
Lika mengerjapkan matanya ketika ia mendengar ponselnya berbunyi, sekilas ia melirik ka arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, sesi kedua seminar seharusnya sudah selesai, namun wati belum kembali ke kamar.
Lika melihat mbok Narti yang meneleponnya, kemudian dengan cepat Lika mengangkatnya.
"Halo mbok Narti, ada kabar apa? Anak-anak aman kan? Apa pak Ricky marah anak-anak pulang telat tadi?" Tanya Lika beruntun.
"Mm....mbak...mbak Lika di mana posisi sekarang?" Mbok Narti balik bertanya.
"Ya aku masih di hotel mbok...nanti jam 7 sesi terakhir acara ramah tamah antar guru dan kepala sekolah se jawa Bali..." Jawab Lika.
"Kalo mbok boleh tau...di hotel mana mbak?"
"Di hotel Cempaka mbok... kenapa? Mau ketemu aku? tapi aku akan sibuk dan mungkin gak ada waktu lagi, besok pagi-pagi aku harus kembali pulang...Nenekku sedang kurang sehat mbok..." Jelas Lika.
"Oh.. ya sudah deh...mbak Lika baik-baik jaga diri ya...Salam dari mbok buat nenek Darmi..." Kata Mbok Narti, kemudian telepon di tutup.
Tak berapa lama Wati masuk ke kamar. Dia agak terkejut melihat Lika yang sudah bangun dari tidurnya dan duduk di tepi ranjangnya.
"Lho...Bu Lika sudah bangun? Kata Pak Ferry Bu Lika ijin istirahat karena kelelahan...ayo bu kita siap-siap sesi terakhir...aku juga mau mandi dulu..." Ujar Wati sambil menyambar handuknya.
"Ya sudah, mandilah duluan bu...aku siap-siap dulu..." Sahut Lika.
Setelah mereka selesai semua, mereka segera keluar dari kamar dan berjalan menuju ballroom tempat seminar di adakan. Semua peserta seminar yang jumlahnya cukup banyak itu, nampak sebagian sudah berada di ruangan. Sesi terakhir ini adalah sesi ramah tamah sekalian makan malam prasmanan bersama.
Dari arah depan nampak Pak Ferry yang sudah terlebih dahulu sampai melambaikan tangannya ke arah mereka berdua, merekapun menghampiri Pak Ferry yang sudah kelihatan sangat rapi.
"Bu Lika sudah mendingan?" Tanya Pak Ferry.
"Sudah Pak...bahkan aku sempat tidur tadi..." Sahut Lika.
"Sepertinya acaranya akan di mulai sebentar lagi..." Cetus Wati.
"Ya sudah...yuk kita ambil makan duluan...aku juga sudah lapar..." kata Pak Ferry yang langsung menuju meja prasmanan. Lika dan Wati hanya tersenyum dan saling pandang melihat tingkah kepala sekolah yang rada gaul itu.
Sepanjang acara itu, mereka semua menikmati momen terakhir seminar dengan hati gembira, tak terkecuali Lika, dia mendapat beberapa teman baru dari berbagai sekolah untuk bisa saling bertukar pengalaman, Seminar ini juga adalah ajang menambah ilmu tentang psikologi anak khususnya dalam dunia pendidikan yang kini banyak diselewengkan dengan maraknya kasus-kasus yang banyak dan mengerikan di sosial media.
__ADS_1
Pukul 9 malam, acara sesi terakhir sudah selesai, para peserta ada yang langsung pulang ke lokal masing-masing, sebagian juga ada yang menginap karena jarak jauh. Pak ferry masih ngobrol dengan teman lamanya yang baru bertemu di acara ini. Lika dan wati berjalan menyusuri lorong hotel menuju ke kamar mereka, sambil berjalan mereka nampak ngobrol dan bercanda.
Setelah mereka hampir sampai di kamar mereka, di depan kamar nampak seseorang sedang menunggu di sana, untuk beberapa saat mereka tertegun dan menghentikan langkah mereka.
"Pak Ricky!!" Pekik Lika tertahan. Wati dengan heran menoleh kearahnya.
"Kau kenal dengannya bu?" Tanya Wati. Ricky yang menyadari kedatangan mereka berjalan mendekati mereka.
"Lika...aku di sini menunggu dua jam...akhirnya aku bisa melihatmu lagi..." Ucap Ricky. Wati yang menyadari keadaan langsung undur mohon diri.
"Bu Lika...aku ke kamar duluan ya..." Kata Wati sambil bergegas masuk ke dalam kamar. Tinggallah Lika dan Ricky yang diam membisu dalam keheningan.
"Ehem...dari mana kau tau aku ada disini? Apakah dari anak-anak?" Tanya Lika memecah kesunyian.
"Bukan...itu tidak penting... yang penting aku sudah menemukanmu...Lika, aku tau ini tugas dari sekolah barumu...tapi malam ini, aku sangat ingin bicara padamu...tolong jangan tolak aku..." Mohon Ricky.
