
Lika mengamati laptop yang ada di hadapannya, dia baru saja membuka email, banyak email masuk dari luar mengajukan permohonan sebagai guru, rupanya Pak Andi sudah mulai memasang iklan lowongan pekerjaan, dan kontak pribadinya adalah email milik Lika.
Mata Lika mengamati satu persatu email yang masuk, banyak sekali calon guru yang melamar di sekolah yang baru di bangunnya itu, semua CV yang masuk bagus-bagus, bahkan banyak di antara mereka yang lulusan dari luar negri. Senyum cerah tersungging dari bibirnya.
"Sayang....kau sedang apa? Dari tadi tidak keluar kamar...Nenek mencari mu..." Ricky tiba-tiba sudah ada di belakang Lika.
"Eh Papa...aku sedang mengecek email yang masuk Pa...Pak Andi profesional juga kerjanya, baru dia masukin iklan sudah banyak yang email..." Kata Lika.
"Itulah Pak Andi...makanya dari dulu aku sangat mempercayainya....dia sangat profesional dalam bekerja...ayo kau temui lah Nenek dulu...!" Seru Ricky.
"Iya..iya...titip Given ya Pa..." Lika segera meninggalkan kamarnya dan turun ke bawah menemui Nenek yang masih duduk di sofa menunggunya.
"Nek...kata Papa Ricky Nenek mencariku?" Tanya Lika. Nenek menoleh ke arah Lika yang baru datang.
"Lika...kau jangan terlalu sibuk mengurusi Given atau calon sekolah barumu...." Kata Nenek.
"Kenapa Nek...?" Tanya Lika.
"Nenek minta coba kau perhatikan Lia..."
"Kenapa Lia? Ada apa dengannya Nek?"
"Kemari lah mendekat Lika..." Nenek menepuk tempat kosong yang ada di sampingnya. Kemudian Lika segera duduk di samping Nenek.
"Lia kenapa Nek?" Tanya Lika penasaran.
"Sekarang jam berapa?" Tanya Nenek balik.
"Jam 7 malam Nek...."
"Lia belum pulang kuliah sejak pagi..." Gumam Nenek.
"Oh ya? Aku baru sadar Nek...maaf...hari ini aku agak banyak kerjaan...Nenek sudah telepon Lia?"
"Sudah....tapi bukan itu masalahnya..."
"Lalu?"
"Sejak Burhan datang kesini dan tinggal di sini...Nenek mencium gelagat aneh...Mereka sepertinya sudah....ah Nenek tidak berani berpikir terlalu jauh ..." Jelas Nenek. Wajahnya nampak gusar.
"Nek...Burhan baru tinggal sebentar di sini...belum juga satu bulan..." Kilah Lika.
"Makanya Nenek minta kau perhatikanlah adikmu...tadi siang Burhan meminta ijin katanya Lia menyuruhnya menjemputnya ke kampus, tapi sudah jam segini mereka belum datang juga...ini sudah terjadi beberapa kali..." Ungkap Nenek.
__ADS_1
"Baiklah Nek....nanti aku akan menanyakan hal ini pada Lia...biasanya dia terbuka padaku..." Jawab Lika.
"Nenek mohon mbok Narti jangan sampai mendengar ini, Nenek tidak enak...bukan apa-apa, walau bagaimana kan Burhan itu pria beristri...kau nasehati lah adikmu...jangan sampai masalah ini berlarut-larut..."
"Iya Nek....jangan kuatir...sekarang Nenek istirahat saja di kamar ya...jangan banyak pikiran..." Lika membantu Nenek menaiki kursi rodanya dan kemudian membantu mendorongnya hingga ke kamar Nenek.
************
Perkataan Nenek terngiang-ngiang di telinga Lika, tak sabar dia meraih ponselnya dan mulai menelepon Lia. Beberapa kali menelepon, tidak di angkat-angkat, Lika mulai gusar. Kemudian dia mencoba menelepon lagi untuk kesekian kalinya, baru di angkat.
"Halo..."
"Halo Kak...ada apa ya..."
"Kenapa jam segini kau belum balik?" Tanya Lika.
"Aku lagi di toko buku kak...ada beberapa buku yang aku cari..." Jawab Lia.
"Kenapa tadi tidak mengangkat teleponku??"
"Maaf Kak...tadi ponselku di silent..."
"Kenapa di silent? Memangnya malam hari kau ada kelas??"
"Kamu sama siapa Lia??"
