Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Harta yang Paling Berharga adalah Keluarga


__ADS_3

Ketika Lika membuka pintu rumahnya, dia melihat Nenek dan adiknya tengah berbincang serius di ruang tamu.


Perlahan Lika mendekati mereka dan mulai duduk di sofa.


"Maaf aku baru pulang..." Kata Lika menghentikan pembicaraan mereka.


"Kak...aku kan sudah lulus SMU, aku rencana mau kuliah di Jogja, tapi Nenek kurang setuju...ayo kak bujuk Nenek..." Rajuk Lia tiba-tiba.


"Nenek bukan tidak setuju, tapi nanti kamu tinggal dengan siapa? Walaupun Jogja adalah kampung halaman Nenek, tapi tetap saja nenek kuatir sama kamu...kamu kan anak perempuan..." Sergah Nenek.


"Tunggu...tunggu... Lia... memangnya kamu sudah ikut ujian masuk perguruan tinggi?" Tanya Lika.


"Sudah kak...kakak saja yang gak tau...sibuk terus sih dengan petualangan cinta yang tak berujung..." Kata Lia.


"Hush...jangan ngomong sembarangan kamu...!" Hardik Nenek.


"Lia...kita kan cuma bertiga, kalo kamu kuliah disana, dan kos disana, Nenek cuma akan tinggal berdua dengan Kakak...alangkah sepinya itu..." Ucap Lika.


"Makanya... kakak cepat dong menikah, supaya ramai....dan Nenek juga pasti akan senang..." Cetus Lia.


"Lia...kamu pikir menikah itu semudah membalikan telapak tangan?"


"Mau tunggu apa lagi? Kan kak Lika sudah ada calonnya..." Kata Lia. Lika membulatkan matanya.


"Siapa yang kau sebut calon itu?"


"Pak Ricky..." Jawab Lia.


"Lupakan itu...jangan kau katakan itu lagi...dia bukan calonku...kamu tau Lia...saat ini dia sedang ada bersama dengan mantan istrinya...berjuang dirumah sakit...walau hanya mantan...tapi mereka pernah menjadi keluarga...dan dalam hal ini aku yang harus mundur..." Ungkap Lika.


Sejenak ketiganya terdiam dengan pikirannya masing-masing. Nenek nampak menghela napas panjang.


"Jadi apa rencanamu?" Tanya Nenek.


"Kita juga adalah satu keluarga...kalau Lia ingin kuliah di Jogja...kita harus dukung...aku dan Nenek akan ikut Lia tinggal di Jogja..." Tegas Lika.


Nenek dan Lia nampak saling berpandangan.


"Kak? Apa kakak gak salah ngomong? Kita saja baru pindah di sini ... masakan kita mau pindah lagi?" Tanya Lia.


"Kamu ingat Lia...rumah ini pak Ricky yang membayarnya....jadi sebenarnya ini bukan milik kita...bahkan uang kompensasi penggusuran rumah lama masih ada di tangan kita...." Jelas Lika.


"Lalu. bagaimana dengan pekerjaan kakak?"


"Aku akan mengajukan pengunduran diri...mungkin itu lebih baik...mengingat aku dulu sudah pernah dapat surat peringatan dari kepala sekolah..."

__ADS_1


"Tapi kak...itu bukan upaya kakak kan untuk menghindar dari pak Ricky?" Tanya Lia. Lika terkesiap mendengar pertanyaan Lia.


"Apa maksudmu?"


"Kakak jangan pura-pura tegar di depan kami...aku dan Nenek sudah tau kok...bagaimana perasaan kakak..."


"Lia...Nenek....Keluarga adalah harta kita yang berharga...aku cuma punya kalian...begitu juga mbak Sarah...saat ini dia hanya punya Pak Ricky dan anak-anaknya...tanpa keluarga kita gak akan kuat untuk melewati hidup..."


"Lika...Nenek berharap kamu bisa menemukan kebahagiaanmu...cuma itu harapan Nenek...kalau memang kamu sudah putuskan untuk pindah ke Jogja, Nenek akan dukung...Nenek juga gak mau berpisah dengan cucu-cucu Nenek..." Ucap Nenek sambil memeluk Lika dan Lia.


"Maafin Lika ya Nek...belum bisa kasih kebahagiaan buat Nenek...belum bisa menemukan laki-laki yang Nenek harapkan...maaf Nek..." Tangis Lika dalam pelukan Nenek.


"Jangan bilang begitu Lika....Nenek sangat paham posisimu saat ini..."


************


Malam itu, sehabis makan malam bersama, Lika, Lia dan Nenek masuk ke kamar masing-masing.


Nenek biasanya tidur lebih awal, Lia asyik di depan laptopnya, sedangkan Lika membereskan buku-buku di mejanya.


Waktu menunjukan pukul 8.30 malam, masih sore bagi sebagian orang, setelah selesai dengan aktifitasnya, Lika mulai membaringkan tubuhnya.


Sesaat dia tertegun memandang ponselnya, ada 7 panggilan tak terjawab, nomor tak di kenal lagi-lagi muncul, dia teringat akan Bella, namun buru-buru menepisnya, Bella bahkan sudah berpamitan padanya.


