My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
55. Berkhianat Lagi 3


__ADS_3

Akhirnya David tidak benar-benar berbuat sesuatu. Akhirnya dia berdiam saja. Dia diam di dalam mobil hitam yang terparkir jauh di depan restoran tempat Amelia dan Alex bertemu. Sebelumnya dia berniat untuk memaksa masuk ke dalam restoran dan menemani Amelia di sampingnya. Akan tetapi, itu hanya akan membuatnya tidak terlihat keren dan bodoh. Itu adalah keputusan buruk yang akan mempermalukan dirinya, sekaligus menjauhkan dirinya dengan Amelia.


Cukup lama David berdiam di dalam mobil sembari menunggu pintu restoran itu terbuka. Itu membuatnya bertanya-tanya apa yang dilakukan dua orang itu di sana. Ah, itu membuatnya teringat pada kali kedua pertemuannya dengan Amelia. Semoga saja kejadian yang terjadi antara dirinya dan Amelia tidak terjadi dengan kedua orang itu, apalagi cerita Emma. Oh … itu tidak mungkin terjadi. Tapi apa yang sebenarnya dilakukan oleh kedua orang itu?


David berniat untuk turun dari mobil, kemudian tidak jadi. Itu terjadi berkali-kali sampai akhirnya Amelia keluar dari restoran itu. David tersenyum senang, tetapi senyum itu langsung turun saat melihat langsung Alex berjalan di belakang Amelia. Senyum itu menjadi terbalik saat Alex memberikan pelukan hangat kepada Amelia. David memang tinggal di negara bebas, tapi David dibesarkan di Indonesia. David memang terbiasa dengan gaya hidup bebas di negara ini. Dia bahkan sampai tidur dengan Amelia di pertemuan pertama mereka. Namun, David belum terbiasa untuk melihat gaya hidup bebas yang terjadi pada kekasihnya dan laki-laki lain. Itu juga tidak akan pernah terjadi. David pun membuka pintu mobilnya. Akan tetapi, tidak sampai kakinya memijak jalan, David mengurungkan niatnya. Dia malah mengambil ponselnya untuk menghubungi Amelia.


Selama beberapa saat, panggilannya tidak diterima oleh Amelia. Sampai Alex pergi, barulah Amelia mengangkatnya. Ingin sekali David berteriak keras, tetapi dia lebih takut kalau Amelia sampai lari darinya.


“Oh, hai David. Bagaimana kabarmu?” sapa ramah Amelia.


“Jadi kau masih mengingatku?” David membalas dingin.


“Apa maksudmu?” Amelia tidak mengerti.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Kau ada di mana sekarang?”


“Tentu saja di rumah. Memangnya di mana lagi?”


“Benarkah? Sepertinya aku mendengar suara mobil yang melaju di sekitarmu?”


“Benarkah?” Amelia diam sejenak. David melihat pandangan Amelia berputar ke sekitarnya. Perempuan itu terlihat bingung. Dia sampai menggaruk-garukkan kepalanya seakan menggali ide. “Itu tidak mungkin. Aku benar-benar berada di rumah.”


David tidak membalas. Dia menunggu sampai sejauh apa Amelia membohonginya.


“Oh.” David mengiyakan saja. Dia turut mengikuti permainan Amelia.


“Apa kau akan pulang?”

__ADS_1


“Iya.”


“Apa?! Kenapa tiba-tiba?” Amelia sangat terkejut. Dia menjadi panik.


“Kenapa aku merasa kau tidak senang?”


“Oh, tentu saja tidak. Kau sudah tidak pulang selama beberapa hari ini. Kenapa aku harus tidak senang? Sepertinya suasana hatimu sedang buruk, ya?” Amelia tertawa pelan untuk menyembunyikan kepanikannya.


“Aku sudah berada di dekat rumah. Mungkin sepuluh menit lagi aku sampai,” kata David berbohong.


“Benarkah?” Amelia menjadi semakin panik, tetapi senyumnya malah semakin lebar. “Wah, aku akan dengan senang menyambutmu. Aku—“


Seketika David mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, tanpa satu patah kata perpisahan. Kemudian dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa enggan melihat Amelia.

__ADS_1


***


__ADS_2