
Ricky menurunkan sebuah tas besar dari atas, Lika berjalan di belakangnya sambil menggendong Given.
"Kau akan tinggal berapa hari di Jakarta?" Tanya Nenek.
"Entahlah Nek...kalau semua sudah selesai....kami juga akan pulang..." Jawab Lika.
"Kakak yakin akan mengajak Kezia? Apa tidak ada masalah dengan sekolahnya?" Tanya Lia.
"Kezia memang harus ikut bersama kami...tenang saja, aku sudah ijin dengan gurunya...." Sahut Lika.
"Sudah siap sayang? Dimana Burhan...sejak tadi aku tidak melihatnya...." Tanya Ricky yang sudah menunggu di pintu depan.
"Burhan beru selesai mengecek mobil...mungkin sekarang dia sudah siap...." Jawab Lia. Ricky langsung melangkah ke arah mobilnya yang sudah terparkir di depan pintu utama.
"Mbok Narti...aku titip rumah ya....titip nenek juga...." Kata Lika.
"Iya Mbak...tenang saja...Mbak Lika dan Pak Ricky juga hati-hati..." Sahut Mbok Narti sambil memasukan beberapa botol susu ASI ke dalam tas bayi.
"Lia...jaga dirimu...." Lika beralih pada Lia yang masih berdiri di sampingnya.
"Iya kak..."
"Kau harus banyak-banyak menemani Nenek..." Sambung Lika.
"Beres Kak...kau jangan khawatir..."
"Nenek buyut...tante dan Mbok Narti...aku pamit ya..." Kata Kezia yang langsung menyalami mereka semua.
"Hati-hati sayang...titip salam buat Nando ya..." Ujar Nenek.
"Beres Nek...."
"Huh...rumah ini akan sepi selama beberapa hari..." Keluh Nenek.
Tin...tin...tin...
Suara klakson mobil sudah memanggil, Lika melirik jam dinding, dan dia langsung tersentak kaget.
"Wah...hampir terlambat ke Bandara!" Seru nya. Kemudian dia mengambil tas bayi yang sudah di siapkan Mbok Narti dan bergegas naik ke atas mobil yang sudah menyala di susul oleh Kezia.
"Kalian hati-hati di jalan....!" Seru Lia.
__ADS_1
"Burhan...kita berangkat sekarang...." Kata Lika. Tak lama mobil itu sudah bergerak dan berlalu meninggalkan rumah itu.
"Papa...apa kita akan bertemu Nando di Bandara?" Tanya Kezia.
"Iya sayang...kita akan bertemu Nando...kau pasti merindukannya kan...Papa juga merindukannya..." Sahut Ricky.
"Asyiik....aku sudah kangen sama dia....sekarang tiap berangkat sekolah jadi sepi, karena sudah tidak ada Nando bersama kita..." Ucap Kezia sedih.
"Tenang saja Kezia...Nando masih tetap adikmu...kapanpun kau mau kau masih bisa menghubunginya..." Kata Lika.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di bandara, di kursi tunggu, nampak seorang laki-laki yang duduk bersama dengan seorang anak laki-laki. Senyum cerah mewarnai Ricky, Lika dan Kezia.
"Nando....!" Panggil Lika.
Anak laki-laki itu menoleh, senyum memancar dari wajah tampannya, seketika dia berlari dan menghambur ke pelukan Ricky dan Lika.
"Papa...Ibu...aku kangen...." Kata Nando. Anak itu bergelayut manja di antara Ricky dan Lika.
"Kau tidak kangen padaku Nando?" Tanya Kezia cemberut, Nando menoleh dan langsung memeluk Kezia.
"Siapa bilang...aku kangen sama kecerewetan kakak!" Cetus Nando.
Martin yang sedari tadi memperhatikan perlahan mendekati mereka, kepalanya mengusap lembut kepala Nando. Wajahnya kelihatan mendung.
"Maafkan ayah...sudah memisahkan mu dari keluarga bahagia mu..." Ucap Martin. Nando berbalik dan memeluk Martin.
"Tapi aku bahagia bersama Ayah..."
"Pesawat kita sudah menunggu....sebaiknya kita cepat naik..." Kata Martin yang langsung berjalan menggandeng Nando. Ricky, Lika dan Kezia mengikutinya.
