Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Ketika Cinta Bicara


__ADS_3

Bandung


Di kediaman Ricky, nampak Kezia dan Nando duduk bersama di meja makan menikmati makan malam bersama Ricky.


"Mbok Narti...Bu Sarah sudah di beri makan?" Tanya Ricky.


"Sudah pak...tadi sama susternya di antar ke kamar..."Jawab Mbok Narti.


Ricky menoleh ke arah Nando.


"Nando...tadi wali kelasmu menelepon, katanya sekarang prestasimu agak menurun dari yang lalu, kamu sering bengong dan kurang konsentrasi...ada apa denganmu?" Tanya Ricky.


"A...Aku...kurang paham pelajarannya .." Jawab Nando.


"Kurang paham bagaimana? Kan kau bisa bertanya kalo nggak ngerti...bahkan katanya kau jarang mengerjakan PR..." Tambah Ricky. Nando semakin menunduk.


"Aku...kangen sama Bu Lika Pa..." Sahut Nando lirih. Ricky menghela napas panjang.


"Iya pa...Aku juga...kenapa kita gak cari Bu Lika Pa..." Sambung Kezia.


"Sama...papa juga kangen...tapi, Papa gak tau kemana Bu Lika pergi...Papa bingung harus cari kemana, bahkan nomornya juga sudah tidak aktif lagi..." Keluh Ricky sedih.


Tiba-tiba Mbok Narti datang dengan tergopoh-gopoh.


"Pak...ibu gak mau makan...malah piring makannya di buang ke lantai...sudah seharian ini dia mogok makan..." Kata Mbok Narti.


"Buat ulah apa lagi dia...benar-benar menyusahkan!" Cetus Ricky.


"Katanya...kalo bukan bapak yang menyuapi, dia tidak akan makan..." Tambah Mbok Narti.


Ricky dan kedua anaknya langsung berdiri dan berjalan menuju ke kamar Sarah.


Sarah, wanita itu tidur dengan posisi membelakangi, di lantai kamarnya penuh dengan pecahan piring dan makanan yang berantakan, suster nampak sedang berusaha membersihkan lantai kamar itu.


"Sarah! Apalagi yang kau perbuat?" Pekik Ricky. Sarah diam tidak merespon sedikitpun.


"Ma...Mama kenapa?" Panggil Kezia.


"Kau hanya mementingkan perasaanmu sendiri...apakah kau tau bagaimana anak-anak kesusahan belajar dan sedikitpun kau tidak membantu, malah menyusahkan...padahal aku sudah mengijinkanmu tinggal disini...kalo begini terus lama-lama aku tak tahan!" Teriak Ricky.


Sarah perlahan mulai membalikan tubuhnya.


"Kau sungguh tak perduli padaku...malah tega membentakku seperti itu...!" Kata Sarah.


"Mengurus dirimu sendiri saja kau tidak mampu ...apalagi mengurus anak-anak...terserah....mau makan atau tidak aku tak perduli...!" Bentak Ricky kemudian keluar kamar itu dengan langkah yang cepat.

__ADS_1


Kezia dan Nando yang menyaksikan hanya menangis di pelukan mbok Narti.


Sementara Ricky terus berjalan menuju ke kamarnya dan menutup pintu dengan suara yang keras.


Di dalam kamar Ricky berteriak dan membanting segala yang ada di dekatnya.


Kezia dan Nando yang mulai ketakutan, di tuntun Mbok Narti menuju ruang tamu.


"Sudah...tenang sayang...jangan nangis lagi..." Hibur Mbok Narti sambil merengkuh kedua anak itu.


Sementara Sarah juga membuang apa yang ada di sekitarnya, dan mengusir susternya keluar dari kamarnya.


Suasana di rumah itu benar-benar kacau saat itu, mbok Narti menuju ke kamarnya dan mengambil ponselnya, lalu dia memencet nomor Lika.


"Halo..."


"Halo Mbak Lika...mbak...bapak ngamuk di kamar...dia marah besar hari ini..." Cerita mbok Narti.


"Ada apa mbok? Apa yang terjadi dengan mereka? Bagaimana kondisi anak-anak?" Tanya Lika panik.


"Panjang di ceritain mbak... mbak Lika kenapa gak menghubungi anak-anak mbak...tiap hari mereka nanyain mbak Lika terus..." Kata mbok Narti.


"Ya udah mbok...tolong jaga anak-anak ya...jangan tinggalin mereka, lalu awasi bapak...kalo ada apa-apa tolong hubungi saya lagi ya mbok..." Mohon Lika.


"Iya mbak Lika..."


"Iya mbak..."


**************


Lika memandang langit-langit kamarnya, tak habis pikir apa yang terjadi dengan Ricky dan anak-anaknya, sebelumnya Lika sempat berpikir, keluarga mereka baik-baik saja, namun sekarang apa yang di pikirkan malah terjadi sebaliknya.


