
“DAVID!” teriak Amelia memanggil David yang berada jauh membelakanginya, tetapi David tidak menunjukkan reaksi.
“DAVID” teriak Amelia lebih keras, bahkan dengan menempelkan kedua tangannya di sekitar mulut. Namun, David masih tidak mendengarnya.
Amelia menggelengkan kepalanya berulang-ulang, kesal karena laki-laki itu belum juga menolehnya. Meski jarak mereka tidak dekat, jarak mereka juga tidak jauh. Tidak mungkin David tidak mendengarnya. Laki-laki itu memang sengaja.
Amelia menunduk untuk mengambil pasir dan menggulungnya agar menjadi bulatan. Namun, pasir itu kering sehingga usahanya sia-sia. Amelia pun pasrah dan melemparkan pasir itu begitu saja ke arah David.
“Heh!” desahnya sembari melempar. Sayangnya, lemparannya tidak sampai. Tentu saja pasir itu terlalu ringan untuk melawan udara sepanjang jaraknya dan David. Kini bukan hanya jarak jauh itu yang Amelia sadari, tetapi juga kebodohan yang dimilikinya. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir kalau pasir itu akan mengenai David.
Sekali lagi Amelia menunduk. Tangannya yang hampir menyentuh pasir tidak jadi. Tangannya beralih dengan menyentuh ember di dekatnya. Kemudian dia berlari ke arah David sembari mengangkat tangan yang memegang ember itu. “AR-AAAH!” Tanpa sengaja dia terjatuh.
“LIA!” teriak David. Dia terkejut saat berbalik menemukan Amelia bertelungkup di atas pasir. Dia bahkan tidak sempat menikmati rasa terkejutnya karena sebuah ember mengenai kepalanya. Dia pun berjalan cepat untuk membantu Amelia.
“Apa yang terjadi?” tanya David khawatir sembari membantu Amelia berdiri.
__ADS_1
Tatapan Amelia mengarah pada kepala David yang tertimbun pasir. Dia tertawa kecil. Meski dia terjatuh, lemparannya kena, entah meleset atau tidak.
“Kau tidak jatuh, tapi terus merengek. Sekarang kau jatuh justru tertawa,” kata David sembari menggelengkan kepala. Tingkah kekasihnya ini memang sering berbeda dari kebanyakan perempuan. Jika perempuan lain menggunakan kecerdasan mereka sebaik mungkin, si Amelia ini malah menimbunnya di dalam pasir. Meski begitu, mungkin itulah yang membuat David jatuh hati selama ini: kepada perempuan yang datang ke pesta dengan mengenakan gaun curian.
“Jadi kau mendengarnya?” Amelia menyipitkan matanya kepada David.
Sudah Amelia duga, meski jaraknya dengan David tidak dekat, bukan berarti jarak mereka jauh, tidak mungkin David tidak mendengar teriakannya.
“Apa?” David memasang tampang lugunya.
“Apa?” tanya David sekali lagi, tetapi Amelia tidak menjawabnya. Seketika David pun mencium mata kanan Amelia.
“David!” jerit Amelia karena sesuatu telah dicuri oleh David.
“Saat aku bertanya kau diam, tapi saat aku bertindak kau menjerit!” tegas David.
__ADS_1
“Kau tidak bertindak biasa. Kau telah mencuri sesuatu dariku!” Amelia lebih menegaskan.
“Bagaimana ini bisa disebut mencuri?” David berganti mencium mata kiri Amelia.
“David!” Amelia kembali menjerit.
“Saat aku bertanya, jelaskan dengan baik, atau aku akan bertindak,” ancam David. Dia kembali mendekatkan bibirnya kepada Amelia, tetapi Amelia menghalanginya dengan telapak tangan.
Amelia menggelengkan kepalanya sambil berdecak. “Ck ck ck. Kau memang selalu berbuat semaumu,” tegur Amelia.
David menarik tangan Amelia yang menyentuh bibirnya sehingga perempuan itu jatuh dalam pelukannya. Jarak antar wajah mereka sangat dekat. Hidung mereka hanya berjarak dua senti meter.
“Kau masih tidak menjawab?” tanya David sampai aroma mulutnya menabrak wajah Amelia.
Amelia tersenyum dengan sangat manis. “Inilah yang disebut mencuri: kau mengambil sesuatu tanpa seizin pemiliknya.” Tiba-tiba dia menempelkan telapak tangan kirinya pada dahi David dan mendorongnya sehingga laki-laki itu jatuh terjungkal tanpa membawanya.
__ADS_1