan sendirian. Baik Levina, Alex, dan David telah menipu dan mengambil keuntungan dari ketidaktahuan Amelia.
Sesampainya di apartemen, Amelia melihat David tengah duduk di atas sofa. Laki-laki itu tidak tidur, tapi tidak menyambut kedatangannya dengan senyuman. Amelia langsung duduk di samping David dan memeluk tangannya dengan erat. Dia juga menyandarkan kepalanya pada bahu David.
“Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku,” pinta Amelia.
“Apa kau benar-benar mencintaiku?” tanya David.
Amelia diam. Dia memikirkan sebuah jawaban. Tak lama, akhirnya Amelia menjawab, “Aku sudah memberikan restoran kepada Levina. Jadi hanya kau satu-satunya harta yang kumiliki. Kau membeliku dengan dirimu. Jadi, meski kau mengembalikanku, aku tidak akan mau mengembalikanmu.”
Sebenarnya Amelia sudah tahu kalau David tahu apa yang terjadi malam itu. Dia mengetahui dari Gerald, saat laki-laki itu memaksa Amelia untuk mengembalikan perusahaan milik kakaknya. Amelia tahu kalau David membiarkan dirinya sendirian pada masa-masa terendahnya, membiarkan dirinya merasakan kesepian. Amelia juga tahu kalau David sengaja melakukan itu agar dirinya menggantungkan hidupnya kepada David. Itu disebut mengambil kesempatan dalam kesempitan. Meski tahu semua itu, Amelia tidak akan pernah melepaskan David. Bahkan jika David lebih buruk dari itu, Amelia tidak akan melepaskan David. Amelia tidak mau menyesali keputusannya untuk kedua kalinya. Meski David egois dan lebih mencintai dirinya sendiri, bukan berarti David tidak mencintai Amelia. Lagipula wajar jika seseorang mencintai dirinya dibandingkan orang lain. Lagipula dicintai lebih baik dari mencintai. Setidaknya Amelia hanya akan menerima cinta tanpa harus merasakan luka.
“Lia,” panggil David.
“Iya.”
__ADS_1
“Ayo berbulan madu.”
Amelia langsung melepaskan pelukannya. Dia terkejut dibuat David.
“Tapi kita kan belum menikah!” seru Amelia.
“Karena aku ingin menikahimu, makanya aku mengajakmu berbulan madu.”
“Maksudnya kau melamarku, lalu kita menikah, lalu kita berbulan madu?”
“Yang benar berbulan madu dulu, baru menikah.”
“Yang benar aku ingin memiliki anak darimu.”
Amelia membeku. Itu adalah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
__ADS_1
“Jika kau memiliki anak dariku, akan lebih mudah bagi kita untuk menikah,” tambah David.
“Sebentar.” Amelia menjadi lemas. Kemudian dia bangun. “Biar kupikirkan dulu.”
Amelia hendak melangkah, tetapi David langsung menghentikannya dengan memeluknya dari belakang.
“Bukankah kau juga mengakui kalau kau itu milikku. Jadi apalagi yang akan kaupikirkan? Lagipula aku tidak akan meninggalkanmu,” bujuk David.
David benar. Lagipula memang itu yang Amelia inginkan: tetap hidup bersama David. Jika dia bisa menikahi David, dia tidak perlu takut kehilangan apa pun dan roda kehidupannya akan berhenti berputar. David akan bersamanya selamanya. Jadi apa lagi yang perlu dipikirkan?
“Baiklah,” jawab Amelia dengan pasrah.
Lagipula suatu hari nanti Amelia akan memiliki seorang anak. Tidak ada bedanya dengan segera selain waktu yang lebih cepat.
Kemudian Amelia pergi ke kamar tamu dan meminta David untuk membiarkannya sendirian menenangkan diri. Meski Amelia sudah mengambil keputusan, Amelia masih terkejut. Apalagi dia masih merasa sangat muda untuk menjadi seorang ibu.
__ADS_1
Malam itu Amelia dipenuhi kegelisahan. Dia ragu-ragu pada keputusan yang diambilnya secara kilat. Namun, setelah dia sampai di tempat mereka akan berbulan madu lusanya, seluruh kegelisahan itu hilang. Keraguannya lenyap tersapu ombak pantai.
***