
Dua orang baru saja keluar dari restoran, karena itu Amelia membekap mulut sialan David agar tidak mengatakan hal-hal yang akan membuatnya malu.
Setelah dua orang tadi pergi, Amelia pun melepaskan tangannya. Kemudian dia bertanya, “Di mana mobilmu?”
David menunjuk mobil hitam yang terparkir di depan restoran. Amelia langsung menarik lengan David menuju mobil itu dan menyuruh David masuk ke sana, dirinya juga.
“Apa kita akan berangkat sekarang? Tapi kenapa kita duduk di kursi penumpang?” tanya David awalnya merasa heran. “Oh.” Tiba-tiba dia membekap mulutnya sendiri. Kemudian dia tersenyum jail. “Apa kau ingin melakukannya sekarang?” katanya menggoda.
Wajah Amelia menjadi serius. Dia tidak terpancing sedikit pun pada godaan David.
“Hentikan sikapmu yang seperti ini! Aku tahu kalau kau bukan orang yang banyak bicara,” tegas Amelia.
“Ayolah. Jangan terlalu tegang,” bujuk David. Dia berusaha memegang tangan Amelia, tetapi Amelia langsung menjauhkan tangannya.
__ADS_1
“Di antara kita memang harus tetap tegang seperti ini, karena aku tidak akan pernah lagi mau tidur denganmu. Aku menolak ajakanmu.” Amelia langsung mengembalikan kartu nama David.
Amelia hendak keluar dari mobil, tetapi David menahan tangannya saat akan membuka pintu.
“Berhentilah marah! Bukankah aku sudah meminta maaf sebelumnya?” protes David.
“Orang-orang mengira kalau aku adalah perempuan yang lugu, tapi aku tidak lugu, aku hanya berusaha bersikap baik. Aku memang bodoh dalam beberapa hal, tapi aku sangat mengerti tentang penghinaan. Aku bukan pelacur dan kau bukan pelangganku, karena itu aku marah. Kau memang meminta maaf padaku, tapi kau tidak pernah benar-benar menyesal kepadaku. Jika kau memang menyesal padaku, maka kau tidak akan mengatakan ‘ayo kita tidur bersama’ padaku, tetapi kau akan tetap diam dan menghilang dari jangkauanku.”
“Kesalahpahaman?” Amelia berdesah. Dia merasa bosan mendengar alasan seperti itu. “Antara aku dan kau bahkan tidak ada apa pun sampai harus menyebutnya ‘kita’. Jadi berhentilah bersikap seakan-akan kau baru pertama kali tidur dengan seorang perempuan dewasa, sampai kau harus terus menggangguku.”
“Memangnya kenapa kalau iya? Kenyataannya, malam itu kita sudah tidur bersama … antara kau dan aku … antara kita.”
“Tidur denganmu adalah penyesalan terbesarku. Jadi tolong, jangan pernah ungkit semua itu lagi. Lupakan semua itu! Karena kita tidak pernah tidur bersama.”
__ADS_1
David telah lelah berdebat dan mengalah kepada Amelia. Pernyataan Amelia baru saja membuatnya semakin kesal.
“Kenapa?!” tanyanya menyentak. “Apa kau akan bersikap lugu lagi dan bertingkah seolah-olah tidak pernah tidur bersama seorang laki-laki dewasa, lalu kau akan mengait laki-laki lainnya?” sindir David.
Untuk kesekian kalinya Amelia mendengar sendiri David merendahkannya. Sindiran itu membuatnya semakin yakin kalau memaafkan David akan menjadi kesalahan terbesarnya.
“Tentu saja. Kenapa tidak?” Amelia yang kesal menyetujui ucapan David. “Laki-laki biasanya lebih menyukai perempuan yang masih menyimpan keperawanannya. Tentu saja akan mudah bagiku untuk mengait mereka.”
“Jangan terlalu bermimpi! Kenyataannya kau hanya seorang pelayan. Laki-laki kaya, tampan, dan berpendidikan tidak akan mau terkait perempuan sepertimu,” hina David.
“Lalu kau?” Amelia tersenyum sinis. “Kau kaya, tampan, dan berpendidikan. Apa aku belum berhasil mengaitmu? Kau bahkan tahu kalau aku lebih dari sekadar pelayan.”
David kehabisan kata-kata. Dia terdiam. Menjawab Amelia secara sembarangan hanya akan menjatuhkan dirinya.
__ADS_1