
Sejenak aku mengingatmu, puluhan panggilan yang enggan kujawab.
Kau masih sama seperti dulu yang selalu menimbulkan ragu. Keraguanku tak lantas meredam kecewa, malah menimbulkan pertanyaan, seperti apa posisiku dalam peta hidupmu?
Ibarat hujan yang tidak pernah paham sesedih apa payung ketika musim kemarau
Kau tidak pernah tahu bagaimana perasaanku ketika kau datang hanya saat kau butuh
Kemudian menghilang bersama usainya urusanmu
Siapa aku bagimu?
Dan seperti apa posisiku di dalam peta hatimu?
Aku tahu tak seharusnya aku menyesal karena telah mengenalmu, karena bagaimanapun, ibarat ketika memutuskan untuk berenang aku harus rela basah. Sama seperti sesuatu yang terjalan antara kau dan aku, ketika aku memutuskan memperjuangkanmu, aku harus menerima jika ada kegagalan di sana.
Tapi, sekali lagi, bagaimana sebenarnya posisiku dalam peta hidupmu?
Seandainya memang tidak boleh menyesali apa yang telah terjadi di masa lalu, setidaknya aku masih bisa merubah reaksiku terhadap sesuatu sepertimu
Salam sayang dari seseorang yang pernah berjuang tapi dikecewakan.
***
Setelah menata segalanya pasca tragedi berdarah bernama patah hati, akhirnya aku menemukan dirinya di sini. Kembali dengan segala rutunitasnya.
Cuti seminggu dengan alasan mengunjungi orang tua mungkin memang membuatnya bisa mengontrol segalanya.
Hari ini dia tampak lebih baik. Tersenyum dan bisa ikut bersenda gurau, bahkan tertawa bersama teman-teman lainnya. Meski beberapa kali kulihat diam-diam dia menyeka sudut mata setiap kali pembicaraan mengarah tentang pertunangan mantan kekasihnya. Erga.
Apa yang ada dibenak kalian jika ditinggal kekasih ketika lagi sayang-sayangnya? Kesal? Nangis? Sudah pasti!
Itulah yang dirasakan Kalila dua minggu yang lalu, hingga saat ini. Rasanya ingin aku menariknya dari sana kemudian memeluknya. Membiarkannya menangis di dalam dekapanku. Tapi, apalah daya. Aku tidak--belum--bisa melakukannya.
Kuhela napas yang terasa sesak, kemudian melangkah menuju meja lalu aku duduk di kursi di sebelah Kalila. Menyeruput jus jeruk miliknya setelah menyapa dirinya dan yang lainnya.
Kalila tampak kaget. Dia membetulkan posisi duduknya agar lebih menjauh dariku. Aku hanya tersenyum miris menyadari itu.
Cinta ini hanyalah cinta dalam diam.
"Kie, dari mana aja kamu?" tanya Sesil. Cewek berambut ikal berwarna cocacola yang duduk di depanku.
"Toilet," jawabku asal. Dari ekor mata kulihat Kalila melirikku sebelum membenarkan jilbab hitamnya.
__ADS_1
Namun rasanya aku sudah tidak mampu lagi berada dalam diam.
Kadang hati ingin sekali menyatakan. Setidaknya ditolak lebih baik, dari pada tidak pernah mengatakan sekali pun. Menimbang-nimbang hanya akan membuatku lebih jauh darinya, karena semua pertimbangan tidak pasti. Tidak ada yang pasti kecuali ketidakpastian itu sendiri.
Namanya Kalila Putri. Gadis paling cantik menurutku, dengan lesung di pipinya. Wajahnya sangat menawan. Dia adalah pemilik hatiku dan cinta pertamaku.
Awalnya aku hanya merasa ada yang berbeda setiap kali aku melihatnya. Melihat senyumnya. Kala itu, setahun yang lalu aku masih staf baru di kantor ini. Belum memiliki teman dekat, hanya beberapa yang saling sapa. Namun anehnya setiap kali aku melihat Kalila, rasanya aku tidak ingin sekali pun mengalihkan pandanganku. Aku hanya ingin terus menatap dan menatapnya.
Beberapa kali pekerjaanku bermasalah karena aku kurang fokus ketika melihat Kalila sedang tertawa bersama laki-laki lain. Saat itu lah baru aku tahu bahwa yang kurasakan ini adalah cinta.
