
Lia datang tergopoh-gopoh dengan Leo di sebelahnya, wajahnya menunjukkan kekuatiran. Melihat Lia datang, Lika bergegas berdiri dari duduknya.
"Lia...aku minta tolong padamu...kau jaga Nenek disini...tunggu sampai dia siuman dan tunggu diagnosa dokter..." Kata Lika.
"Kakak mau kemana??" Tanya Lia.
"Aku mau kerumah....ada yang mau aku selidiki..." Sahut Lika.
"Tapi kak...nanti kalau pak Ricky mencarimu bagaimana? Apalagi kau sedang hamil begini...dia pasti marah besar kau pergi sendirian..." Sergah Lia.
"Lia...ini hal yang penting...kalau dia datang kemari...katakan saja aku pulang sebentar...nanti aku akan meneleponnya juga..." Ujar Lika yang langsung cabut meninggalkan Lia yang masih berdiri.
Lika memesan taksi online di depan rumah sakit, saat ini tujuannya cuma satu, mencari Sri, kemungkinan Sri masih ada di rumah, karena sejak tadi pagi Lika tidak melihatnya, bahkan tadi pakaian dan barangnya juga masih ada di rumah.
Tidak berapa lama Lika sudah sampai di depan rumahnya, suasana rumah nampak sepi, namun pintu depan ruang tamu terbuka sedikit, menandakan ada orang di dalam. Perlahan Lika membuka pintu depan, Sri nampak sedang mengepel lantai.
"Sri..?!" Panggil Lika, Sri menoleh dengan wajah terkejut.
"I..Ibu? Ibu sudah pulang? waktu saya datang di rumah kok sepi...pada kemana ya..."
"Sri...Kau tau Nenek jatuh di kamar mandi??" Tanya Lika dengan tatapan tajam ke arah Sri. Sri menundukkan kepalanya.
"Tidak Bu...memang Nenek jatuh ya?"
"Sri...Aku menemukan Nenek jatuh kira-kira pada jam 12 siang...tidak mungkin kau tidak tau...kau tidak mungkin pergi ke pasar seharian kan??" Desak Lika menyelidik. Sri mundur beberapa langkah.
"Be...betul Bu...saya tidak tau..." Sahut Sri makin menunduk. Tiba-tiba ada suara ponsel di meja, Sri hendak meraihnya, namun Lika dengan cepat lebih dulu mengambil ponsel tersebut.
"Kau tetaplah disitu...atau kau akan ku laporlan ke polisi kalau kau terbukti bersalah..." Ancam Lika sambil menunjuk ke arah Sri. Sri terlihat gemetaran. Lika mulai mengangkat telepon itu.
"Halo Sri...bagaimana? Sudah berhasil belum?" Tanya suara dari seberang. Lika tertegun seperti mengenal suara itu. Suara seorang laki-laki.
"Kalau kau berhasil... temui aku di Cafe di depan rumah majikan mu...aku tunggu sore ini jam 4... kalau kau tak datang...ku anggap kau tak memerlukan uang itu....!" Lika hendak menjawab, namun lidahnya seperti tercekat. Pandangannya beralih kepada Sri yang masih berdiri gemetaran.
"Halo...halo....Sri? Kau masih disitu??" Tanya orang di seberang telepon. Kemudian Lika segera mematikan teleponnya, kemudian membanting ponsel itu tepat di hadapan Sri. Sri makin gemetar ketakutan.
"Sri...sekarang juga cepat katakan padaku...siapa orang di telepon itu?? Apa maksudmu dengan semua ini?? Kalau kau jujur aku akan mengampuni mu...!" Berang Lika. Matanya melotot kearah Sri.
__ADS_1
"Bu...ma...maaf...maafkan saya Bu..." Ucap Sri sambil menangis.
"Ayo cepat katakan....atau sekarang juga aku akan telepon polisi..." Ancam Lika. Matanya sudah menahan emosi.
"Bu...sebenarnya...saya adalah pembantu di sebelah rumah Pak Ricky dulu waktu di Bandung, makanya saya tau mbok Narti walaupun mbok Narti tidak mengenal saya...saya sangat butuh uang untuk operasi tumor ibu saya..."
"Lalu...?"
"Saya tau permasalahan keluarga pak Ricky dulu...Makanya saya menawarkan diri untuk membantu Ibu Sarah keluar dari rumah sakit, Setelah Bapak menikah dengan Ibu Lika, saya di kenalkan dengan Pak Bayu...ternyata Pak Bayu punya misi yang sama dengan Ibu Sarah...yaitu menghancurkan keluarga kalian, satu persatu..." Jelas Sri. Lika terkejut dan membulatkan matanya, sepertinya ia tidak percaya, tapi Sri mengatakan jelas, bahkan sangat jelas.
"Jadi...yang menelepon barusan itu adalah Bayu??"
"I.. Iya Bu..."
"Lalu...siapa yang membuat Nenek jatuh di kamar mandi sampai pingsan???" Teriak Lika. Sri menangis.
"Maaf Bu...maaf...saya yang mendorong Nenek dari belakang hingga jatuh...Pak Bayu yang menyuruh saya..." Ungkap Sri sambil menangis dan menunduk.