Tok...tok....tok...


Suara pintu kamar Lika di ketuk, tak lama Nenek muncul dari balik pintu, kemudian menghampiri Lika dan duduk di sebelahnya.


"Nenek? Belum tidur Nek?" Tanya Lika.


"Belum Nak...tadi barusan ada telepon dari Pak Alan..." Sahut Nenek.


"Pak Alan ?...tumben dia telepon ke rumah, gak langsung telepon ke ponselku..." Gumam Lika.


"Orang pak Alan mau bicara dengan Nenek kok..." Ujar Nenek sambil senyum-senyum.


"Lho...ada urusan apa pak Alan dengan Nenek...?!" Tanya Lika heran.

__ADS_1


"Dia curhat sama Nenek..."


"Curhat apa Nek?"


"Katanya dia jatuh cinta sama seseorang, tapi seseorang itu tidak mencintai Pak Alan...akhirnya pak Alan hanya bisa mencintai dalam diam...terus, dia minta pendapat nenek..." Ucap Nenek. Lika melotot.


"Terus apa pendapat Nenek?"


"Nenek bilang...sebelum janur kuning bertengger...pak Alan masih punya kesempatan...untuk berjuang mendapatkan cintanya..." Ujar Nenek.


"Idiiih....sejak kapan nenek jadi sepuitis itu? Cinta itu tidak bisa dipaksakan Nek...kecuali kedua pihak sama-sama saling mencintai..." Jelas Lika.


"Ya sudah terserahmu lah....nenek cuma mau kasih tau itu saja kok..." Kata nenek yang kemudian langsung berdiri dan meninggalkan Lika yang masih terbengong seorang diri.


'Pak Alan jatuh cinta sama siapa ya...kok curhat sama Nenek? kenapa tidak cerita sama aku? Yang temannya kan aku bukan nenek...' Lika bertanya tanya dalam hatinya.


************


Pagi itu disekolah, Lika sedang membuat kuisioner untuk para siswa di depan layar komputer di ruangannya. Di sekolah ini, Lika memiliki ruangan sendiri yang khusus, berbeda waktu dia mengajar di SD, yang ruangannya jadi satu dengan guru yang lain, karena asyik mengetik dia tidak sadar ada seseorang yang sudah masuk ke ruangannya.


"Selamat pagi Bu Lika...ibu Malika..." Sapa seseorang yang membuat Lika terkejut.


"Oh...pagi pak Ferry...lengkap sekali memanggil nama saya...silahkan duduk pak..." Jawab Lika. Kemudian pak Ferry duduk dihadapan Lika.


Berbeda dengan sekolahnya yang dulu, setiap kali mau bertemu, kepala sekolah selalu memanggil Lika keruangannya, namun di sekolah ini, kepala sekolah yang justru datang ke ruangan Lika.


"Hmm...bu Lika...saya dengar dari laporan Pak Agus...mengenai Alex tempo hari..." Kata pak Ferry.


"Alex? Soal yang mana ya pak?" Tanya Lika tak mengerti.


"Katanya pada saat mendapat hukuman, ibu membebaskan Alex sehingga Alex semakin menentang gurunya...itu membuat pak Agus naik pitam, dan sekarang Alex dirumahkan...." Jelas pak Ferry.


"Hah? Alex dirumahkan? apa kesalahan Alex begitu fatal sehingga harus menjalani hukuman seperti itu pak...?" Tanya Lika lagi.


"Itulah sebabnya saya mau konsultasi dengan Bu Lika selaku konselor di sekolah ini..." Jawab pak Ferri.


"Pak...saya sudah kunjungi rumah Alex, dia anak yang baik...ibunya juga baik...ayahnya sudah meninggal saat Alex masih dalam kandungan...orang-orang mengira Alex adalah anak haram, itulah sebabnya Alex begitu marah kalau ada orang yang menyinggungnya... seharusnya sebagai guru...kita harus melihat dari sudut pandang yang obyektif...bukan malah menghakimi...Pak...seharusnya bapak sebagai kepala sekolah, berlaku bijak...jangan hanya murid yang disalahkan..." Jelas Lika.


"Maksud Bu Lika...gurunya yang salah?"


"Saya tidak bilang seperti itu lho pak...tapi bapak kan bisa menilai dari sudut pandang bapak..." Ujar Lika. Pak Ferry manggut-manggut.


"Baik Bu Lika... saya paham sekarang...nanti saya sendiri yang akan menyelesaikan persoalan ini dengan pak Agus dan Alex...trimakasih atas pencerahannya...Bu Lika luar biasa..." Puji Pak Ferry.


"Pak Ferry terlalu berlebihan....saya hanya berdiri sebagai konseling sekolah pak..." Ucap Lika.

__ADS_1


"Sungguh saya tidak menyesal menerima ibu mengajar di sekolah ini..." Kata Pak Ferry sambil beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


__ADS_2