
Sesampainya di ruangan kerja Rico, David tidak menemukan laptop apa pun di atas meja. Dia pun mencarinya ke mana-mana. Saat membuka lemari, David malah menemukan selembar foto. Ah … David juga menemukan laptop di bawah foto itu.
David mengambil foto itu lebih dulu. Itu adalah foto Rico dan Amelia. Dilihat baik-baik, kedua orang dalam foto itu masih sangat muda. Tidak mungkin Amelia. Perempuan itu pasti Sofia. Tapi kenapa malah Amelia yang mejadi istri Rico? Ke mana Sofia? Apa yang sebenarnya terjadi sampai mereka menyembunyikan kebenaran status mereka dari Dodik?
David beralih memegang laptop itu. Dia membawanya ke atas meja dan segera menghidupkannya. Lalu memasang kartu memori itu di sana. Rupanya hanya ada satu video saja. David pun memutarnya.
“Hai, David,” sapa Rico yang mengisi video itu. “Jika ada Dodik di sana, sebaiknya pindahkan dia ke kamar atau dia akan terluka setelah mendengarkan apa yang kukatakan. Kuberi kamu waktu lima menit.”
David menoleh ke arah pintu yang terbuka. Tidak ada siapapun di sana. David pun bangun untuk menutup sampai menguncinya. Kemudian dia kembali ke kursi dan menunggu sampai lima menit itu berlalu.
“Sudah?” Rico melanjutkan percakapan. “Lagipula kamu bisa memutarnya mundur.” Bodohnya David malah menunggu lima menit itu berlalu.
__ADS_1
“Kalau kamu berhasil mendapatkan kartu memori ini dari Dodik, berarti kamu akan menyesal setelah menontonnya.” David mengernyitkan dahinya. “Kamu akan mulai bertanya-tanya, tapi tidak mendapatkan jawaban apa pun dariku. Karena kamu tidak akan bisa bicara lagi dengan kami, maksudku Liamu juga.”
Bahkan sebelum video itu selesai, David sudah bertanya-tanya. Tubuhnya menjadi bergetar setelah mendengar kalimat terakhir Rico. “Apa maksudmu?” gumam David.
“Apa maksudku?” Seolah-olah Rico tahu apa yang akan David pikirkan. “Jika kamu tidak menanyakannya, sebaiknya tanyakan sekarang. Karena aku akan menjawabnya sekarang.
Karena kamu mengusir Lia, kasihan sekali dia, tidak punya tujuan lagi, jadi aku membawanya pergi: pergi darimu dan dari dunia ini.”
Mata david melotot. Napasnya menjadi berat. Tangannya yang bergetar menyentuh pinggiran layar laptop.
Kakak? Apa yang Rico maksudkan adalah Sofia? Bukannya Amelia tidak punya keluarga?
__ADS_1
Ah, rupanya David masih jauh dari mengenali Amelia.
“Lia memang tidak mendapat apa pun, tapi aku mendapat apa yang selalu kuinginkan: balas dendam dengan hasil yang sama.
David-David. Seharusnya kamu menjaga ibumu dengan baik. Dengan begitu akan tidak akan merasakan kehilangan Sofiaku dan kamu tidak akan merasakan apa yang kurasakan.”
Tiba-tiba video itu menjadi gelap. Rupanya video itu sudah selesai. Padahal David belum mendapatkan kejelasan. David mengotak-atik laptop itu untuk mendapatkan video yang lebih panjang. Namun, video itu memang cukup sampai di sana. Tidak ada apa pun di laptop itu selain dokumen-dokumen pekerjaan.
Ah, sial! David meninjukan kedua genggamannya di atas meja. Wajahnya memerah. Matanya juga memerah menahan air mata. Dia merasa putus asa.
Setelah memikirkan arti perkataan Rico baru saja, David bergegas pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
“Om Gila mau ke mana?” tanya Dodik karena David hendak keluar dari rumahnya.
David pun mendekati anak itu dan mengusap lembut kepalanya. “Kamu tunggu di sini, ya? Om akan mencari papa dan mamamu.” David memaksakan senyumannya. Kemudian dia pergi menuju perusahaan. Dagel pasti berada di ruangannya.