"Keterlaluan kamu...kalau suami ku tau dia tak akan memaafkanmu!!" Dengus Lika.
"Maaf Bu...saya menyesal...sangat menyesal...saya akan terima jika ibu menghukum saya..." Ujar Sri yang kemudian berlutut di hadapan Lika.
"Kejam sekali mereka...aku tidak menyangka..." Gumam Lika. Ia melirik jam, waktu sudah pukul 15.45, sisa 15 menit untuk pergi ke Cafe menemui Bayu.
"Sri...kamu tunggu disini...biar aku yang akan menemui Bayu...." Kata Lika.
"Tapi Bu...nanti Pak Bayu akan menyakiti ibu...apalagi ibu sendirian...maafkan saya...saya menyesal telah gelap mata hanya karena sedang butuh uang...padahal keluarga ibu baik sekali dengan saya..." Sesal Sri sambil terus menangis.
"Sudahlah Sri...aku tak butuh air matamu...waktuku tidak banyak...aku harus menyelesaikan ini..." Ujar Lika sambil bergegas meninggalkan Sri yang masih berdiri menangis.
Lika menyebrang jalan raya di depan rumahnya, di sana ada Cafe yang baru berdiri beberapa Minggu, nampak beberapa pengunjung sedang menikmati makanan atau minuman di Cafe itu, Lika masuk kedalam dan ia melihat di sudut meja seorang laki-laki yang ia kenal sedang duduk membelakanginya. Perlahan Lika mendekati laki-laki itu.
"Bayu...!" Panggil Lika. Bayu menoleh dengan wajah yang kaget.
"Eh...Bu Lika..." Sahutnya gugup.
"Lagi nungguin siapa??" Tanya Lika.
__ADS_1
"Ah...tidak menunggu...cuma sekedar mampir...." Jawab Bayu. Lika kemudian duduk di depan Bayu.
"Bayu...sudah berapa lama kau bekerja dengan suamiku?" Tanya Lika dengan sorot mata yang tajam.
"Hmm....sudah lama juga...mungkin sekitar 3 tahun..." Kata Bayu. Dia tidak nampak curiga, sesekali dia melirik jam tangannya.
"Kenapa kau gelisah? Siapa yang kau tunggu?" Cecar Lika. Bayu mulai salah tingkah.
"Bu Lika...sepertinya aku harus pergi dari sini..." Ujar Bayu sambil langsung berdiri.
"Tunggu...!" Lika juga ikut berdiri.
"Ada apa lagi ya?" Tanya Bayu.
"Jangan pura-pura bodoh....aku sudah tau kedokmu....kau memperalat Sri untuk menghancurkan keluargaku..." Kata Lika tajam.
"Kata siapa??"
"Aku bukan orang bodoh seperti apa yang kau kira...sejak dia datang aku sudah curiga terhadapnya...aku juga tau...kau dalang dari jatuhnya Nenekku di kamar mandi...Sri yang jadi saksiku...dia sudah mengaku dengan mulutnya sendiri...." Ucap Lika. Bayu terdiam dan wajahnya langsung pucat pasi.
"Kau memang kejam...beruntung kau tidak jadi berjodoh denganku...bahkan suamiku yang telah mempercayakan semua pekerjaannya padamu...kau hancurkan dengan kedengkianmu...kau tusuk dia dari belakang! Kau memang manusia yang tidak punya hati...!" Cetus Lika dengan matanya yang mulai merah.
"Lika....asal kau tau...aku tidak rela kau bahagia.. seharusnya kau dan aku yang berbahagia...bukan dengan pak Ricky! Sarah juga sama denganku...dia tidak akan membiarkan mantan suaminya berbahagia dengan orang lain...itu sebabnya kami sepakat untuk menghancurkan kalian....menyakiti setiap anggota keluarga kalian...ini belum selesai...ingat itu!!" Bayu segera bergegas keluar dari Cafe.
Lika yang melihat Bayu mencoba kabur berusaha mencegahnya, dia mengejar langkah Bayu. Hingga sampailah dia di pinggir jalan raya yang cukup padat kendaraan.
"Hei pengecut!...aku belum selesai...!!" Teriak Lika. Dia masih berusaha mengejar Bayu. Bayu terus berjalan sampai di daerah yang mulai sepi, hari itu langit begitu gelap, mendung menggantung seperti mau hujan.
Napas Lika tersengal-sengal mengikuti langkah panjang Bayu, tiba-tiba Bayu membalikan tubuhnya dan langsung memegang tangan Lika, keras.
"Aaahhh...lepaskan!!" Jerit Lika. Bayu menutup mulut Lika dan membawanya ke tepi jalan yang ditumbuhi pohon bambu. Lika berusaha meronta sekuat tenaga.
Tiba-tiba ada sebuah tangan kokoh yang menariknya dan seketika langsung menonjok wajah Bayu dengan keras hingga laki-laki itu tersungkur. Darah segar mengalir dari mulut dan hidung Bayu. Ricky sudah berdiri di hadapan Bayu dengan tatapan penuh kemarahan.
***********
**Hai Readers...Mohon dukungan Like, vote and comment ya.... Terimakasih...🙏
__ADS_1
Karena Authornya pemalu dan tak pandai promosi 🤗😆😅**