"Iya pak...." Sahut Lika. Lidahnya terasa Kelu malam ini, masih tidak menyangka Ricky akan datang menemuinya.
"Ikutlah denganku Lika...malam ini...aku sangat merindukanmu...sangat..." Ucap Ricky sambil menggenggam tangan Lika, hangat. Kemudian Ricky membimbing Lika berjalan ke arah lobby dan keluar dari hotel itu menuju ke parkiran.
"Pak Ricky...bagaimana kabar mbak Sarah?" Tanya Lika.
"Tolong...please...jangan rusak suasana kita dengan Sarah...aku hanya mau kamu...kita Lika...apa kamu gak merindukanku Lika?" Lika terdiam, terlalu malu kalau ia harus mengakuinya.
"Pak Ricky... " Lika menghentikan ucapannya, walau sebenarnya hatinya pun sangat merindukan pria yang kini ada di sampingnya. Tiba-tiba Ricky menghentikan mobilnya. Tangannya menggenggam erat tangan Lika.
"Lika...kemarilah...mendekatlah...aku sangat ingin memelukmu....dari tadi aku sudah menahannya..." Ucap Ricky.
Perlahan Lika mendekat, kepalanya ia letakan di dada Ricky, dengan erat Ricky mendekap Lika, dia mencium wajah dan kepala Lika dengan penuh perasaan, Lika merasakan debaran jantung Ricky yang begitu kuat malam ini.
"Lika...aku merindukanmu....sangat merindukanmu...jangan lepaskan pelukanmu dariku...aku sungguh sangat mencintaimu Lika...aku mencintaimu..." Ucap Ricky sambil terus mendekap dan mencium wajah Lika.
Lika merasakan ada debaran aneh yang meluap dari dadanya, ada desiran hangat yang mengalir di seluruh tubuhnya, hingga pada saat Ricky mendekati wajahnya dan mencium dengan lembut bibirnya, Lika tidak bisa menolak, bahkan dia menikmatinya, menikmati bibir yang begitu hangat dan lembut, yang beberapa kali mengecup dan menciumnya dengan penuh perasaan.
"Sayang...aku sangat merindukanmu..." Bisik Ricky di telinga Lika. Lika merasa seluruh bulu kuduknya merinding.
__ADS_1
"Pak Ricky...jangan seperti ini..." Lika berusaha mengurai pelukan pria itu, namun Ricky malah lebih erat memeluk wanita itu.
"Jangan pergi lagi dariku sayang...aku sangat membutuhkanmu..." Ricky menatap mata Lika dengan penuh kedambaan.
"Pak Ricky...jangan terus seperti ini...nanti ada setan lewat...kita belum ada ikatan pernikahan..." Kata Lika polos. Namun Ricky kembali merengkuh wajah wanita itu di dadanya.
"Kau tidak tau betapa besar perasaan ini padamu Lika...aku sangat menginginkanmu...aku sangat ingin memilikimu...tidakkah kau juga demikian?" Tanya Ricky sambil terus menatap Lika dengan penuh kerinduan.
"Aku...aku... " Lika tergugup.
"Jangan bohongi perasaanmu padaku Lika...aku tau kau juga sangat merindukanku...kau juga mencintaiku bukan? Kezia yang mengatakan itu padaku..."
"Ah...bukan seperti itu..."
"Ingatkah kau Lika...kau juga pernah memeluk dan mencium bibirku...itu membuktikan di hatimu hanya ada aku...sekarang kau pasti menginginkannya lagi kan...aku akan memberikanmu malam ini...banyak...sampai kau tak akan melupakannya..." Ungkap Ricky.
Lalu Ricky kembali mencium bibir Lika, dengan lembut mengecupnya berkali-kali, dan tanpa sadar Lika juga membalas ciuman itu, dia mencium bibir Ricky beberapa kali, bibir yang selalu dia rindukan kehangatannya, sampai darahnya berdesir menahan perasaan yang selalu tersimpan di hatinya.
Tiba-tiba ponsel Ricky bergetar, Ricky tidak perduli, dia tetap melakukan aktifitasnya.
"Aku ingin segera menikahimu Lika...supaya aku bisa melakukan lebih dari ini...aku sudah tidak tahan..." Bisik Ricky.
"Tahan dulu pak...ini belum waktunya...lebih baik angkat ponselmu...siapa tau ada hal yang penting..." Sergah Lika sambil mengusap bibirnya dengan tissue.
"Ah...mengganggu saja!" Gerutu Ricky. Kemudian dia segera mengambil ponsel dari dalam sakunya, ternyata Mbok Narti yang meneleponnya.
"Halo mbok...ada apa? Mengganggu saja..."
"Pak...Ibu Sarah pingsan...dia terlalu banyak minum obat...tolong pak...tolong bawa bu Sarah ke rumah sakit...mulutnya sudah berbusa..." Kata mbok Narti panik.
Seketika Ricky dan Lika saling berpandangan.
"Ayo cepat pak! Tunggu apa lagi?"
**************
__ADS_1