"Ooh....ini Mas Burhan yang menemaniku..."
"Bukankah Burhan sudah dari siang menjemputmu?"
"Eh...I...iya kak...tadi macet di jalan...ini juga kita sudah mau balik..." Sahut Lia gugup.
"Lia...kau cepatlah pulang, Kakak mau bicara padamu..."
"Baik Kak..."
Kemudian Lika menutup teleponnya. Ricky yang sejak tadi memperhatikan Lika, mendekatinya sambil menggendong Given.
"Ada apa? Kelihatannya kau begitu gusar sayang..." Tanya Ricky. Lika menarik nafas panjang.
"Pa...sepertinya Lia mulai dekat dengan Burhan...tadi Nenek yang menceritakannya padaku..." Keluh Lika.
"Kalau dekat memangnya kenapa? Perasaan kan tidak bisa di sangkut pautkan dengan status sosial...walaupun Burhan anak Mbok Narti...tapi aku sudah menganggap Mbok Narti seperti ibuku sendiri..." Jawab Ricky.
__ADS_1
"Bukan itu masalahnya Pa...tapi...Burhan itu kan statusnya masih beristri...walaupun istrinya kini tinggal di kampung...mereka belum bercerai..." Tukas Lika.
"Hmm....berapa usia Lia?"
"Baru 20 tahun..."
"Wajar umur segitu mulai memilih pasangan hidup..."
"Tapi bukan dengan pria yang sudah beristri juga kali...memangnya di dunia ini sudah tidak ada perjaka lagi?!" Seru Lika.
"Kau lupa sayang....aku juga sudah tidak perjaka lagi.. bahkan aku lebih parah, sudah punya dua anak...." Ucap Ricky. Lika terkesiap mendengar ucapan Ricky.
"Pa...tapi...kau kan sudah bercerai dengan istrimu...kalau Burhan...lagi pula Lia itu masih sangat muda...aku tidak ingin dia terlalu cepat mengambil keputusan...." Ricky mendekati istrinya itu, setelah meletakan Given di boxnya karena sudah sejak tadi bayi itu tertidur.
"Mereka sudah dewasa sayang...kau jangan terbawa emosi...nanti aku akan menanyakan langsung pada Burhan...kau tanya juga pada Lia adikmu...selesai kan..." Lika menganggukkan kepalanya.
"Trimakasih Papa Ricky....kau memang suami yang bijaksana..." Puji Lika.
"Bagaimana? Masih mau lihat email atau memberiku jatah malam ini?" Tanya Ricky menyeringai.
"Ini masih sore Pa...aku mau menemui Lia dan bicara padanya..." Kilah Lika.
"Besok saja kau bicara dengannya, beri waktu dia untuk berpikir...jangan gegabah mengambil tindakan..." Ricky mulai memeluk Lika erat.
"Pa...ini masih sore...belum juga jam 8, nanti Given bangun bagaimana? Atau Nando yang minta di temani bermain, atau Kezia yang menanyakan PR..." Lika mengurai pelukan Ricky.
"Kan aku sudah membuat peraturan...kalau kita sedang sekamar dilarang ada yang mengganggu..." Ricky kembali mulai mendekati Lika. Lika berusaha menghindari suaminya.
"Itu kan peraturan kalau malam hari...tapi ini belum malam...malu Pa...anak-anak sudah mulai besar...." Tukas Lika.
"Anak-anak juga pasti mengeri kebutuhan Papanya...ayolah sayang...mumpung Given tidur...." Ricky berusaha menangkap Lika.
"Papa....tahan sedikit bisa kaan....tunggulah tiga jam lagi....aku janji deh..." Lika menunjukkan jari kelingkingnya.
"Aku mau sekarang....Haaap....ketangkep deh..." Ricky berhasil menangkap Lika di sudut ruang kamarnya.
"Ampuun Paa....kau ini yaa...." Lika memukul-mukul dada Ricky, namun pria itu sudah mengangkat Lika dan membaringkannya di tempat tidur.
"Sssst.....jangan berisik sayang....nanti Given bangun..." Bisik Ricky sambil mengecup pipi dan Bibir Lika. Kemudian Ricky mulai membuka kancing daster Lika.
Lika menyerah, tidak dapat membendung keinginan dan hasrat suaminya itu. Dia hanya tidur terlentang pasrah, membiarkan Ricky menggerayangi seluruh tubuhnya yang kini polos.
*********
__ADS_1