*************
Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih satu jam sudah membawa mereka sampai di kota jakarta, kemudian mereka menyewa sebuah mobil besar dari rental online. Tidak sampai menunggu lama, mobil yang mereka pesan sudah ada di parkiran bandara.
"Pastikan alamatnya tidak salah ya Pa..." Kata Lika saat mereka sudah naik ke atas mobil.
"Kau tenang saja...aku sudah memakai GPS...." Sahut Ricky.
Ricky dan Martin duduk di Jok depan, sedangkan Lika dan nando duduk di tengah, Kezia duduk di jok paling belakang sendirian. Sesekali terdengar suara bayi Given yang rewel minta susu.
"kalau kau menyusui bilang saja...nanti kita akan berhenti..." Kata Ricky yang khawatir Lika menyusui dengan sembarangan.
__ADS_1
"Kau tenang saja Pa...aku sudah memompa ASI ku di beberapa botol..." Jawab Lika.
"Given sudah bisa menyusu pakai dot?" Tanya Ricky heran.
"Sudah dong Pa...yang penting isinya kan tetap ASI..." Sahut Lika.
"Ah...kau pintar juga...istri siapa sih..." Puji Ricky.
"Sudahlah Ricky...kau hanya akan membuatku iri dengan perkataan mu itu... tak ku sangka...orang yang dulu terlihat menyedihkan kini sangat bahagia..." Sela Martin.
Perjalanan berkeliling mencari alamat bukan sesuatu yang mudah, beberapa kali mereka nyasar dan harus bertanya pada orang lain, hingga hari menjelang sore, mereka baru tiba di tujuan mereka.
Sebuah rumah yang lebih mirip seperti asrama atau panti sudah berdiri dengan megah di hadapan mereka, Sebuah rumah singgah tempat berkumpulnya para penderita kanker yang di kelola oleh sebuah yayasan. Kemudian merekapun masuk dan menemui kepala rumah singgah itu, seorang wanita setengah baya bernama Bu Ranti sudah duduk di hadapan mereka dengan senyum ramahnya.
"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Bu Ranti ramah.
"Kami ingin menemui... Sarah..." Jawab Martin.
"Ibu Sarah? Ibu Sarah pengidap kanker rahim itu kan?" Tanya Bu Ranti meyakinkan. Mereka semua menganggukkan kepalanya.
"Untuk apa kalian menemuinya? Bahkan untuk berbicara saja dia sudah tidak bisa....kondisinya benar-benar kritis...menurut Dokter dia hanya menunggu waktu saja..." Jelas Bu Ranti.
"Kami adalah orang-orang yang mengasihinya Bu...kami mau bertemu dengannya selagi masih ada waktu..." Ucap Lika.
"Ijinkan kami untuk menemuinya Bu...aku mohon..." Kata Martin sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Saat ini dia ada di ruang khusus, dia selalu menolak kalau akan di bawa ke rumah sakit... tadinya dia masih bisa bicara, namun satu bulan terakhir dia tidak dapat membuka mulutnya lagi...makan pun pakai selang yang hanya bisa di lalui makanan cair...kondisinya sungguh sangat memprihatinkan...." Jelas Bu Ranti lagi.
"Bolehkah sekarang kami menemuinya Bu?" Tanya Lika.
"Baiklah, aku akan mengantar kalian...." Bu Ranti segera berdiri dari duduknya dan berjalan menyusuri lorong dan menaiki tangga ke lantai dua, Ricky, Martin, Lika dan anak-anak mengikuti langkah Bu Ranti.
Hingga mereka sampai kesebuah ruangan yang terletak di pojok, perlahan Bu Ranti membuka pintu ruangan itu, dan nampaklah sesosok tubuh kurus, tidur terlentang dengan banyak selang di tubuhnya.
Martin segera berlari dan memeluk tubuh itu, tangis pecah dari laki-laki itu terdengar sangat memilukan hati. Ricky bergegas keluar dari ruangan itu, dia menyandarkan tubuhnya di tembok.
"Papa sayang...kau kenapa?" Tanya Lika sambil menggendong Given.
"Aku...aku jadi teringat masa lalu...." Ucapnya lirih.
*************
__ADS_1