
Aku menikah di usia yang cukup muda untuk ukuran laki-laki, 24 tahun. Kedua orang tuaku yang adalah seorang pebisnis di Taiwan menjodohkan aku dengan seorang wanita yang sangat cantik, Sarah Namanya.
Sarah adalah anak dari rekan bisnis orang tuaku, aku dan Sarah sama-sama anak tunggal, dan wajar bagi orang tua kami menjodohkan kami, karena suatu hari kami yang akan meneruskan usaha orang tua kami.
Walaupun awalnya menolak, tapi melihat Sarah yang begitu cantik dan seksi, sebagai pria normal, aku menerima pernikahan itu, Sarah pun melihat aku adalah seorang pria muda yang tampan dan di kenal baik di kalangan kolega keluarga kami.
Setelah kami menikah, kami pindah ke Indonesia, tepatnya di Jakarta, karena aku lebih tertarik mengembangkan bisnis di bidang properti, Indonesia adalah negara yang cocok untuk bisnis ini, mengingat penduduknya yang cukup padat.
Kehidupan awal pernikahan kami begitu manis, walaupun aku menyadari saat malam pertama, Sarah sudah tak perawan lagi, dan dia pun mengakui itu. Tidak masalah menurutku, aku belajar menerima dia apa adanya, asalkan dia bisa mencintai aku dengan sepenuh hatinya.
Sekitar dua bulan setelah pernikahan kami, Sarah hamil, hatiku sangat gembira karena aku akan mempunyai seorang anak darinya. Seperti wanita hamil pada umumnya, dia sering mual dan muntah, akupun sangat memanjakannya.
"Aku sangat ingin makan kwetiau....bisakah kau memberikannya padaku?" Pinta Sarah di suatu malam.
"Baiklah...aku akan mencarinya di restoran yang paling enak di kota ini..." Jawabku sambil membelai lembut rambutnya.
"Tidak! Aku ingin kau yang membuatnya...!" Rajuk Sarah.
"Aku? Kau Taukan aku tidak bisa masak...masakan ku tidak enak....nanti kau malah tidak mau memakannya..." Jawabku memberikan alasan.
"Aku tidak perduli masakan mu enak atau tidak, tapi aku tetap mau kwetiau buatan mu...!" Cetus Sarah.
Akhirnya aku bergegas pergi ke dapur, tidak ada bahan-bahan sama sekali, aku harus ke luar ke supermarket mencari bahan untuk membuat kwetiau.
Saat ku tengok di kamar, Sarah sudah tertidur. Ah, ini adalah kesempatanku untuk pergi ke luar mencari bahan-bahan yang aku butuhkan.
Dengan cepat dan sigap aku melajukan mobilku menembus kegelapan malam, aku ingin setelah istriku bangun dia sudah bisa menikmati kwetiau buatan ku. Aku menelepon Mama untuk menanyakan resep membuat kwetiau, untungnya Mamaku memberikan resepnya padaku.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat kwetiau, semuanya sudah siap di piring saji, aku langsung membawanya ke kamar, aku berharap Sarah senang memakan masakan ku yang sudah dengan susah payah aku membuatnya.
"Sayang...makanlah...kwetiau nya sudah jadi..." Bisik ku di telinga Sarah.
Sarah menggeliat dan membuka matanya perlahan, wajahnya antusias saat melihat kwetiau yang sudah tersaji di piring. Tangannya langsung menyambar piring yang ku bawa.
__ADS_1
"Terima kasih Ricky..." Dia tersenyum sambil mengecup pipiku.
Oh, rasanya begitu manis dan bahagia. Dia makan dengan begitu lahapnya, tidak sia-sia aku susah payah membuatkannya.
Selama kehamilan ini, Sarah walau manja dan sering menyusahkan karena permintaannya yang kadang aneh-aneh, tapi aku selalu senang bersamanya.
Aku seringkali mengajak Sarah ikut dalam pertemuan-pertemuan kolegaku, jujur aku sangat ingin memamerkan istri cantikku ini.
Sayangnya Sarah sering kali menolak ajakan ku, dia lebih suka di rumah, menonton TV atau pun pergi ke salon langganannya, dia lebih suka pegi shoping dengan teman-temannya dari pada denganku.
Demi kebahagiaannya aku mengalah, aku mencari seorang asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan di rumah, apalagi kehamilannya semakin besar, aku berusaha untuk membuatnya nyaman.