Beberapa saat Lika berpikir, tiba-tiba ponselnya berdering lagi, cepat-cepat Lika mengangkat ponselnya.


"Halo...Bu...ini Kezia..." Ternyata suara Kezia di sebrang.


"Oh...Kezia...ibu kira siapa...ada apa nak?"


"Papa...tidak keluar-keluar dari ruangan Mama...aku dan Nando lapar Bu...kelamaan nunggu disini..." Ucap Kezia.


"Sekarang dimana kalian?"


"Aku lagi di lobby sama Nando...ini pinjam ponsel suster..."


"Baik...kamu tunggu disana ya...ibu datang bawa makanan untuk kalian...jangan kemana-mana!" Pesan Lika. Lalu dia menutup teleponnya.


Secepat kilat, Lika menyambar jaketnya dan helmnya, lalu dia keluar membawa motornya menuju ke rumah sakit.


Di tengah perjalanan, Lika berhenti di depan sebuah kedai ayam bakar, di samping kedai itu ada minimarket. Lika segera memarkirkan motornya di depan kedai itu.


Lika memesan 2 bungkus ayam bakar dengan nasi, tiba-tiba dia teringat akan Ricky, mungkin dia juga belum makan. Akhirnya Lika memesankan satu bungkus lagi untuk Ricky.


Setelah selesai, Lika mampir ke mini market yang ada di sebelah kedai, dia membeli beberapa botol air mineral dan susu, juga beberapa roti dan kue. Setelah membayarnya, Lika melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya di lobby rumah sakit, Lika melihat Kezia masih duduk menunggunya disana, sementara Nando terlihat tertidur di kursi panjang dengan kepalanya ada di pangkuan Kezia.


Perlahan, Lika menghampiri kedua anak itu.


"Kezia..." Panggil Lika lirih, Kezia menoleh, wajahnya terlihat lelah.


"Bu...untung ibu datang..." Kata Kezia dengan mata berbinar.


"Kamu lapar Nak...nih ibu bawa banyak makanan...bangunin Nando sebentar... makan dulu.."


Kezia membangunkan Nando dari tidurnya, setelah Nando bangun, ia mengerjapkan matanya dan tersenyum saat Lika ada di hadapannya.


"Bu Lika kok baru Dateng...disini aku capek Bu..." Keluh Nando.


"Anak-anak seperti kalian memang tidak seharusnya ada di rumah sakit...sudah kalian makan dulu...malam ini kalian nginep saja di tempat ibu... atau mau ibu antar pulang? Mbak Marni ada di rumah kan?" Tanya Lika.


"Ada Bu...tapi tadi aku telepon ke rumah gak diangkat-angkat sama mbak Mar..." Sahut Kezia sambil mengunyah makanannya.


Ketika Lika menemani Kezia dan Nando makan di lobby, tiba-tiba Ricky sudah berdiri di hadapannya, wajahnya nampak kusut.


"Pak Ricky...bagaimana kondisi mbak Sarah...?"


"Tadi dia sempat Anfal lagi...sekarang dia sedang istirahat...dokter sudah memberinya obat penenang..." Kata Ricky datar sambil beringsut duduk di sebelah Lika.


"Bu Lika...Papa juga belum makan dari tadi lho..." Cetus Nando polos.


"Tenang saja...Bu Lika juga sudah belikan Papa makanan kok..." Jawab Lika sambil memberikan bungkusan makanan kepada Ricky.


"Lika...trimakasih...kau mengingatku...tanpamu, aku tak tau bagaimana nasib anak-anakku..." Ucap Ricky sambil menatap mata Lika. Lika memalingkan wajahnya perlahan.


"Sudahlah Pak... sekarang makanlah dulu, isi perutmu supaya kau tetap punya tenaga untuk menjaga istrimu..."


"Mantan istri...bukan istri..." Tegas Ricky.


"Tapi dia tetap Mama dari Kezia dan Nando kan...pokoknya Kau tetap harus ada disampingnya, saat ini dia betul-betul butuh kehadiranmu..." Ungkap Lika.


"Bahkan anak-anak pun jadi terlantar karena aku...benar-benar aku adalah orang yang paling bodoh!" Sesal Ricky.


"Sementara anak-anak biar aku yang mengurusnya...pak Ricky fokus saja sama mbak Sarah...jangan kuatir...lagi pula mereka kan sudah liburan..." Hibur Lika.


"Trimakasih Lika...aku titip sementara anak-anakku...aku percaya padamu...kau boleh tinggal di rumahku...ada Mbak Marni yang akan membantumu..." Ucap Ricky.


"Oh...tidak...biar mereka saja yang menginap ditempatku..." Sergah Lika.


"Tapi semua perlengkapan dan pakaian mereka ada dirumah... kamu jangan sungkan, anggap saja rumahku adalah rumahmu juga...aku pasti akan senang..." Ujar Ricky.

__ADS_1


Lika terdiam, mau tidak mau memang dia harus kerumah Ricky malam ini, walau hanya mengambil pakaian dan perlengkapan.


'Aku selalu terikat dengan kedua anak ini...bagaimana aku akan meninggalkan mereka ke Jogja? Sampai detik ini pun mereka masih membutuhkanku...' Gumam Lika dalam hati.


__ADS_2