Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Jam


__ADS_3

Sial!


Cowok di depanku terkekeh memegangi perutnya sampai hampir menangis. Di sebelahnya, cewek itu melirikku kikuk.


Emang selucu itu, ya?


"Parah, banget!" komentarnya tanpa diminta.


"Udah?" tanyaku kesal.


Duta mengangkat satu tangannya. "Sorry," katanya. Mingkem detik itu juga.


Deswita berdehem. "Kalila yang pernah dibawa Erga ke rumah Tante Amilah, ya?"


Aku mengangguk.


"Cewek emang susah move on. Apalagi kalau move on dari cowok kayak Erga. Susahlah," komentar Deswita.


Aku diam.


Emang apa lebihnya Erga? Ba**sat, iya!


"Jadi... aku nggak punya harapan, gitu?"


Lagian kenapa sih ribet banget mau ngedeketin cewek. Jones banget. Padahal ganteng. Hiks.


"Hmmm." Deswita tampak berpikir. "Biasanya cewek itu suka sama cowok yang pantang nyerah, sih. Yang memperlakukan dia lebih gimana gitu," lanjutnya sambil melirik Duta, suaminya.


Oh jadi gitu?

__ADS_1


Cewek suka action terang-terangan? Trus kalau ditolak gimana?


"Usaha aja dulu," jawab Deswita seolah tau isi hatiku. Buseeet! Memang spesies yang bernama cewek, selain rumit, bisa baca pikiran juga, ya?


"Kamu..." katanya menggantung.


Aku mengangkat alis.


"Memang belum pernah pacaran, ya?" tanyanya.


Aku tertohok.


Duta terkekeh.


Minta ditinju memang si Duta ini. Boleh nggak sih, ninju abang sepupu sendiri?


Malu banget. Sumpah! Nyesel cerita ke dia.


Deswita tampak bingung. "Oh, ya?"


Kemudian satu jam berlalu dengan Duta ghibahin aku sama istrinya di depanku. Kurang ajar banget, kan?


Salah banget, emang kalau belum pernah pacaran di usiaku segini? dua puluh empat tahun? huft!


"Trus, Kalila umur berapa emang?"


"Dua puluh enam tahun."


"Nah, di sini masalahnya... mungkin, ya... cuma mungkin. Kalila nggak suka sama brondong."

__ADS_1


Masaaa?


Emang ada ya, undang-undang larangan pacaran sama yang lebih muda?


Kok makin curhat gini aku makin berasa frustasi, ya? Apa nggak ada yang bisa kasih masukan yang lebih manusiawi, gitu? Yang lebih ke mendukung dan bukannya bikin makin nggak percaya diri gini?


Dari pada makin pusing, aku putuskan untuk balik duluan. Meski agak keberatan, akhirnya si brengsek Duta membiarkan aku pulang. Mungkin dia masih belum puas menghina kejomloan akutku. Dasar brengsek!


- - -


Malam ini aku nggak bisa tidur. Sudah banyak posisi yang kucoba tapi tetap nggak bisa. Mungkin karena masih kepikiran Kalila. Oh Kalila.


Apa jatuh cinta segalau ini? Masih jatuh cinta aja udah gini-gini amat. Apa kabar nanti kalau putus. Jadian aja belum, udah ngomongin putus. Sekali jadi, takkan kulepas.


Lagi berperang dengan pikiran tentang Kalila, tiba-tiba gawaiku berdering. Satu chat dari Sesil tampak di layar.


***Lagi apa kie?


Kenapa?


Jutek banget. Tadinya mau lanjutin yang tadi. Tapi yaudah deh nggak jadi. bye mlm***


Belum sempat aku bales. Sesil udah offline. huft. Habis sudah kesabaranku.


Kudinginkan kepala dengan minum es kosong satu gelas. Kemudian berpikir santai, kalau harus dengan cara lain gimana, ya? Apa terang-terangan ungkapin perasaan?


Serasa ada lampu neon warna kuning menyala di atas kepala. Ide muncul begitu saja.


Baiklah. Mungkin memang cewek luluh dengan hal-hal seperti ini.

__ADS_1


Kutepuk pelan bantal. Sebelum menarik selimut kemudian memejamkan mata. Kulafal sebait doa. Semoga hari esok berjalan dengan lancar. Jodoh nggak jodoh, semoga Kalila menjadi jodohku.


__ADS_2