Aku jatuh cinta.
Pada gadis cantik berkerudung dengan lesung di pipi. Gadis yang baru dua minggu kuketahui namanya. Gadis yang baru beberapa kali dengannya saling sapa. Gadis yabg ternyata dua tahun lebih tua dariku. Gadis yang tanpa dia sadari, senyumnya mengalihkan duniaku.
Namun, aku menyadarinya ketika Kalila sudah menjadi pacar Erga. Abang sepupuku.
Erga.
Laki-laki paling bodoh yang tiba-tiba saja meninggalkan Kalila dan bertunangan dengan gadis lain. Aku sempat marah dan berkeinginan besar menghajarnya habis-habisan ketika harus melihat Kalila menghabiskan begitu banyak air mata karena ulahnya dan pertunangan bodoh itu.
Namun, kurasa ini adalah satu sekempatan yang cukup untuk masuk ke dalam hidup Kalila.
Benar! Bukankah ini saatnya menyusup masuk ke sana?! Ke dalam hati itu. Mencoba tidak ada salahnya, bukan?
Andai aku yang jadi sedotan itu. Setidaknya aku menjadi fokus Kalila. Bisa merasakan sentuhannya. Kalau beruntung disentuh oleh bibirnya indahnya.
Ketika hari sudah sore dan waktunya untuk pulang. Kulihat Kalila berjalan ke lobi. Buru-buru aku mengejarnya.
"Kal," panggilku ketika sudah bisa mensejajari langkahnya.
Gadis itu menoleh.
"Pulang sama aku yuk?"
Kalila menatapku heran.
"Kita beda arah, Kie."
"Nggak apa-apa. Aku pengen nganterin, mau ya?"
"Tapi.... "
"Aku anter, ya." kataku memotong cepat. Sebelum Kalila menolak.
__ADS_1
Kalila diam. Mungkin sedang mempertimbangkan. Entah apa yang membuatnya berpikir lama, namun akhirnya mengangguk setuju.
Yes!
Menyusup masuk ke hati yang hancur itu sulit. Menata kembali setiap kepingannya butuh perjuangan. Itulah saat ini yang sedang aku lakukan. Semoga aku mampu memperbaiki hati yang telah hancur itu.
Motor melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan beraspal. Aku sengaja memperlambat semuanya. Ingin berlama-lama menikmati Kalila yang berada di boncenganku. Sesekali kulirik Kalila dari kaca spion. Jilbab hitamnya yang terbang di terpa angin membuatnya kelihatan sangat-sangat cantik.
Tidak ada pelukan di pinggang. Ah, belum.
Motor berhenti di depan pagar rumah petak lima pintu. Kalila turun dan mengucapkan terima kasih.
"Kal...."
"Ya," jawabnya ketika hendak berbalik.
"Besok aku jemput ya, boleh?"
Kalila menerjap. Mungkin bingung. Atau syok karena mau dijemput cowok setampan aku.
"Aku besok berangkat bareng Sesil," katanya menolak.
Seketika ada yang terjatuh dan pecah. Sekuat tenaga kukutip serpihan hati yang berserakan.
"Oke deh, mungkin lain kali." Aku tersenyum.
Susah payah mencoba menyembunyikan kekecewaan.
Dia tersenyum kikuk dan mengangguk.
"Kal," panggilku lagi sebelum dia berbalik.
Gadis itu menunggu.
"Bulan depan Erga di mutasi," kataku akhirnya. Aku tidak tahu entah kenapa aku harus mengatakan itu. Entah karena aku hanya ingin melihat reaksinya. Apa dia benar sudah bangkit dari tragedi patah hati itu setelah seminggu cuti menenangkan diri.
Kalila berucap, "Oh." Kemudian pandangannya sempat kosong beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyaku.
Dia kembali tersenyum. "Aku baik-baik aja, Kie."
Dia tidak sedang baik-baik saja. Aku tahu itu. Akhirnya aku hanya bisa pamit pulang sebelum timbul hasrat ingin memeluknya erat dan membisikkan lembut bahwa aku ada di sini untuknya. Selalu.
__ADS_1
Kulaju motorku pelan dengan perasaan hancur.