Ya, sejak pernikahanku, aku melarang Sarah untuk bekerja, walaupun bekerja di perusahaannya sendiri, aku ingin dia menjadi ibu rumah tangga yang baik, untuk aku dan anak-anakku kelak. Dia pun menyetujuinya. Kami sepakat asalkan aku bisa memenuhi semua kebutuhannya.
"Ricky...besok aku ada arisan di restoran di mall, jadi mungkin aku pulang agak malam..." Kata Sarah suatu hari.
"Aku akan menemanimu..." Sahutku.
"Jangan...aku tidak suka di kawal...aku hanya pergi dengan teman-teman sesama anggota arisan saja...masa kau tidak percaya..." Tukas Sarah.
"Apa kau lebih suka aku jadi wanita kuper yang tinggal di rumah saja?!" Rajuknya.
Aku langsung memeluk Sarah, sebenarnya bukan itu maksudku, aku juga ingin istriku itu bergaul dan mempunyai banyak relasi.
"Aku akan mengijinkanmu pergi...asal aku bersamamu..." Bisik ku lembut. Akhirnya Sarah pun menganggukkan kepalanya.
Karena harus menemani Sarah, terpaksa ku batalkan janji dengan rekan Bisnisku, aku lebih baik menemani istri yang bepergian dari pada mengurusi pekerjaan.
Saat Sarah bertemu dengan teman-temannya, dia tertawa dan ngobrol kesana-kemari, aku hanya duduk di pojokan, mengawasinya. Sebenarnya ini adalah hal yang paling membosankan. Tapi lagi-lagi demi kebahagiaan istriku.
Hingga kehamilan Sarah semakin membesar, perutnya sudah kelihatan sangat buncit.
Namun hobi shoping dan berkumpul dengan teman-temannya tidak kunjung reda, aku sangat mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
Karena terlalu sering menemaninya, Bisnisku mulai merosot, banyak proyek yang gagal, dengan terpaksa aku mengatur ketat keuanganku demi tetap berlangsungnya kehidupan kami.
"Ricky...mengapa kartu kredit yang kau berikan tidak bisa membayar saat aku makan bersama teman-temanku?" Tanya Sarah saat pulang dari sebuah restoran untuk berkumpul dengan teman-teman sosialitanya.
"Maaf...mungkin itu sudah over limit...dan banyak sekali tagihan kartu kredit yang harus aku bayar..." Jawabku.
Sarah menghempaskan tubuhnya kesal.
"Kau melarang ku bekerja tapi kau tidak bisa memenuhi kebutuhanku!" Cetusnya.
"Karena aku terlalu banyak menemanimu, banyak proyek yang gagal...aku juga harus menghemat pengeluaran ku...aku harap kau mengerti sayang..." Ucapku berusaha untuk menghiburnya.
"Jadi kau mau mengatakan kalau aku boros...begitu??"
"Bukan begitu...selama ini bukankah kau tau aku selalu menuruti keinginanmu? Sabarlah sebentar lagi sampai usahaku pulih..."
Lagi-lagi aku memeluknya dan membujuknya sedemikian rupa, sampai hatinya luluh.
"Kita fokus pada kelahiran anak kita saja sayang...sudah waktunya kau menghabiskan waktu di rumah..."
Sarah mulai bergelayut manja di pelukanku, momen ini yang membuat hatiku senang, istri yang menurut dan patuh adalah dambaan ku.
"Ricky...perutku tiba-tiba sakit...aduh...!" Tiba-tiba wajah Sarah menegang sambil memegang perutnya.
"Kau kenapa sayang?" Tanyaku cemas.
"Aku...aku....aaaaarrgh....sakit tiba-tiba...mungkin aku akan segera melahirkan Ricky...memang sudah bulannya..." Wajah Sarah berubah pucat.
Aku langsung panik, buru-buru aku menyambar tas bayi yang memang sudah di persiapkan sebelumnya.
Dengan kecepatan tinggi aku melajukan mobilku menembus kegelapan malam itu, berharap istriku dan bayiku akan baik-baik saja.
*********
__ADS_1
Hai Guys....Ini sudah masuk cerita dari sudut pandang Ricky...mohon maaf kalau terlalu banyak monolog sehingga mungkin agak membosankan...🙏🤗
Mohon tetap mendukung ya...