
Setelah kehilangan ingatannya, Amelia belum mengendarai mobil sekali pun. Namun, dia tidak merasa asing dengan setir yang kini dipegangnya. Dia pun memberanikan dirinya mengendarai mobil itu sendirian. Benar-benar seperti perkiraannya: Amelia berhasil mengendarai mobil itu dengan baik.
Sepanjang jalan mobil itu berjalan dengan baik. Rupanya Amelia adalah pengendara yang baik dulunya. Sampai Amelia melihat sebuah mobil yang berjalan berlawanan arah melaju di dekatnya. Meski mobil itu berjalan di arusnya, Amelia merasa seakan-akan mobil itu hendak menabraknya. Amelia pun bertingkah sendiri. Apalagi pikirannya semakin terganggu dengan bayangan-bayangan aneh. Seketika Amelia menabrakkan mobilnya ke pohon. Kepalanya sampai membentur setir.
Amelia terus diam dengan posisi menunduk. Setelah beberapa lama, dia pun mengangkat kepalanya. Rupanya dia menangis darah. Darah yang berasal dari keningnya bercampur dengan air dari matanya. Amelia tampak cemas. Dia bingung harus bagaimana. Dia pun keluar dari mobil itu untuk mencari sebuah taksi yang akan mengantarnya ke rumah. Dia pun pulang dengan meninggalkan mobilnya begitu saja di pinggir jalan. Keadaannya sangat kacau.
Sesampainya di rumah, Amelia melihat David di sana dengan kebingungan. Sepertinya laki-laki itu sedang mencari tasnya. Sayangnya benda itu tertinggal di dalam mobi tadi.
Saat David berbalik dan menemukan Amelia dalam keadaan sekacau itu, David terkejut. “Apa yang terjadi padamu?” tanyanya dengan langsung memegang pundak Amelia.
Tangisan Amelia semakin keras. Untunglah darah pada keningnya telah berhenti mengalir. Dia langsung melepaskan tangan David dari pundaknya.
“Jangan menyentuhku!” kata Amelia. Dia pun berjalan mundur beberapa langkah.
“Ka-kamu kenapa?” tanya David kebingungan.
“Aku bukan Amelia.”
Meski sudah tahu sebelumnya, hati David terasa lebih berat setelah mendengarnya langsung. Di malam pertamanya itu, dia menemukan tanda lahir di samping punggung perempuan ini. Dihilangkan atau tidak, Amelia tidak pernah memiliki tanda lahir di sana sebelumnya.
__ADS_1
“Sekarang aku tahu kenapa kamu begitu dingin padaku,” imbuh perempuan itu.
David mendekati perempuan itu. Saat perempuan itu mundur lagi, David langsung memeluk punggungnya agar tidak bisa mundur lagi. “Tidak apa-apa,” katanya menenangkan.
“Bagaimana mungkin tidak apa-apa? Aku Sofia, bukan Amelia. Perempuan yang sadar dua bulan lalu dari koma enam tahun lalu. Aku bukan kekasihmu dan Dodik bukan anakku!” tegas perempuan yang rupanya adalah Sofia sebenarnya.
“Tapi kamulah orang yang kunikahi. Dan bagaimana Dodik bisa bukan anakmu sedangkan kamu adalah istriku?” sahut David.
“Tapi yang kamu inginkan bukanlah aku dan yang kucintai bukanlah kamu ….”
“Meski begitu, kamu tetap harus bersamaku. Lia sudah meninggalkanku untuk menjaga kekasihmu bertahun-tahun. Karenamu aku kehilangan Liaku. Harusnya kamu bertanggung jawab untuk itu dengan tidak pergi dari sisiku,” tutur David.
“Lalu bagaimana dengan Dodik?” tanya Sofia.
“Biarkan tetap seperti yang dia ketahui sebelumnya: Rico adalah ayahnya dan Amelia adalah kamu. Mereka berdua sudah membuatnya seperti itu,” jawab David.
“Tapi kita tidak bisa menyembunyikan itu! Dia berhak tahu siapa orang tuanya!” tegas Sofia.
“Dia masih kecil sekarang. Itu akan menjadi tekanan besar baginya dan akan mengganggu pertumbuhannya. Tunggulah hingga dia dewasa. Tunggulah hingga dia berusia dua lima tahun. Kita katakan kebenarannya saat itu.”
__ADS_1
Kemudian David mendekati Sofia dan memeluknya lagi. Merasakan air mata perempuan itu benar-benar mengenai kulitnya, hati David semakin perih. Seandainya perempuan ini datang lebih cepat, maka tidak perlu ada yang kehilangan lagi, baik Rico atau David. Cukup enam tahun saja. Kemudian bersama-sama hidup berbahagia.
-TAMAT-
.
.
.
.
.
.
.
Pertanyaan yang mungkin ada di benak kalian: “Kalau Sofia selamat, lalu siapa yang terbakar di dalam mobil itu?”
__ADS_1
Sofia itu orang kaya. Meski dia bisa nyetir sendiri, enggak mungkin dia bakal sering-sering nyetir sendiri. Makanya ponselnya Sofia bisa ditemukan di sekitar mobil itu. Kalo Sofia ada di dalam mobil, ponselnya enggak bakal loncat sendiri. Intinya, dia bisa keluar sebelum mobil meledak, tapi terluka parah.