
Pagi hadir lagi seperti sebelumnya, tetapi hari dimulai dengan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Saat mata Amelia terbuka; dia tidak perlu meraba tempat di sekitarnya hanya untuk menggenggam empuknya bantal, karena saat itu hanya ada satu bantal di bawah kepalanya: sebuah tangan; dia juga tidak perlu menurunkan tangannya, karena saat itu tangannya tidak bisa bergerak karena sebuah tangan memeluknya dengan erat; dan untuk kedua kalinya David menjadi orang pertama yang dilihatnya setelah bangun dari tidur. Ah, Amelia masih tidak biasa dengan itu. Itu masih seperti mimpi baginya.
Amelia menghabiskan waktu paginya dengan berlama-lama memandang mata terpejam David. Laki-laki itu tidur dengan sangat tenang. Seakan-akan tidak ada masalah lagi yang perlu dipikirkan. Kini Amelia tahu seberapa besar David menyukainya, meski sikap yang dimiliki laki-laki itu banyak yang tidak Amelia sukai. Baru kemarin laki-laki itu menatap Amelia dengan penuh kekecewaan, seakan-akan dunia mereka berdua akan David runtuhkan. Namun, kini pelukan David membuktikan kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari dunia yang sempat terancam itu.
Tiba-tiba David membuka kelopak matanya. Seketika Amelia terkejut, tetapi dia tidak bisa berpura-pura tidur karena David sudah memergokinya. Amelia juga tidak bisa lari karena David telah menguncinya di dalam pelukan. Apalagi mereka tidur di atas sofa setelah menghabiskan malam dengan mengadu bibir, sehingga Amelia tidak bisa bergerak sedikit pun.
“Ka-kau sudah bangun?” Akhirnya Amelia mengatakan itu. Dia bingung harus memulainya dengan apa. Dia mulai bertingkah malu mengingat apa yang telah mereka lakukan kemarin malam.
David tersenyum menggoda. “Aku sudah terbangun dua jam lalu,” jawab David.
“A-apa?! Ba-bagaimana mungkin?!” Amelia menjadi gugup. Jika benar, maka dia telah tertangkap basah telah menatap David cukup lama.
“Kenapa wajahmu menjadi merah?” tanya David dengan nada menggoda. Dia memindahkan tangannya untuk mengusap pipi Amelia yang memerah.
“Itu sudah dari tadi begitu,” elak Amelia.
“Benarkah? Tapi satu setengah jam lalu tidak seperti itu.”
__ADS_1
“Sudahlah! Berhenti menggodaku! Sebaiknya aku bangun.” Amelia langsung bangun, tetapi David mendorongnya sehingga dalam posisi tidur lagi. David malah lebih mengeratkan pelukannya.
“David, lepaskan!” seru Amelia.
“Tapi aku masih ingin memelukmu,” tolak David.
Akhirnya Amelia diam. Dia mengalah.
David berhenti menggoda Amelia. Dia menjadi diam. Matanya juga mulai terpejam. Amelia melihat itu. David terlihat sangat tenang. Amelia berpikir untuk membicarakan sesuatu dengan David. Dalam keadaan tenang seperti ini, akan lebih mudah bagi David untuk mencerna maksud perkataan Amelia.
“David,” panggil Amelia.
“David,” panggil Amelia lagi. “Tentang beberapa hari lalu, sebenarnya aku bersama Alex, tapi—“
“Hentikan,” potong David.
“David.” Amelia menjadi cemas jika perkataannya menyinggung David.
__ADS_1
“Aku tidak peduli tentang itu dan cukup dengan tidak menemui Alex lagi.”
“Tapi aku tetap harus menjelaskan kepadamu atau itu akan menjadi kata kosong untukmu. Sebenarnya Alex—“
“Jika aku tidak peduli, bagaimana aku bisa merasakan kekosongan itu? Hentikan! Aku tidak mau tahu!”
“Apa kau tidak mempercayaiku?”
“Mempercayai seseorang adalah yang paling menakutkan bagiku. Kenyataannya: sedekat apa pun kita dengan orang itu, kita tetap tidak akan bisa melihat hati mereka.”
“Tapi kita masih bisa mengenali mereka.”
“Ada satu orang yang kukira sangat kukenali, tapi malah melanggar kepercayaanku.”
“Bolehkah kutahu siapa dia?”
“Kakakku.”
__ADS_1
***
Maaf, karena kesibukan, jadi enggak bisa up beberapa hari lalu, tapi sekarang bakal tak up setiap hari. Bukan diusahain, tapi emang tak up tiap hari. Dan kabar baiknya, season satu akan berakhir bulan ini.