
Langit masih mendung. Aku masih bergelut dengan selimut dan kasur. Rasanya malas untuk turun dari tempat tidur kesayangan ini. Ditambah lagi perasaan sakit. Masih memikirkan kejadian semalam. Ah, nggak cowok banget kalau mellow cuma gara-gara ditolak sekali.
Wajar aja sih sebenarnya kalau ditolak. Mana ada cewek yang baru patah hati bisa segampang itu diantar jemput cowok lain. Apalagi cowok itu sepupu sang mantan. Huh.
Kalau aja aku sedikit lebih cepat dari Erga dulu, waktu mau deketin Kalila. Sayangnya si ******* Erga bener-bener *******. Bukannya dijagain, malah disia-siain. Sialan!
Dengan berat hati aku turun dari kasur dan bergegas membersihkan diri. Tak berapa lama aku keluar dari kamar mandi dan memilih pakaian kerjaku. Kupatut diri di cermin. Rapi. Penampilan oke. Tapi kenapa nasib nggak pernah oke. Pertama kali jatuh cinta sama mantan pacar sepupu. Sekalinya dideketin langsung ditolak. Sedih? Tak perlu ditanya lagi.
Tapi nggak mungkin aku patah semangat.
Dengan perasaan yang entah aku berangkat. Kulaju motor menyusuri aspal. Jarak kostan dengan kantor nggak terlalu jauh. Cuma butuh waktu lima belas menit. Apalagi sekarang jalanan di Medan nggak terlalu macet. Aku sampai di kantor lebih cepat dari biasanya
Pukul delapan kurang lima belas aku sudah sampai. Dari jauh kulihat Kalila sudah berdiri mengobrol dengan Wahyu di dekat meja resepsionis.
Wajahnya berbinar. Sial banget! Apa aku punya saingan baru?
"Kie." Seseorang menepuk bahuku.
Agak kaget aku menoleh dan mendapati Sesil memiringkan kepala.
"Apa?" tanyaku.
"Aku curiga sama kamu," ucapnya dengan nada aneh.
"Curiga apa?"
"Naksir Kalila, ya?"
Oh. Udah tau, ya?
"Nggak boleh?"
"Ya boleh aja. Cuma, kayaknya aneh deh." Sesil mengatakannya dengan nada yang masih entah sambil menggeleng. Menurutku dia yang aneh.
"Apanya yang aneh? Aku cowok. Tampan. Anehnya di mana?" Kesal nggak sih? Emangnya ada masalah apa kalau aku naksir Kalila.
"Bukan gitu. Kalila kan mantannya Erga..."
Oh. Jadi karena aku sepupunya Erga?
"Sil, sini!"
__ADS_1
Belum selesai obrolan kami, Sesil dipanggil Wahyu. Kulihat Kalila menatap ke arah kami. Sesil buru-buru pamit duluan.
***
Pekerjaan menggunung. File-file yang harus sudah selesai besok mengharuskanku mau tak mau lembur. Nasib jomblo tampan gini banget, ya.
Jangankan perhatian, sesekali buka sosial media aja nggak ada friend request.
Aku bangkit, tiba-tiba pengen ditemani secangkir kopi. Tak ada pacar, kopi pun jadilah.
Deg!
Itu Kalila! Lagi nyeduh kopi juga di pantry. Mimpi apa nyata ya?
"Hei."
Ia mendongak cantik. Tersenyum.
Eaa. Hatiku meleleh ke lantai.
"Lembur?"
Kok sama? Jangan-jangan jo...
"Pulangnya sama siapa nanti?"
Dia mikir cantik. Orang cantik mah bebas. Lagi mikir aja tetap cantik.
"Dijemput Erga!"
WHAAATTT???
"Erga?" Si ******* itu?
Kalila mengangguk.
Hatiku mencelos. Apa sih dalam pikiran cewek cantik ini? Kok bisa dia dijemput mantan pacar yang udah tunangan?
"Ooh." Aku kehabisan kata-kata. Seketika kepalaku berdenyut.
"Duluan ya, Kie." Kalila pamit.
__ADS_1
Aku mengangguk. Melihat punggung indahnya hilang di balik pintu.
Capek banget mikirin apa yang ada dalam kepala cantiknya sampai mau pulang bareng Erga. Cewek penghuni negara plus enam dua memang ada-ada aja pola pikirnya. Susah ditebak.
Di sini ada yang jomblo. Tampan. Nggak dilihat sedikitpun.
Nasib!
Tiba-tiba pengen hibernasi ke negara lain.
Makin lesu aku melangkah kembali ke kubikel.
Iseng-iseng buka facebook. Kalila sedang online.
Chat, nggak?
Kal
Oi
Udah selesai?
Sedikit lagi. Kenapa?
Nggak apa-apa. Cuma nanya aja. 😊
Oh
Aku menghembuskan napas. Lalu mengetik lagi.
*Kal
Ya
Mau jadi pacarku*? send.
Jantungku berdetak nggak menentu. Pesan dibaca sedetik kemudian.
Bingung mau ngobrol apalagi. Chat usai sampai di sini.
Kenapa aku nggak ada bakat deketin cewek sedikitpun, ya? Padahal ganteng!
__ADS_1