My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
32. SEASON 2: Panggilan Tiba-tiba


__ADS_3

Setelah mengusir Amelia, David bekerja keras sampai tidak pulang setelah larut. Sekarang rumah seperti nerakanya: dipenuhi kenangan-kenangan yang telah pergi. David harus bisa melupakan Amelia. Meskipun David masih mencintainya, David tidak akan hidup bahagia bersama perempuan itu. Karena saat menatap wajahnya, David akan melihat senyuman menakutkan dan sebilah pisau berdarah.


David akan pulang setelah pukul dua belas malam. Karena setelah jam itu, dia tidak akan bisa melakukan apa pun selain tidur. Sebelum tidur, David melihat ponselnya yang berada di atas meja. Tadi pagi dia meninggalkannya. David pun membuka layar ponsel itu. Tiga puluh panggilan tak terjawab dari nomor asing yang sama mengejutkan David. Siapa orang yang memanggilnya sampai sebanyak itu? David pun memanggil kembali nomor itu. Namun, nomor itu sudah tidak aktif. David lekas mengabaikannya dengan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Esoknya saat hari masih sangat pagi, ponsel David bergetar lagi. Dia sudah bergetar berulang-ulang sampai membuat David tidak bisa nyenyak dari tidurnya. David akhirnya bangun untuk menerima panggilan itu. Rupanya itu panggilan dari nomor asing yang berbeda dari nomor yang kemarin.


Ada apa ini? Kenapa banyak nomor asing yang menghubungi David berulang-ulang?


“Om Gila ….” Itu adalah Dodik. Meski David tidak mengenali suaranya, hanya Dodik yang berani memanggilnya seperti itu.


Sebenarnya David masih marah kepada Amelia, tetapi setelah mendengar suara buah hatinya, kemarahan itu meluluh.


“Iya. Ada apa, Nak?” Setelah beberapa hari, akhirnya David tersenyum.


“Ini aku … Dodik. Aku yang memanggilmu kemarin menggunakan ponsel pengasuhku. Apa Om Gila tahu di mana papa dan mamaku?”

__ADS_1


David mengernyitkan dahinya. “Tidak. Memangnya di mana mereka?”


“Aduh, Om! Kalau aku tahu aku tidak akan menanyakanya padamu.”


David tersenyum kecil. Sepertinya yang Amelia ceritakan, Dodik memang anak yang cerdas.


“Apa yang terjadi?” tanya David.


“Sebenarnya papaku bilang kalau dia tidak pulang dalam tiga hari, aku harus menghubungimu. Dia juga menitipkan sesuatu padaku. Tapi dia sudah tidak pulang selama seminggu ini. Mamaku juga tidak kembali selama dua minggu ini. Sebenarnya apa yang terjadi, Om Gila? Kenapa mereka semua pergi?”


David melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Sesampainya di kediaman Rico Bintara, David melihat Dodik yang gelisah di ruang tamu. Anak kecil itu menunggunya. David langsung memeluknya seerat mungkin: darah dagingnya yang baru diketahuinya.


“Om Gila, lepaskan! Kamu menyakitiku!” seru Dodik meronta-ronta ingin lepas dari pelukan David. Berada di sisi David saja sudah tidak nyaman untuknya.


David tersenyum tipis. Sekejap, dia melupakan kecemasannya karena kegemasan anaknya.

__ADS_1


“Mana barang itu?” tanya David.


Dodik membuka genggaman tangannya. Sebuah kartu memori berada di sana. “Ini, Om Gila.”


David mengambil kartu memori itu. Dia memerhatikannya sejenak.


“Apa harus kuambilkan laptop?” tawar Dodik.


“Tidak perlu,” tolak David. “Biar kuambil sendiri. Di mana ruangan kerja Om Rico …, maksudnya papamu?”


“Di sebelah kamar.” Dodik menunjuk lantai atas.


David bangun untuk segera ke ruangan atas. “Kamu bisa kan di sini sendirian?” tanya David.


“Selain gila, kamu itu bodoh ya? Apa kamu pikir aku akan sendirian di rumah sebesar ini?” Dodik melebarkan tangannya.

__ADS_1


Dasar Dodik yang menggemaskan. David menggosok kepala anak itu dengan tangannya sebelum pergi.


__ADS_2